Penyandang Disabilitas Dipercaya Membuat Kue Kering

KUE. Sejumlah penyandang disabilitas mental di Balai Besar Disabilitas Kartini Temanggung sedang membuat kue kering. 

MAGELANGEKSPRES.TEMANGGUNG – Setelah mendapatkan pelatihan, belasan penyandang disabilitas mental di Balai Besar Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini Temanggung dipercaya memproduksi kue kering untuk dijual saat Hari Raya Idul Fitri 1442 H.

Kepala Bidang Layanan Teknis Rehabilitasi Sosial BBRSPDI Kartini, Proboretno Kuncororini mengatakan, penerima manfaat yang terjun memproduksi kue kering ini adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah mengikuti pelatihan.

“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang dilakukan Surabaya Hotel School pada 7-11 April 2021. Mereka sudah mempunyai sedikit bekal ilmu untuk membuat kue dari pelatihan waktu itu,” terangnya, Senin (19/4).

Ia menyebut, setidaknya ada 11 penerima manfaat yang terlibat dalam produksi kue kering ini. Mereka dibagi menjadi dua kelompok dalam produksi kue saat bulan Ramadan ini.

“Kami bagi menjadi dua kelompok agar mereka bisa bergantian dan beristirahat,” tuturnya.

Selain alasan tersebut lanjutnya, 11 penerima manfaat ini masih harus mengikuti kegiatan lainnya di panti, seperti terapi vokasional yang dilaksanakan di kelas, seperti menjahit dan membuat batik.

Baca juga
Meski Pandemi, THR Wajib Dibayarkan

Sehingga, waktu bagi mereka harus benar-benar diatur, agar mereka tetap bisa belajar dengan nyaman serta menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik.

“Waktunya kami atur supaya anak-anak bisa mendapatkan terapi vokasional tetapi juga bisa melanjutkan atau mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dari Surabaya Hotel School kemarin,” katanya.

Produksi pembuatan kue ini direncanakan sampai akhir April 2021, kemudian baru dijual ke masyarakat umum atau ke pegawai BBRSPDI Kartini. Jenis kue yang diproduksi, antara lain nastar, kastengel, kukis cokelat, kue kacang, dan lidah kucing.

“Sekarang anak-anak sudah menguasai ilmunya, walaupun tetap saja masih harus ada pendampingan dari pembimbing. Ilmu tidak boleh putus untuk anak disabilitas intelektual, kemarin ada pelatihan 5 hari, sekarang ada tindak lanjut seperti ini sehingga anak tidak lupa,” katanya.

Artikel Menarik Lainnya :  Bupati Temanggung: Perangkat Desa Adalah Pelayan Masyarakat

Dengan kegiatan ini, diharapkan mereka bisa secara mandiri untuk memproduksi berbagai kue yang nantinya bisa sebagai usaha di rumah setelah lulus nanti.

Proboretno mengungkapkan, penyampaian materi kepada anak-anak penyandang disabilitas intelektual dengan ajar latih ulang (ALU).

“Jadi hari ini diajari, besuk harus diingatkan lagi apa yang dipelajari kemarin. Oleh karena itu perlu ada pendampingan dari instruktur, kalau di rumah nanti pendampingan dari keluarga atau orang tua,” katanya.

Salah satu penerima manfaat Aulia (20) menuturkan, membuat kue kering ini menjadi salah satu kegiatan yang paling digemarinya, setelah sebelumnya mengikuti pelatihan.

“Sebelumnya juga sudah pernah, buatnya gampang dan mudah. Saya bisa dan rasanya enak,” tutur penerima manfaat asal Madiun ini.

Saat dirinya sudah pulang ke rumah nanti, akan membuat kue kering seperti ini dan berusaha akan dijual ke tetangga dan saudara.

“Nanti kalau sudah di rumah saya mau buat yang banyak untuk dijual,” tuturnya. (set)