6 Ribu Petani Tembakau di Temanggung Turun Gunung Menyambut Panen Raya

Ribuan petani tembakau dan kopi melakukan doa bersama di Alun-alun Temanggung, Minggu (21/8). (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
Ribuan petani tembakau dan kopi melakukan doa bersama di Alun-alun Temanggung, Minggu (21/8). (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Tidak kurang dari 5.000 hingga 6.000 petani tembakau di Kabupaten Temanggung turun gunung. Mereka melakukan doa bersama menyambut datangnya musim panen raya di Alun-alun Temanggung, Minggu (21/8).

Ketua Panitia Wiwit Tembakau dan Panen Kopi 2022 Sutopo mengatakan, tembakau dan kopi merupakan dua hasil bumi andalan bagi petani di Temanggung. Memasuki bulan Agustus ini petani tembakau akan memulai panen raya, sedangkan petani kopi sudah mulai petik raya.

“Bulan Agustus ini menjadi bulan yang sangat ditunggu oleh para petani, dengan harapan hasil panen melimpah sehingga petani diberi rezeki yang banyak,” katanya usai tradisi wiwit tembakau dan panen kopi.

Ia menyebutkan, setidaknya ada 1.050 tumpeng dan ingkung yang dibawa oleh petani, baik itu petani temakau maupun petani kopi dari 20 kecamatan yang ada di seluruh penjuru Temanggung.

Menurutnya, tumpeng dan ingkung ayam jantan ini sebagai salah satu sarana untuk mengucapkan rasa syukur petani terhadap nikmat dan karunia Allah SWT yang telah memberikan keselamatan dan rezeki yang melimpah bagi petani.

“Jika satu tumpeng dan ingkung ayam itu dibawa oleh lima sampai enam orang maka jumlah petani yang mengikuti tradisi ini kurang lebih antara 5.000 hingga 6.000 petani,” jelasnya.

Dalam tradisi dan doa bersama ini tidak lain meminta kepada Allah SWT agar saat panen raya tembakau dan kopi mendatang, petani bisa mendapatkan hasil yang bagus, diberi cuaca yang mendukung dan harga yang sesuai dengan harapan petani.

Sehingga lanjutnya, petani bisa lebih semangat dalam mengolah dan meningkatkan hasil pertanian,dengan demikian kesjahteraan petanipun secara otomatis akan meningkat.

“Ini juga sebagai salah sau ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, selama ini masyarakat diberi kesehatan terbebas dari belenggu Covid-19. Kami memohon kepada Allah SWt dengan tidak meninggalkan budaya adi luhung masyarakat pertanian Temanggung,” katanya.

Parmidi salah satu petani Desa Petarangan Kecamatan Kledung menuturkan, selama dua tahun terakhir ini, petani tembakau khususnya diberi cobaan dengan harga jual tembakau yang murah.

Dengan kembalinya digelar tradisi wiwit tembakau dan panen kopi ini, kedepan saat petani mulai panen raya, harga jual tembakau akan semakin membaik, selain itu cuaca juga mendukung, sehingga kualitas tembakau akan semakin bagus.

“Harapan petani sebenarnya tidak banyak, diberi keselamatan dan kesehatan saat panen raya, dan harga jual tembakau bisa semakin bagus tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” harapnya. (set)