Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang Poles Kampung Meteseh jadi Wisata Ekosistem

PROKLIM. Sejumlah elemen turut mewarnai Gerakan “Jateng Gayeng Telung Ng” Bersama Proklim, di Kampung Meteseh, Magelang, belum lama ini. (foto : dok/magelang ekspres)
PROKLIM. Sejumlah elemen turut mewarnai Gerakan “Jateng Gayeng Telung Ng” Bersama Proklim, di Kampung Meteseh, Magelang, belum lama ini. (foto : dok/magelang ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang makin serius menggarap RW 13 Kampung Meteseh, Kelurahan Magelang sebagai lokasi Program Kampung Iklim (Proklim). Tahapan-tahapan sudah dimulai dengan penataan lingkungan yang menjadi lokasi program.

Tahap pertama dengan pembuatan puluhan titik biopori (resapan air) di sekitar lokasi hingga penanaman pohon keras dan buah di pinggir Sungai Progo. Terakhir, DLH mengajak banyak elemen guna mengikuti Gerakan “Jateng Gayeng Telung Ng” Bersama Proklim, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh setiap 5 Juni.

“Gerakan massal ini salah satu upaya dalam mengatasi masalah sampah di Jawa Tengah. Gerakan ini telah disetujui bersama dalam Kongres Sampah tahun 2019 di Tuntang Semarang. Kita lakukan hari ini di RW 13 Kampung Meteseh sebagai lokasi Proklim,” kata Kepala DLH Kota Magelang, Otros Trianto, kemarin.

Dia menjelaskan, kegiatan dilakukan dengan penanaman pohon tabebuya di jalanan kampung. Kemudian penanaman tanaman bunga dan sayuran dengan pot dari bahan daur ulang sampah.

“Kita didukung banyak elemen, seperti mahasiswa, komunitas, dan tentunya masyarakat setempat yang sangat mendukung kegiatan ini. Termasuk mendukung terwujudnya ekowisata yang berlokasi di area pinggir Sungai Progo,” katanya.

Kasie Pencegahan Pencemaran Lingkungan dan Konservasi SDA DLH Kota Magelang, Umi Nadhiroh menambahkan, percepatan Proklim terus dilakukan meski dengan anggaran terbatas.

“Tahun 2020 lalu kita mendapat penghargaan Proklim Utama berupa sertifikat. Tahun ini kita ikutkan lagi dengan kategori Proklim Menuju Lestari tingkat nasional. Maka, gerakan Jateng Gayeng Telung Ng ini kita pusatkan di Proklim,” jelasnya.

Proklim di Kampung Meteseh ini, kata Umi, diharapkan ke depan menjadi desa wisata yang berwawasan lingkungan. Hal ini juga telah direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa, untuk dikembangkan menjadi Wisata Ramah Ekoregion (Wisrame).

Artikel Menarik Lainnya :  Pasokan Lancar, Stok Oksigen di Kota Magelang Dipastikan Aman

Ada 5 prinsip dalam mewujudkan Wisrame tersebut, yaitu Konservasi, Aman Jasa Ekosistem, Kelola Sampah, Kearifan Lokal, dan Edukasi Lingkungan. Nantinya, destinasi ini tidak hanya mengejar target kunjungan, tapi lebih kepada pengelolaan yang baik, ramah lingkungan, kesadaran masyarakat, dan berkelanjutan. (wid)