BOR RS Kota Magelang Masih di Atas 80 %

TINGGI. PPKM Darurat yang sudah digelar selama tiga pekan di Kota Magelang belum mampu menurunkan BOR rumah sakit rujukan. (foto : wiwid arif/magelang ekspre)
TINGGI. PPKM Darurat yang sudah digelar selama tiga pekan di Kota Magelang belum mampu menurunkan BOR rumah sakit rujukan. (foto : wiwid arif/magelang ekspre)

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Bed occupancy rate (BOR) rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 di Kota Magelang masih di atas 80 persen. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, tingkat keterisian rumah sakit per 21 Juli 2021 mencapai 81,8 persen.

Jika dibandingkan dengan sebelum pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, BOR hanya berkurang sekitar 1 persen saja.

Sementara angka positive rate penyebaran Covid-19 juga masih tinggi. Tercatat dalam sehari, Dinkes menemukan 133 kasus baru.

Demikian halnya dengan angka kematian menjadi 190 kasus untuk terkonfirmasi positif Covid-19, 62 probable, dan 42 suspek, sehingga total kematian di Kota Magelang mencapai 294 kasus.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Magelang, dr Intan Suryahati mengatakan, dari 4 RS rujukan, andil besar peningkatan BOR adalah penduduk yang berasal dari luar Kota Magelang.

Dia menyebutkan di RSUD Tidar saat ini merawat 30 pasien dari Kota Magelang dan 104 pasien lainnya berasal dari luar Kota Magelang. Kemudian, RST dr Soedjono, 21 orang dirawat merupakan penduduk Kota Magelang, sedangkan 114 orang dari luar kota.

Selanjutnya, RSJP Prof Dr Soerojo merawat 31 warga Kota Magelang, 125 pasien di antaranya berasal dari luar. Hanya di RSUD Budi Rahayu saja pasien sebagian besar adalah warga Kota Magelang dengan 31 orang dan 17 pasien dari luar kota.

Intan menambahkan, saat ini ketersediaan tempat tidur isolasi di 4 RS rujukan cenderung menipis. Menurutnya, tiga pekan penerapan PPKM darurat dinilai belum signifikan menurunkan kasus maupun BOR rumah sakit.

Meski demikian, dia memastikan jika penyebab lonjakan kasus tidak semata karena penularan yang tinggi. Sebab, pihaknya juga terus menambah testing.

”Pengaruh besar karena testing yang kami lakukan juga sangat banyak mencapai 1.487 persen testing PCR tiap pekan dari standard WHO,” katanya.

Artikel Menarik Lainnya :  Hadapi Lonjakan Covid-19, GOR Purworejo Disiapkan untuk Isoman Terpusat

Menurut dia, standard WHO di Kota Magelang mematok 112 spesimen dikirim ke laboratorium tiap pekannya. Namun, Kota Magelang mampu meningkatkan testing hingga 1.665 spesimen per pekan.

”Dari angka itu positive rate-nya hanya 15 persen. Belum mencapai 50 persen penularannya. Kemudian jumlah yang sembuh tercatat 3.885 orang,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Magelang, Joko Budiyono menyebut jika pelaksanaan PPKM darurat dan PPKM level 4 selama ini di Kota Magelang sukses untuk menurunkan mobilitas warganya. Akan tetapi, Covid-19 dengan varian delta ini punya tingkat penularan yang lebih tinggi, sehingga sangat sukar dikendalikan.

”Walaupun mobilitas warga sudah turun, tapi varian delta ini penyebarannya sangat cepat dan sangat tinggi. Untuk itu, diperlukan lebih dari sekadar kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan mematuhi anjuran pemerintah terkait PPKM level 4 ini,” ujarnya. (wid)