Cara Warga Dumpoh Manfaatkan Barang Bekas Dukung Protokol Kesehatan

KWT Manunggal Kampung Dumpoh, Potrobangsan, Magelang Utara menjadi inisiator peningkatan kesadaran warga mencegah penyebaran Covid-19 dengan penyemprotan disinfektan.
INISIATOR. KWT Manunggal Kampung Dumpoh, Potrobangsan, Magelang Utara menjadi inisiator peningkatan kesadaran warga mencegah penyebaran Covid-19 dengan penyemprotan disinfektan.

Kampung Tangguh Kota Magelang

PENANGANAN pandemi Covid-19 harus dilakukan secara bergotong royong. Langkah itu tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Masyarakat pun punya kewajiban untuk membantu sebagai respons menangani pandemi yang sudah tahun ini melanda.

Hal itulah yang dilakukan warga Kota Magelang. Salah satunya, masyarakat Kampung Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan, Magelang Utara.

Sudah satu tahun ini, ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Manunggal, Rt 01 Rw 07 Potrobangsan, menggelar aksi sosial kepada masyarakat setempat yang sangat membutuhkan.

Langkah swadaya masyarakat dilakukan untuk mengoptimalkan pencegahan virus corona. Selain membagikan masker, sekitar 300-an rumah warga di lingkungan Kampung Dumpoh, Potrobangsan juga disemprot disinfektan secara rutin.

”Penyemprotan ini dilakukan secara swadaya oleh warga setelah sebelumnya ada imbauan dari kelurahan dan Pemkot Magelang,” kata Ketua KWT Manunggal, Srining Dayanti, kemarin.

Penyemprotan disinfektan dilakukan ke rumah-rumah warga dan musala di kawasan perumahan dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona, sekaligus dalam bentuk dukungan membantu pemerintah memerangi mewabahnya virus corona di Kota Magelang.

”Apalagi Pemkot Magelang tengah menjalankan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro, sehingga tiap RT di sini sudah mendirikan posko penanganan Covid-19. Tugasnya adalah sebagai corong informasi antara warga dengan Satgas Covid-19 Kota Magelang,” jelasnya.

Selain disinfektan, KWT Manunggal juga rutin memberi bantuan sembako maupun  bahan makanan. Pada bulan Ramadan ini, jumlah stok bantuan KWT Manunggal tersebut bertambah.

”Termasuk makanan ringan. Ini jadi upaya warga kepada masyarakat terdampak pandemi, supaya di bulan Ramadan ini mereka tetap khusyuk menjalani ibadah. Kami juga salurkan bantuan alat cuci tangan yang kami buat secara swadaya, memanfaatkan botol bekas,” ujarnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Angka Covid Tinggi, Satgas Provinsi Intervensi Kota Magelang

Tak hanya aktif di bidang sosial, sesuai namanya, kelompok tani ini juga kembali menggelar aktivitas pertanian seperti sebelum pandemi terjadi. Mereka punya plasma bisnis baru memanfaatkan lahan sempit di area perkampungan itu. Ada bisnis peternakan, pertanian, hingga perikanan.

KWT ini merupakan kelompok kerja tingkat perkampungan Rt dan Rw di bawah naungan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang. Sejak Agustus 2019 lalu, pengurus KWT diberikan dana untuk mengelola perikanan, pertanian, dan peternakan.

”Sampai sekarang kami masih aktif,” imbuh salah satu anggota KWT Manunggal, Sriyati.

Menurut Sriyati, kebiasaan warga setempat, terutama kalangan ibu-ibu memang sedari dulu selalu aktif. Tidak hanya piawai dalam peternakan, perikanan, dan pertanian, mereka bahkan sudah menghasilkan berbagai karya dengan nilai jual tinggi.

”Dari dulu masyarakat sini, termasuk PKK-nya, dan organisasi lain selalu aktif. Kita punya kampung organik yang bagus, kelompok taninya juga kreatif-kreatif. Pada saat pandemi juga, kami buat cairan disinfektan, alat semprot dengan memanfaatkan barang bekas, alat cuci tangan, dan lainnya,” katanya.

Hasil pertanian dan peternakan ini pun dikumpulkan sebagai kas KWT Manunggal. Berawal dari kas KWT ini pula, mereka bisa memberikan bantuan sembako kepada warga yang terdampak pandemi.

Sementara itu, Ketua RW 07 Potrobangsan, Sugeng menambahkan, keberadaan KWT Manunggal mampu mendongkrak mental warga untuk memanfaatkan sesuatu dengan cara sederhana. Ia menyadari jika di Kampung Dumpoh tidak punya lahan yang cukup untuk pertanian, peternakan, apalagi perikanan. Namun, berkat kreasi ibu rumah tangga, Kampung Dumpoh kini berhasil disulap menjadi plasma bisnis pertanian.

”Walaupun hanya memanfaatkan lahan pekarangan tapi pemberdayaan masyarakat dan edukasinya sangat bagus. Kami harap KWT Manunggal akan terus eksis, tidak hanya soal pertanian akan tetapi juga masalah lain seperti penanganan sosial dan edukasi terhadap protokol kesehatan,” pungkasnya. (prokompim/kotamgl)

Artikel Menarik Lainnya :  Gagal Pertahankan Zona Hijau, Kelurahan Wates Magelang Utara Tetap Dapat Penghargaan