15 Titik Paling Rawan Longsor di Wonosobo Bakal Dipasang EWS

CEK. Beberapa petugas melakukan pengecekan alat EWS kebencanaan yang terpasang pada sejumlah titik rawan longsor di Kecamatan Kaliwiro.
CEK. Beberapa petugas melakukan pengecekan alat EWS kebencanaan yang terpasang pada sejumlah titik rawan longsor di Kecamatan Kaliwiro.

MAGELANGEKSPRES.COM, WONOSOBOPemkab Wonosobo melalui BPBD Wonosobo akan melakukan pemasangan early warning system (EWS) di 15 titik paling rawan bencana longsor di Wonosobo. Hal tersebut sebagai upaya untuk melakukan deteksi dini serta antisipasi terhadap bencana .

“Total titik rawan ada 62 titik, namun yang prioritas untuk dipasang pada tahun ini ada 15 titik. Hasil kajian dan monitoring kita, titik tersebut paling dekat dengan pemukiman dan fasilitas publik lainnya,” ungkap Kepala BPBD Wonosobo, Zulfa Ahsan Alim kurniawan, kemarin.

Menurutnya, jumlah terbesar titik longsor berada di  Kecamatan Kaliwiro, Sebab, dari 62 titik lokasi rawan longsor di seluruh kabupaten, 23 lokasi berada di Kecamatan Kaliwiro. Dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo, hanya tujuh daerah kecamatan yang dinyatakan rawan terhadap bencana tanah longsor.

“Sebanyak 23 titik berasal dari Kaliwiro. Disusul Kecamatan Sukoharjo dengan 12 titik. Kalibawang dengan 8 titik. Watumalang, Kejajar, dan Leksono ada 6 titik. Wadaslintang dengan 1 titik lokasi rawan longsor,” terangnya.

Namun sayangnya, dari puluhan titik kerawanan itu pihak BPBD mengaku jika Wonosobo belum memiliki sendiri alat pendeteksi kebencanaan. Adapun Delapan alat Early Warning System khusus kebencanaan yang terpasang di beberapa titik hingga saat ini itu berasal dari bantuan dari BNPB pusat.

Padahal menurutnya jika keberadaan EWS ini akan sangat membantu masyarakat untuk mendeteksi kebencanaan sejak awal. Sehingga masyarakat bisa langsung bersiap untuk mengevakuasi diri jika suatu saat terjadi musibah tanah longsor di puluhan titik tersebut.

Apalagi Kabupaten Wonosobo sendiri terkenal menjadi salah satu kota dengan curah hujan tinggi. Sehingga potensi munculnya bencana tanah longsor masih bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Prediksi dari BMKG yang baru saja keluar itu menyebut jika Kabupaten Wonosobo masih akan terjadi hujan hingga akhir bulan Juni nanti. Jelas masih bisa berubah. Faktanya sampai bulan Agustus juga masih sering hujan di kota ini,” ucapnya

Artikel Menarik Lainnya :  Terpapar Covid-19, Hamil Tiga Bulan Meninggal Dunia

Berkaitan dengan hal itu, pihaknya berinisiatif untuk segera menambah jumlah EWS di lokasi rawan yang belum terpasang. Dengan mengusulkan pada pemerintahan yang baru untuk memasukan dalam LKPJ bupati tahun depan.

“Dalam beberapa tahun kedepan Wonosobo akan mengadakan 15 alat EWS kebencanaan ini. Yang akan dilakukan secara bertahap dan ditempatkan di titik-titik paling rawan, dilakukan secara bertahap. Semoga ini benar-benar bisa terealisasi,” harapnya.

Selain Delapan EWS yang saat ini terpasang, pihaknya juga terus mengupayakan adanya edukasi pada masyarakat. Dengan memberikan pemahaman tentang cara melakukan evakuasi diri saat terjadi bencana. Serta menentukan lokasi kumpul warga saat terjadi kebencanaan di titik-titik rawan longsor.

“Kami mohon partisipasi dari masyarakat untuk ikut menjaga  EWS, jika nanti ada tambahan. Jangan sampai ini dirusak. Karena ini penting sekali bagi masyarakat disekitar lokasi itu,” pungkasnya. (gus)