Warga Muhammadiyah Diminta Shalat Idul Adha di Rumah

PLENO. Rapat pleno secara daring, 200 perwakilan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kabupaten Magelang.
PLENO. Rapat pleno secara daring, 200 perwakilan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kabupaten Magelang.

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Terkait dengan pelaksanaan dengan shalat Idul Adha, warga Muhammadiyah diminta melaksanakan salat Idul Adha di rumah bersama keluarga. Cara ini dinilai lebih aman, di tengah ancaman bahaya Covid-19.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang Jumari menyebut, Idul Adha tahun ini jatuh 20 Juli. Bertepatan dengan hari terakhir pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat wilayah Jawa-Bali. Maka sebaiknya, tidak membuat kerumanan.

“Takbir keliling, salat di masjid, di lapangan, atau di fasilitas umum ditiadakan. Salatnya di rumah saja, dengan keluarga yang terjamin kesehatannya,” ucap Jumari dalam rapat pleno secara daring, diikuti sekitar 200 perwakilan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kabupaten Magelang, Rabu, (7/7/2021).

Meski salat di rumah masing-masing, protokol kesehatan tetap dijaga. Hal ini demi keselamatan bersama. Salatnya boleh memakai masker. Tata cara shalat Id di rumah juga tidak berbeda dengan pelaksanaan di lapangan. Jamaahnya minimal dua orang.

“Shalatnya 2 rakaat. Rakaat pertama 7 kali takbir, rakaat kedua 5 kali takbir. Setelah selesai salat, imam memberikan kutbah,” paparnya.

Jumari menjawab bahwa hukum salat Id adalah sunnah. Sehingga dalam kondisi seperti itu, tidak melaksanakan pun tidak mengapa. Termasuk jika dalam keluarga tersebut tidak ada laki-laki sebagai imam

Menurut Jumari, warga Muhammadiyah harus mendukung upaya pemerintah dalam menghentikan laju penyebaran Covid-19. Turut mencegah, dan mengatasinya menunjukkan sikap keagamaan, dan keilmuan untuk penyelamatan jiwa (ḥifẓ an-nafs).

Kemudian, warga Muhammadiyah harus menjaga stabilisasi sosial. Dengan menghindari perdebatan soal Covid-19. Atau menyampaikan pendapat pribadi, yang dapat menimbulkan kegaduhan.

“Kita imbau agar tidak terlibat perdebatan yang mengarah kepada tidak percaya Covid-19, dan menolak vaksinasi, yang mencerminkan sikap tidak menghargai ilmu, serta beragama secara bayani, burhani, dan irfani,” tandas Jumari.

Artikel Menarik Lainnya :  Peringati Harlah ke-23, PKB Kabupaten Magelang Aksi Melayani Indonesia

Jumari menambahkan, berdebat saat ini bukanlah solusi. Warga Muhammadiyah harus menunjukkan sikap simpati, dan empati.

“Banyak isu pasien dicovidkan, tapi nyatanya rumah sakit kewalahan, dokter dan tenaga kesehatan banyak jadi korban, jumlah mereka makin berkurang. Ini kenyataan,” jelas Jumari.

Selain itu, Jumari menganjurkan masyarakat mampu, agar kurban kali ini diiringi dengan sedekah sembako. Sebab, banyak masyarakat yang kesulitan selama pandemi.

“Kurban seperti biasa, namun alangkah lebih baiknya jika ditambah uang, beras, bumbu-bumbu, karena orang duafa tidak hanya makan daging saja,” pungkasnya.(cha)