Waspada! Hama Blas Serang Padi Irigasi

PUPUK. Salah satu petani sedang menebar pupuk di lahan pertanian Desa Kebumen Kecamatan Pringsurat, kemarin. (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
PUPUK. Salah satu petani sedang menebar pupuk di lahan pertanian Desa Kebumen Kecamatan Pringsurat, kemarin. (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, TEMANGGUNG – Ancaman hama yang menyerang tanaman padi pada musim tanam kedua ini, lebih besar dibanding musim tanam pertama lalu. Apalagi saat ini hama blas telah dijumpai di lahan irigasi. Sebelumnya hama ini hanya menyerang tanaman padi di lahan tadah hujan saja.

Susilo salah satu petani di Dusun Gilingan Desa Kebumen Kecamatan Pringsurat menuturkan, selama ini hama blas tidak pernah dijumpai di lahan-lahan persawahan irigasi. Namun beberapa bulan terkahir hama ini mulai menyerang tanaman padi milik petani di lahan irigasi.

“Dulu hama ini hanya menyerang padi di lahan tadah hujan saja, tapi sekarang sudah mulai ada di lahan irigasi,” keluhnya, kemarin.

Menurutnya selain hama tersebut, masih ada hama lainnya yang mengancam padi pada musim tanam kedua ini, di antaranya hama penggerek, WBC dan tikus. Hama ini setiap tahunnya selalu menjadi momok bagi petani.

Sejak awal hama-hama ini memang sudah dikeluhkan oleh para petani, sebab jika terserang hama ini petani bisa mengalami gagal panen.

Dijelaskan, penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia Grisea, yang awal perkembangannya menyerang tanaman padi tadah hujan (gogo). Namun kenyataannya sekarang sudah banyak menyerang dan menyebar di lahan sawah yang beririgasi.

“Kami berharap ada pendampingan dari pemerintah terkait dengan pencegahan dan pembasmian hama,” terangnya.

Penyakit blas katanya, tidak mengenal ampun pada saat menyerang tanaman padi mulai fase pertumbuhan dari persemaian sampai menjelang panen. Jika tidak segera dicegah produksi padi bisa menurun akibat penyakit ini. Meski diakuinya penyakit blas bisa dicegah dengan teknik budidaya antara lain penanaman benih, perendaman benih, pelapisan benih dan jarak tanam tidak terlalu rapat (Jarwo).

Saat pemupukan juga harus diperhatikan adalah pemakaian pupuk nitrogen berkolerasi positif dengan keparahan penyakit blas. “Teknik tersebut sudah kami dapatkan dari PPL namun saat ini serangan hama ini kembali menghantui para petani, harapan kami ke depan pendampingan bisa lebih intensif,” harapnya. (set) 

Artikel Menarik Lainnya :  1.000 Ton Beras Dibagikan untuk Warga Terdampak PPKM di Temanggung