Aksi Solidaritas Kelompok Reog di Temanggung, Support Reog Segara Diakui UNESCO

Aksi Solidaritas Kelompok Reog di Temanggung
Para anggota berbagai kelompok kesenian Reog dari berbagai penjuru Kabupaten Temanggung saat beratraksi di halaman Gedung Temanggung TV, Sabtu (16/4) malam. (foto:rizal ifan/temanggung ekpsres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM– Ratusan orang dari belasan kelompok kesenian Reog yang ada di Kabupaten Temanggung menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan mereka agar kesenian Reog Ponorogo segera memperoleh pengakuan internasional dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda milik Republik Indonesia.
Aksi solidaritas tersebut diisi dengan prosesi doa bersama sekaligus pementasan secara serentak di Halaman Gedung Temanggung TV pada Sabtu (16/4) malam dengan disaksikan oleh ribuan warga yang memadati lokasi.
Koordinator aksi solidaritas, Sutopo menyebut, belasan kelompok kesenian Reog tersebut berasal dari berbagai penjuru kecamatan di Kabupaten Temanggung.
Hal ini sebagai respon mereka guna mendesak agar Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek Republik Indonesia untuk terus mengawal agar Reog Ponorogo dapat diakui dunia internasional melalui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik Republik Indonesia.
Bukan tanpa alasan, selain mengukuhkan status dan pengakuan secara resmi, para seniman juga merasa gerah lantaran Malaysia juga tengah berusaha mengajukan klaim sebagai pemilik sah seni Reog.
“Kami meminta pemerintah dalam hal ini Kemendikbud dan Ristek RI untuk terus mengawal status Reog Ponorogo agar diakui dunia internasional. Jangan sampai kita kalah oleh Malaysia yang sebenarnya hanya mengadopsi budaya asli Indonesia. Bayangkan saya, kalau sampai ini terjadi, bagaimana nasib para penggiat seni Reog Ponorogo di tanah air. Maka dari itu, kami tidak akan pernah rela,” tegasnya.
Hal serupa disampaikan Teguh Wicoro (29), salah seorang pemain Reog yang tergabung dalam Paguyuban Singo Sindoro asal Kecamatan Kranggan.
Ia meminta kementerian terkait untuk segera merespon aspirasi dari para pemain Reog yang tersebar di berbagai penjuru daerah di Indonesia.
“Bagi saya, kesenian Reog Ponorogo sudah sangat mendarah daging. Sejak tahun 2007 saya sudah menjadi pemain Reog. Bahkan di desa saya, kelompok kesenian ini sudah terbentuk sejak tahun 1987. Dari eksistensi itu, kami kerap diundang mentas di banyak acara. Desakan kami sama, save Reog Ponorogo, save seni budaya Indonesia,” desaknya.
Menyikapi aksi tersebut, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Temanggung, Hanung Widanur mengaku bahwa pihak pemerintah akan senantiasa mendukung sekaligus menaungi para pelaku seni sebagai upaya melestarikan warisan seni budaya asli Indonesia, termasuk yang masih eksis di Kabupaten Temanggung.
Ia menyebut, Reog Ponorogo sudah mulai masuk di Temanggung sejak tahun 1970 an dan kini jumlah paguyubannya telah mencapai belasan kelompok.
“Mereka sampai sekarang masih eksis dengan sering mementaskan seni Reog Ponorogo meski masih dalam taraf lokal daerah. Namun, apapun bentuknya kita wajib terus menjaga seni budaya warisan bangsa, sebelum datang bangsa lain yang mencoba mengklaim. Taruh kata sekarang. Malaysia akan mengklaim Reog sebagai budaya mereka. Kalau mau fair, berdasar fakta sejarah yang ada, Reog di Negeri Jiran dibawa oleh para imigran asal Indonesia ratusan tahun silam. Memang sejarah dan bentuknya sama, tapi UNESCO wajib melihat cikal-bakal sebenarnya,” urainya. (riz)