Sedekah Bumi Jawab Ancaman Ekosistem di Bukit Pajangan Purworejo

LEPASKAN. Sejumlah perwakilan dari berbagai organisasi dan komunitas saat melepaskan puluhan burung di Bukit Pajangan Sidomulyo.( Foto lukman)
LEPASKAN. Sejumlah perwakilan dari berbagai organisasi dan komunitas saat melepaskan puluhan burung di Bukit Pajangan Sidomulyo.( Foto lukman)

MAGELANGEKSPRES.COM, PURWOREJO – Bukit Pajangan di Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo beberapa tahun lalu sempat viral akibat terkuak susunan batuan berundak di tebing bukit yang diduga sebagai candi raksasa. Guna menjaga ekosistem di lingkungan tersebut, sejumlah komunitas di Purworejo bahu membahu menggelar kegiatan bakti lingkungan dengan melepas puluhan burung ke alam liar.

Aksi nyata merawat ekosistem alam dalam bingkai kegiatan sedekah bumi tersebut dilakukan oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan didukung penuh Komandan Kodim (Dandim) 0708 Purworejo Letkol Inf Lukman Hakim, Ki Lurah Offroad Hardjanto, KNPI Purworejo, Krema Kopi Purworejo, dan sejumlah organisasi masyarakat lainnya. Kegiatan ini sekaligus untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2021.

Dandim Lukman Hakim mengapresiasi sedekah bumi ini. Dia menilai kegiatan tersebut sangat pas di masa pandemi virus korona (Covid-19). Menurutnya, sudah sewajarnya manusia untuk ingat dan peka menjaga alam. Masyarakat harus berlomba-lomba berbuat kebaikan kepada alam. Sebab, dengan begitu alam akan memberikan yang terbaik kepada manusia.

“Semoga sedekah bumi ini dapat menjadi motor kegiatan sosial alam lainnya, mari dijaga bersama untuk kelestarian alam dan lingkungan. Burung-burung ini sangat berguna bagi tanaman untuk membantu penyerbukan dan lainnya, burung juga membuat alam menjadi berwarna,” ucapnya.

Ketua Cabang PSHT Kabupaten Purworejo Setiobudi Tjahyono menambahkan, aksi sosial dan kepedulian terhadap sesama dan alam sudah menjadi agenda rutin tahunan PSHT. Aksi sosial dan saling membantu sudah menjadi kewajiban bagi seluruh anggota.

“Dalam ilmu beladiri, kami juga diajarkan ilmu kehidupan, saling tolong menolong terhadap sesama dan alam,” ungkapnya.

Adapun aksi pelepasan burung dipilih untuk menjaga populasi burung yang terus menurun akibat aksi perburuan liar. Padahal, burung-burung yang ada di desa setempat merupakan salah satu media penyerbukan tanaman dan penyeimbang ekosistem perbukitan.

“Kami lepas burung jenis perkutut (burung endemik) yang kini mulai sudah didengarkan suaranya langsung dari alam bebas, selain itu kami juga lepas jenis kolibri yang hebat dalam urusan penyerbukan,” paparnya.

Ketua DPD KNPI Kabupaten Purworejo Muhammad Musyafa menegaskan, aksi pelestarian lingkungan yang bertepatan dengan Harkitnas 2022 ini digadang mampu menjadi pemantik semangat warga untuk lebih mencintai lingkungan. Bencana alam bisa dihindarkan ketika keseimbangan terjaga dan semua penentunya adalah manusia. “Belajarlah dari alam,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang warga Bukit Pajangan Tumingan berharap aksi pelepasan burung ini bisa disusuli dengan perda atau perdes agar bisa lestari. Dia dan warga setempat lainnya sepakat desanya dijadikan wilayah konservasi satwa, khususnya burung.

“Kalau bisa aksi perburuan liar jangan masuk kesini, agar bisa seperti itu tentu dibutuhkan regulasinya, semoga pemerintah bisa memperhatikan itu,” harapnya.

Disinggung soal potensi wisata Bukit Pajangan, Tumingan mengaku sempat mendengar cerita rakyat di mana konon bukit tersebut merupakan peninggalan kerajaan yang dulunya ingin membuat candi. Namun, sebelum candi tersebut menjadi kerajaan sudah kalah perang.

“Di sini pernah ditemukan beberapa batuan yang tersusun rapi. Konon waktu saya kecil juga dilarang mengambil bengkoang di sekitar bukit Pajangan, kramat katanya,” ucapnya. (*)

Artikel Menarik Lainnya :  Tiga Benda Diduga Cagar Budaya Ditemukan di Desa Durensari Purworejo