Genjot Sektor Wisata di Kota Magelang Lewat Seni dan Budaya

PAMERAN. Sejumlah karya seni rupa lukisan dipamerkan oleh komunitas seni Magelang, Ondho Ulo, di Museum BPK RI, 22-30 Mei 2021.(foto : IST/magelang ekspres)
PAMERAN. Sejumlah karya seni rupa lukisan dipamerkan oleh komunitas seni Magelang, Ondho Ulo, di Museum BPK RI, 22-30 Mei 2021.(foto : IST/magelang ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz berencana menggenjot sektor pariwisata sebagai perbaikan taraf perekonomian masyarakat. Syarat utama mewujudkannya, adalah dengan menguatkan sektor kesenian dan kebudayaan di wilayah setempat. “Orang kalau suka seni, jiwanya halus dan mengenal Tuhannya. Kalau kota kita mau maju ya jangan sekali-kali tinggalkan kesenian dan budaya,” kata Aziz saat menghadiri diskusi rangkaian acara ekshibisi Komunitas Ondho Ulo di Museum BPK RI, secara virtual, kemarin.

Orang nomor satu di Kota Jasa tersebut mengaku memfokuskan dua kebijakan strategis selama kepemimpinannya yakni pariwisata dan kesehatan. Menurut Aziz, ihwal pariwisata tak akan pernah lepas dari seni dan budaya.

“Oleh karena itu, saya akan memprioritaskan siapa saja yang ingin menggelar agenda kesenian asalkan tidak melanggar aturan. Kami juga akan segera menyerahkan eks-gedung PSC 119 untuk dijadikan rumah seni dan budaya,” jelasnya.

Aziz juga meminta Disdikbud dan Disporapar Kota Magelang agar selalu memberikan edukasi seni bagi anak-anak usia sekolah. Tidak hanya dua instansi itu, lanjut dia, ke-29 organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Magelang juga diminta turut beratensi terhadap seni dan budaya.

“Program ini akan kita jalankan 6-12 bulan mendatang, sehingga sektor pariwisata bisa kita kembangkan secara berkelanjutan,” tandasnya.

Salah satu wakil dari ISI Jogjakarta, yang turut menghadiri diskusi itu, Mikke Susanto menuturkan, setiap kota membutuhkan keterkaitan dengan daerah lainnya. Salah satu pembangun persatuan antardaerah itu ialah fasilitas dan infrastruktur kesenian.

“Karenanya setiap daerah itu perlu infrastruktur seni, bukan hanya seniman, tapi juga kritikus, museum, kolektor, jurnalis, dan lain sebagainya. Persoalannya banyak daerah punya seniman tapi tidak ada infrastrukturnya,” imbuhnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Waspada! 70-76 Kasus Baru Covid Muncul di Magelang

Mikke menyarankan agar setiap infrastruktur seni bergerak bersama dan menjadikan setiap agenda kesenian, baik besar maupun kecil, sebagai isu nasional, tidak hanya isu lokal. Dengan begitu, pengembangan seni dan budaya tidak hanya bersifat fiksi, tetapi juga secara realistis. (wid)