Walikota Magelang : Pertumbuhan Ekonomi di Kota Magelang Terjun di Angka Minus 2,4 Persen

TALKSHOW. Walikota Magelang dr Aziz berdialog dengan Ketua Apindo Eddy Sutrisno dan pihak lainnya, tentang ketahanan UMKM di masa pandemi Covid-19.( foto : IST/magelang ekspres)
TALKSHOW. Walikota Magelang dr Aziz berdialog dengan Ketua Apindo Eddy Sutrisno dan pihak lainnya, tentang ketahanan UMKM di masa pandemi Covid-19.( foto : IST/magelang ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Pandemi Covid-19 membuat perekonomian di Kota Magelang mengalami resesi. Namun demikian, dari sekian pengusaha yang terdampak, usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) dianggap yang paling kuat dan masih bisa bertahan sampai sekarang.

Hal itu terungkap dalam kegiatan Talkshow Ketahanan Ekonomi Kota Magelang di Ruang Walikota Magelang, akhir pekan lalu.

Walikota Magelang, dr Muchamad Nur Aziz mengatakan, jika sebelum pandemi, pertumbuhan ekonomi Kota Magelang rata-rata mencapai 5 persen ke atas. Akan tetapi, pandemi Covid-19 membuatnya terjun bebas di angka minus 2,4 persen. Meski demikian, Pemkot Magelang tak berputus asa, dan tetap mendorong pelaku ekonomi untuk selalu semangat dan berjuang.

“Kota Magelang terkenal sebagai Kota Jasa, jadi perekonomian di sini tergantung dari banyaknya orang yang datang ke Magelang. Tapi, menjelang Lebaran ini, kita harus mengikuti keputusan Pemerintah Pusat bahwa tidak ada mudik dengan harapan tidak ada klaster Covid-19 baru,” katanya.

Secara tersirat orang nomor satu di Kota Sejuta Bunga itu mengisyaratkan agar pelaku UMKM tetap harus bisa bertahan karena efek dari larangan mudik Lebaran 2021. Hal itu bisa disiasati dengan pangsa pasar digital maupun warga lokal sendiri.

Aziz juga merinci kekuatan terbesar perekonomian Kota Magelang adalah jasa konstruksi yang mencapai 16 persen. Selain itu ada jasa perdagangan, jasa kesehatan, jasa sosial bahkan jasa pengolahan sampah, yang akan mendorong masyarakat untuk tetap bekerja dan menumbuhkan ekonomi.

Di sisi lain, Aziz mengungkap kelemahan Kota Magelang adalah minimnya sumber daya alam (SDA) seperti lahan pertanian dan tidak adanya sektor kelautan. Di bidang pertanian, Aziz mengatakan Pemkot telah mengembangkan sistem pertanian di perkotaan atau urban farming menggunakan pupuk organik.

“Untuk investasi, saat ini investasi terbesar di Kota Magelang ada yang mau membangun di lahan bekas Magelang Theater. Namun, ada beberapa hal yang harus diselesaikan, kami akan memberikan deadline untuk segera menyelesaikan investasi itu,” katanya.

Selanjutnya, Pemkkot Magelang juga berencana membangun Rumah Kreatif yang akan menjadi tempat menghubungkan Pemkot Magelang dengan pengusaha dan swasta, sehingga ketiga pihak itu bisa bersinergi membangun Kota Magelang ke depan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang Eddy Sutrisno mengungkapkan kehidupan pengusaha selalu menghadapi tantangan, di antaranya krisis ekonomi pada 1998, 2009 hingga pandemi di tahun 2020. Namun, satu hal yang meningkat dari pengusaha adalah instingnya.

 

“Pengusaha melihat tantangan sebagai peluang untuk inovasi. Adaptasi pengusaha di Kota Magelang ini sangat hebat, terutama UMKM yang menjadi penopang ekonomi sebesar 60 persen. Kita melihat UMKM memiliki struggle of life, kalau kepepet jadi pinter. Jadi, sektor UMKM Kota Magelang tidak terlalu berdampak,” paparnya.

Eddy menyebutkan Kota Magelang sangat unik karena memiliki sektor jasa, kuliner, dan passing city yang terlewati arus besar dari Semarang. Oleh karena itu, di dunia bisnis, peluangnya selalu terbuka. Selain itu, karakter masyarakat Kota Magelang sangat luwes dan memiliki solidaritas tinggi.

“Dengan adanya solidaritas, kompetisi tidak mematikan usaha lain, tetapi berkolaborasi. Misal pendanaan, di Kota Magelang tersedia bagi orang-orang yang kreatif. Ada banyak bank, mereka lebih banyak membantu UMKM terutama retail, bukan ke perusahaan besar,” katanya. (wid)