Relawan dan Warga Samban Gotong-Royong Bantu Korban Kebakaran di Tengah Pandemi

EVAKUASI. Relawan GRI, warga Kampung Samban, TNI/Polri, dan aparatur Pemkot Magelang bergotong-royong membersihkan puing-puing rumah yang terbakar di Kampung Samban, Kelurahan Gelangan.

KAMPUNG TANGGUH KOTA MAGELANG

MAGELANGEKSPRES.COM – MASYARAKAT Indonesia memiliki satu nilai khas yang tidak dimiliki bangsa lain, yakni gotong-royong. Sudah sejak dulu para leluhur menjadikannya sebagai budaya bangsa. Tak terkecuali masyarakat Kampung Samban, Kelurahan Gelangan, Magelang Tengah, Kota Magelang.

Tidak hanya menangani pandemi Covid-19, gotong-royong juga dipraktikkan warga kampung setempat, ketika ada salah satu warga yang terkena musibah. Seperti diketahui, rumah kontrakan milik Suwarno, warga RT 03/RW 05, Samban, terbakar, 9 Februari lalu.

Kepolisian pun memasang tanda police line untuk memudahkan penyelidikan. Selang dua pekan, barulah diketahui bahwa rumah milik Edwin itu terbakar akibat hubungan arus pendek listrik.

Sejumlah warga dan relawan penanganan bencana, bergotong-royong melakukan evakuasi dan normalisasi material bangunan, Sabtu (20/2). Mereka terdiri dari warga kampung, polisi, TNI, aparatur Pemkot Magelang, PMI, dan relawan Garda Relawan Indonesia (GRI) Magelang.

Lurah Gelangan, Sugeng Sunarso mengatakan warga setempat masih mengandalkan gotong-royong sebagai strategi mitigasi dan penanganan bencana. Kendati di tengah pandemi Covid-19, gotong-royong membantu korban kebakaran masih ditunjukkan warga dengan ikhlas dan penuh semangat.

”Penanganan kebakaran di Gelangan ini berjalan baik karena partisipasi masyarakat melalui gotong-royong dapat membantu mengurangi beban korban. Tidak hanya itu, warga juga banyak yang memberi bantuan logistik, baik kepada para penyintas Covid-19 maupun korban bencana lain,” kata Sugeng.

Ia menilai, Kampung Tangguh di Samban, juga mencerminkan budaya tradisional gotong-royong masyarakat Kota Magelang. Selain upaya pencegahan penyebaran Covid-19, warga tetap konsisten menunjukkan aksi kemanusiaan terhadap bencana lainnya.

”Saya juga memberi apresiasi kepada tim GRI Magelang, PMI, Satpol PP, DLH Kota Magelang, dan semua pihak yang bersama-sama membantu korban kebakaran di rumah Bapak Suwarno ini,” ujarnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Kota Magelang Raih Nirwasita Tantra dan Green Leadership tahun 2020

Sugeng menuturkan, Kampung Tangguh dan Satgas Jogo Tonggo berperan efektif di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro ini. Di wilayahnya, masyarakat sebenarnya sudah menerapkan PPKM mikro, tingkat RT sejak awal pandemi Covid-19 setahun yang lalu.

”Penguatan penanganan Covid-19 di kampung-kampung di Gelangan sudah ada sejak awal pandemi, seperti mendirikan Posko Covid-19, pengawasan tamu dari luar, penyemprotan disinfektan, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Satgas Jogo Tonggo dan Kampung Tangguh di Samban, lanjut dia, menunaikan perannya untuk selalu berkoordinasi, memantau, mengawasi penanganan Covid-19 di tingkat mikro dan lokal lingkungan. Di samping itu, para kader aktif melakukan pendekatan kepada warga tentang pentingnya menjaga imunitas dan protokol kesehatan.

Sementara itu, Dewan Kehormatan GRI Magelang, Marjinugroho yang turut terlibat dalam evakuasi rumah kebakaran tersebut mengatakan, relawan yang dibentuk tahun 2018 lalu itu, selama ini aktif melakukan aksi kemanusiaan. Penanganan bencana banyak dilakukan di wilayah Kota dan Kabupaten Magelang.

”Saat ini anggotanya sudah mencapai 190 orang relawan GRI. Mencakup wilayah Kota dan Kabupaten Magelang. GRI didirikan karena di Kota Magelang selama ini tidak punya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sehingga muncul inisiatif pembentukan GRI,” kata Marjinu.

Anggota DPRD Kota Magelang sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat tersebut berujar, aksi kemanusiaan diwujudkan, Sabtu (21/2), dengan mengevakuasi dan membersihkan rumah penduduk akibat musibah kebakaran.

”Evakuasi baru bisa dilakukan sekarang karena harus menunggu proses penyelidikan dari Polres Magelang Kota. Begitu selesai, kita langsung bantu warga untuk mengevakuasi puing-puing kebakaran. Setelah dikumpulkan, evakuasi puing-puing ini sampai 6 truk,” jelasnya.

Ia menuturkan, aksi kemanusiaan GRI juga aktif dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Seperti memberikan bantuan masker kepada warga, menyalurkan sembako kepada para penyintas Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri, dan edukasi kepada warga tentang pentingnya 5M dan protokol kesehatan.

Artikel Menarik Lainnya :  Gagal Pertahankan Zona Hijau, Kelurahan Wates Magelang Utara Tetap Dapat Penghargaan

”Edukasi dan sosialisasi terus kita berikan. Tidak cukup itu saja, ketika ada bencana terjadi, kita langsung sigap memberikan sumbangan tenaga. Termasuk saat pohon tumbang, waktu ada pemuda yang hilang di sungai, kita juga bantu mencari sampai beberapa hari. Terakhir, aksi kami membantu membersihkan rumah akibat musibah kebakaran ini,” terangnya.

Ia berharap, adanya GRI di Kota Magelang mampu menyulutkan lagi semangat gotong-royong warga. Tidak hanya urusan kebencanaan, tetapi besar harapan relawan-relawan pencegah penyebaran Covid-19 akan tumbuh di Kota Magelang.

”GRI tidak hanya mengurusi urusan bencana alam saja. Tetapi kalau kita diminta untuk membantu sosialisasi penegakkan protokol kesehatan, mencegah Covid-19, kita siap terjun langsung,” pungkasnya. (prokompim/kotamgl)