92 Mata Air di Kabupaten Magelang Turun Debit, 14 Mati

KONSERVASI. Tanam bibit dan tebar benih ikan di Grojogan Kapuhan dalam rangka konservasi kawasan Merapi dan Merbabu.
KONSERVASI. Tanam bibit dan tebar benih ikan di Grojogan Kapuhan dalam rangka konservasi kawasan Merapi dan Merbabu.

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Konservasi penghijauan penanaman bibit pohon di kawasan Merbabu Merapi berpengaruh terhadap keberadaan mata air, khususnya mata air di kawasan tersebut. Dosen Konsultan Air AKA TIRTA Magelang, Awaludin Setyoaji, mengatakan, selama lima tahun ini dirinya meneliti 300 mata air di Kabupaten Magelang,

“Dari 300 mata air, 92 mata air mengalami menurun debit, 14 mata air mati, dan sisanya yang mengalami peningkatan debit adalah hasil dari konservasi penanaman bibit pohon, termasuk di kawasan Merbabu dan Merapi ini. Saya juga tergabung di Forum Merapi Merbabu Hijau, berharap masyarakat termasuk pengusaha bergerak turut peduli terhadap lingkungan,” ucap Awaludin Setyoaji,

Salah satu perusahaan telah rutin melakukan penanaman bibit pohon di kawasan Merbabu Merapi adalah Perusahaan Green Leaf dari Surabaya.

“Kami suport 5-10 juta rupiah untuk konservasi dan sudah dilaksanakan rutin selama tiga tahun ini. Terakhir dilaksanakan pada Minggu (13/6/2021) kemarin, bertempat di Grojogan Kapuhan Sawangan Magelang, yang juga dilaksanakan oleh alumni SMPN 1 Sleman, kebetulan saya juga alumni sekolah tersebut. Bersama dengan relawan peduli lingkungan  konservasi Forum Merapi Merbabu Hijau,” terang perwakilan Perusahaan Green Leaf Surabaya, Tri Subiyanto.

Sementara dari Aktifis Forum Merapi Merbabu Hijau, Jatmiko, mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan konservasi tersebut.

“Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang terlibat atas segala support dan pendampinganya. Termasuk rekan-rekan pembibitan di Salaman  atas support bibit buahnya . Sangat bermanfaat bagi keseimbangan alam . Terimakasih kepada Bapak Dewan Grengseng Pamuji  atas support bibit ikannya, yang ditebar di Grojogan Kapuhan.

Tak lupa kami haturkan terimakasih kepada BPTH jawa tengah dan BP DAS SOP atas kerjasamanya selama ini. Hal ini mengangkat fenomena ekowisata, dengan prinsip merawat bukan merusak,” tutur Jatmiko.(cha)

Artikel Menarik Lainnya :  Limbah Tahu Mampu Diolah Jadi Biogas di Tidar Campur