Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Dampingi Petani Porang Belajar Kuljar

FOTO BERSAMA. Petani porang asal Madiun bersama mahasiswa Polbangtan berpose bersama di ruang Kultur Jaringan. ( 25/04/21 )
FOTO BERSAMA. Petani porang asal Madiun bersama mahasiswa Polbangtan berpose bersama di ruang Kultur Jaringan. ( april 2021 )

 

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – MUNTILAN – Petani porang asal Madiun belajar memperbanyak bibit porang dengan cara kultur jaringan di Laboratorium V&M Biotechnologi Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Petani porang Dikir mengaku budidaya porang dilakukannya sudah sejak dulu. Baginya budidaya porang sangat menjanjikan dari dulu, karena pasar tradisional pun banyak yang menerima penjualan porang.

“Jumlah lahan kami ada ber hektar-hektar. Awalnya dulu lahan ditanami empon-empon tapi karena tanaman porang ini juga di Madiun pasarnya juga mudah maka warga pun beralih,”katanya saat belajar kultur jaringan belum lama ini.

Sekarang-sekarang ini buming tanaman porang, Dikir mengaku tidak heran. Untuk bibut pihaknya mengaku tidak kesulitan. Selama ini pengembanhbiakan melalui umbi katak dan tidak susah cara perbanyakan.

“Untuk bibit kami tidak kesulitan, kami masih menggunakan bibit lokal asli dari daerah kami,”ujarnya.

Dikir mengaku prihatin karena pembudidayaan porang tidak lagi dilakukan secara organik. Banyak petani yang tergiur hasil besar tapi kurang memperhatikan kelestarian lingkungan di Mediun. Lahannya sudah tercemar pupuk kimia untuk pembudidayaan porang. Oleh karenanya, pihaknya akan berpindah wilayah di Klino Bojonegoro untuk mengembangkan pembudidayaan porang secara organik.

“Saya sebagai Kades Klino Bojonegiro sangat mendukung warga Klino pun juga antusias untuk meningkatkan budidaya porang secara lagi. Apalagi asal bibit porang aslinya dari Klino,”papar Dwi Nur Jayanti, Kades Klino yang turut ikut belajar porang di Muntilan.

Saat belajar perbanyakan porang dengan kultur jaringan Dikir mengajak serta Mariani Kusuma, Dr. Diska, Dwi Nur Jayanti, Kades Klino Bojonegoro, Danny Dwi Prasetyo dan Karimatus Hamidah.

Saat belajar perbanyakan porang petani porang Mediun yang berjumlah 7 orang tersebut didampingi oleh mahasiswa Polbangtan YogMa antara lain Cindekia Purba Wisesa

Aulia Dwi Chandra, Syelfa Salshabila Agustin, Dinda Amalia Gumay, Destia Aviani, Jazim Qori Ainaya, Arini Hidayati, Jamaludin Nur Ridho dan Maulaya Mulya Fajri Safira.

“Perbanyakan porang dengan cara kultur jaringan ini memang bagus, tapi untuk sekarang bibit porang jumlahnya melimpah. Tapi untuk mendapatkan bibit unggul mungkin perlu menggunakan kultur ini,”kata Dwi.

Salah satu mahasiswa Polbangtan, Syelfa Salshabila Agustin mengungkapkannya mendampingi petani porang dari Klangon, Madiun dalam melakukan perbanyakan tanaman porang secara invitro. Perbanyakan porang secara invitro yang kami dampingi dimulai dari pengenalan bibit porang hasil kultur jaringan.

“Pada pengenalan bibit porang hasil kultur tersebut memunculkan rasa keingintahuan yang tinggi oleh para petani porang. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa lontaran pertanyaan terkait bagaimana proses tanaman porang tersebut diperbanyak mulai dari bagaimana perlakuan eksplan umbi katak yang akan digunakan, bagaimana cara pembuatan media kultur, hingga bagaimana proses penanamannya dan perbanyakannya,”kata Syelfa.

Kemudian kegiatan selanjutnya yaitu melakukan multiplikasi tanaman porang, ujarnya. Multiplikasi ini dilakukan dengan melakukan pemotongan eksplan tanaman porang yang telah tumbuh panjang untuk kemudian ditanam kembali ke media yang telah disediakan hal itu bertujuan untuk memperbanyak jumlah planlet tanaman porang. Kegiatan multiplikasi tersebut dilakukan di dalam mesin laminar air flow (LAF)

Ia juga menjelaskan, aelama kegiatan pendampingan petani porang ini dilakukan dengan selalu menekankan bahwa perbanyakan porang secara kultur jaringan dapat dilakukan dalam skala rumah tangga yaitu dengan cara yang sederhana dan dengan biaya yang cukup terjangkau namun dapat menghasilkan bibit porang yang berkualitas tinggi, tahan penyakit serta dapat memproduksi dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang relatif singkat.

“Kelebihan-kelebihan tersebut membuat para petani porang tertarik mempelajari lebih lanjut mengenai kultur tanaman porang,”tambah Mahasiswa Jurusan Teknologi Benih ini. (hen)