Upah Relawan Covid-19 di Purworejo Tersendat Beberapa Bulan

BERTUGAS. Suasana RSUD RAA Tjokronegoro Purworejo yang menjadi salah satu lokasi bertugas sejumlah relawan Covid-19, kemarin.(Foto: eko)
BERTUGAS. Suasana RSUD RAA Tjokronegoro Purworejo yang menjadi salah satu lokasi bertugas sejumlah relawan Covid-19, kemarin.(Foto: eko)

MAGELANGEKSPRES.COM, PURWOREJO – Sejumlah relawan Covid-19 di RSUD RAA Tjokronegoro Purworejo masih terus bertaruh nyawa dalam menjalankan tugas di tengah melonjakanya kasus positif. Sayangnya, upah yang menjadi haknya tersendat dan belum terbayar secara penuh dalam beberapa bulan terakhir.

Hal itu diinformasikan oleh salah satu relawan Covid-19 RSUD RAA Tjokronegoro yang hanya bersedia namanya diinisial (F), Jumat (11/6).

“Jadi dari bulan Januari 2021 sampai sekarang upah belum beres.  Rata-rata upah baru diserahkan 16 persen dari total upah yang seharusnya diterima setiap bulannya,” katanya kepada wartawan.

F mengaku  tertarik menjadi relawan persis saat kasus Covid-19 merebak dan banyak yang menolak untuk berdekatan dengan pasien Covid-19. Atas nama kemanusiaan, ia memberanikan diri kendati sudah tau risikonya.

“Ketika ada rekruitmen saya langsung daftar, waktu itu di pengumuman dijelaskan upah menjadi relawan yakni Rp200 ribu per hari,” sebutnya.

Menurut F, tugas menjadi relawan dibagi dalam sift. Satu sift harus berjaga selama 8 jam. Dalam sehari ada 2 orang yang bertugas, mengurus semua kebutuhan pasien Covid-19. Tidak hanya itu, mereka juga harus mengenakan APD lengkap selama 4 jam.

“Kami paham posisi kami adalah relawan, artinya memang panggilan jiwa dan kemanusiaan. Namun, banyak di antara kami yang kerap menanti upah yang diberikan, tidak elok sebetulnya. Namun, saya rasa itu hak dan kami juga punya keluarga,” jelasnya.

Terkait keterlambatan pembayaran upah, sambungnya, ia pernah menanyakan ke bagian keuangan dan sejauh ini hanya dijanjikan. Jika dilihat dari jam kerja, satu relawan rata-rata bertugas 16 sampai 18 kali dalam sebulan.

Menurutnya, sebagai relawan pada awalnya memang bukan niat untuk bekerja. Hal itu dibuktikan hingga saat ini semua relawan tidak pernah menanyakan apalagi menutut hak.

Artikel Menarik Lainnya :  Kyai Merah Bangun Pesantren untuk Anak Jalanan

“Ini saya memberanikan diri untuk bicara, sebab sebagian dari kami juga sangat mengharapkan upah itu untuk menyambung hidup, dengan risiko yang sangat tinggi tentunya,” ungkapnya.

Karena upah yang tidak jelas, akhirnya banyak relawan yang mengundurkan diri, sedangkan pihak rumah sakit terus membuka lowongan untuk relawan ini. Hal itu bagi sebagian relawan menjadi janggal.

“Setahu saya untuk RSUD RAA Tjokronegoro di bulan Januari ada 41 relawan yang bekerja, ke belakang banyak yang keluar atau mengundurkan diri karena mungkin upah yang tidak jelas, sekarang tinggal sekitar 10 orang yang aktif, meskipun ada 24 relawan yang masih berstatus relawan di RSUD RAA Tjokronegoro,” sebutnya.

Mengingat hal tersebut, relawan berharap agar para pengambil kebijakan lebih dapat memperhatikan nasib para relawan.

“Kami juga selalu menguatkan satu sama lain, walaupun belum mendapatkan hak. Namun, kami harus tetap semangat melayani dengan hati, terus terang untuk sistem dan manajemen pembayaran kami tidak paham, jika bisa dijelaskan kami tentu sangat lega,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, dr Sudarmi MM, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon menyatakan bahwa proses pembayaran upah relawan memang semua belum keluar. Tidak hanya di RAA Tjokronegoro, melainkan juga yang bertugas di RSUD Dr Tjitrowardojo.

“Kami masih harus melihat alokasi anggaran refocusing, termasuk edaran Kemendagri terkait penyesuaian nama kegiatan, sekarang proses verifikasi dan pengajuan pencairan,” terangnya. (top)