Gagal Pertahankan Zona Hijau, Kelurahan Wates Magelang Utara Tetap Dapat Penghargaan

PENGHARGAAN. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz memberikan penghargaan kepada Lurah di wilayahnya yang dianggap berhasil menekan laju penularan Covid-19 selama PPKM Mikro diterapkan. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)
PENGHARGAAN. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz memberikan penghargaan kepada Lurah di wilayahnya yang dianggap berhasil menekan laju penularan Covid-19 selama PPKM Mikro diterapkan. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Rekor zero kasus selama tiga bulan lebih di Kelurahan Wates, Magelang Utara, Kota Magelang harus kandas. Itu setelah sejumlah warga setempat terpapar Covid-19. Wates yang tadinya zona hijau selama tiga bulan lebih pun harus rela berganti menjadi zona kuning.

Lurah Wates Ravi Pagas Makalosa menjelaskan, perubahan zonasi terjadi sejak 6 Juni. Setelah satu rumah yang dihuni 3 kepala keluarga (KK) terpapar Covid-19, diketahui dari hasil pemeriksaan PCR sebanyak 8 orang dinyatakan positif.

Menurut Ravi, warganya memiliki riwayat bepergian ke luar daerah. Beberapa di antaranya merasakan gejala, dan kondisi kesehatan menurun.

“Kabar baiknya mereka tidak ada yang bergejala berat sehingga cukup menjalani isolasi mandiri di rumah,” kata Ravi, saat ditemui wartawan, Jumat (11/6).

Ia mengatakan jika kepedulian warga terhadap mereka yang terpapar masih sangat tinggi. Dibuktikan dengan kiriman bantuan dari warga untuk keluarga yang terpapar.

“Meskipun yang ketularan (tertular) ini sebenarnya orang berada, tapi warga tetap gotong-royong membantu mereka. Kepedulian warga ini kami harap menjadi semangat baru untuk segera sembuh,” ujarnya.

Warga kata Ravi, memberikan dukungan dalam bentuk moril, maupun kebutuhan lain selama isolasi berjalan. Selain itu, warga juga menyemprotkan cairan disinfektan di lingkungan sekitar.

Menurut Ravi, meski ada yang terpapar namun situasi dan kondisi masyarakat tetap stabil. Mereka sadar bahwa virus ini bisa menulari siapa saja.

“Jadi saya pastikan tidak ada pengucilan. Justru sebaliknya, warga lain mencoba membangkitkan semangat keluarga yang terkena agar lekas sembuh. Pembangkitan mental ini penting bagi penyintas Covid-19,” tandasnya.

Ravi dan warga Wates tak berkecil hati meski gagal mempertahankan rekor zona hijau selama beberapa bulan.

Artikel Menarik Lainnya :  180 Kabupaten Kota Masuk Zona Merah, Kasus Covid-19 Tembus 3 Juta

“Semua warga di sini saling menyadari, siapa saja punya potensi tertular Covid-19 sehingga tidak ada yang mengucilkan saat ada warga yang kena,” tuturnya.

Dia optimis, wilayahnya akan kembali menghijau. Berkaca dari yang lalu, selama PPKM mikro, seluruh elemen terlibat sungguh-sungguh mencegah penyebaran Covid-19.

Saat puncak mudik Lebaran 1442 Hijriyah lalu, ada kebijakan yang wajib ditaati. Siapapun warga luar daerah yang masuk, harus menunjukkan hasil rapid antigen, dan PCR ke ketua RT maupun ketua RW.

“Kemudian diteruskan kepada Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas Polri. Diteruskan juga ke tim tenaga kesehatan.  Cara ini efektif,” paparnya.

Ia melihat sejauh ini ada sejumlah masyarakat yang mulai jenuh dengan Covid-19. Bahkan beberapa juga mulai acuh tak acuh.

“Ini tidak boleh dibiarkan. Langsung direspons cepat. Intinya jangan bosan menginfokan kepada warga. Kita peringatkan melalui WhatsApp, dan saat bertemu warga secara langsung bahwa protokol kesehatan harus ditaati, Covid-19 bahaya,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekda Kota Magelang Joko Budiyono mengapresiasi Satgas Jogo Tonggo dan warga Kelurahan Wates yang mampu mempertahankan zona hijau berbulan-bulan. Pemkot Magelang pun tetap memberikan penghargaan untuk warga Wates, meski sekarang sudah berubah zona.

“Apa yang terjadi di Wates bisa menjadi contoh untuk semua kelurahan di Kota Magelang. Kalaupun sekarang berganti zona, tapi jangan lupakan usaha mereka selama beberapa bulan terakhir. Saya harap, kelurahan lainnya bisa belajar dari Wates,” kata Joko. (wid)