Akhiri Polemik. Tugu Sa di Gunung Tidar Dibongkar, Dikembalikan Seperti Bangunan Semula…

Akhiri Polemik. Tugu Sa di Gunung Tidar Dibongkar, Dikembalikan Seperti Bangunan Semula...
RUWATAN. Sejumlah pecinta, pelestari, dan pemerhati Gunung Tidar menggelar slametan “Ruwat Rawat Tugu Sa (Sa Sa Sa)” di puncak Gunung Tidar Kota Magelang, kemarin sebagai tanda dimulainya normalisasi tugu tersebut. (foto : IST/magelang ekspres)

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Keberadaan Tugu Sa Sa Sa atau Sapa Saleh Seleh sempat menjadi polemik. Tugu legendaris yang berada di puncak Gunung Tidar Magelang itu sempat diubah bentuknya. Namun perubahan bentuk tersebut dipersoalkan oleh sejumlah seniman di Kota Magelang. Sebab, dianggap sudah keluar dari filosofi awalnya.

Kini, kontraversi itu sudah berakhir. Pemerintah Kota Magelang sepakat untuk mengembalikan bentuk Tugu Sa Sa Sa (Tuga Sa) seperti semula.

Pemkot pun menggandeng seniman, pemerhati sejarah serta masyarakat untuk mengembalikan bangunan tugu tersebut seperti semula.

Awalnya, Tugu Sa Sa Sa direnovasi dengan ukuran lebih tinggi dibanding sebelumnya. Namun di titik teratas tetap ditampilkan huruf jawa “Sa” untuk mempertahankan ciri khasnya.

Tugu yang sebelumnya bercat putih, kemudian dikelilingi dengan pagar warna hijau sekarang tampak dengan lapisan marmer berwarna kecokelatan. Jika sebelumnya berbentuk segi empat kini Tugu Sa berbentuk lingkaran.

Sesuai kesepakatan tugu tersebut dibongkar dan dibangun kembali seperti bentuk semula. Diawali dengan slametan “Ruwat Rawat Tugu Sa (Sa Sa Sa)” pada Rabu (12/1). Kegiatan ini diikuti oleh beberapa komunitas, seperti Patembayan Jawa Dwipa, Vira Nagari Nusantara, dan sejumlah tamu dari Salatiga, Jogja, Temanggung, Klaten, Boyolali, dan lainnya. Mereka sangat peduli dengan Gunung Tidar ini

Koordinator ruwatan, Agung Begawan Prabu mengatakan, pihaknya merasa bersyukur polemik terkait perubahan wujud Tugu Sa sekarang sudah selesai dengan keputusan bentuk Tugu Sa Sa Sa dikembalikan seperti semula. Sebelumnya, Tugu Sa direnovasi oleh sekelompok warga dari Tulungagung, Jawa Timur.

Slametan diawali dengan kirab dari pintu masuk Gunung Tidar menuju puncak sambil membawa aneka pisungsung. Di antaranya tumpeng cagak gunung, tumpeng rombyong, ingkung, buah-buahan, sayuran, hasil bumi, dan lainnya.

Slametan ini, kata Prabu, sekaligus menandai dimulainya proses pembongkaran tugu. Dalam beberapa waktu ke depan wujud Tugu Sa akan dikembalikan seperti semula, meski tidak sama persis. Hal ini sesuai dengan kesepakatan bersama saat FGD, beberapa waktu lalu.

“Kegiatan ini juga sekaligus pesan kepada generasi muda agar peduli terhadap peninggalan pendahulu kita. Pendahulu tidak harus nenek moyang yang jauh, tapi yang terdekat saja, seperti Tugu Sa Sa Sa yang penuh nilai sejarah dan filosofi ini,” jelasnya.

Disebutkan, Tugu Sa Sa Sa ini merupakan peninggalan yang menjadi ikon penting bagi Kota Magelang. Oleh karena itu, sudah seharusnya dapat dijaga bersama agar tetap lestari.

Kepala DLH Kota Magelang, Otros menegaskan bahwa pemugaran Tugu Sa Sa Sa ditargetkan tuntas Februari 2022. Ia memastikan proses pemugaran tidak sampai merusak konstruksi bangunan yang lama.

”Dari hasil diskusi ini sudah jelas, masyarakat menginginkan bentuk Tugu Sa Sa Sa dikembalikan ke seperti semula. Saya juga mengajak teman-teman semua untuk bisa ikut mengontrol proses pemugaran ini,” pungkasnya. (wid)