Kreativitas Warga Kota Magelang Mengelola Sampah Daur Ulang Sampah, Bersihkan Lingkungan, juga Bantu Ekonomi Masyarakat

    Kreativitas Warga Kota Magelang Mengelola Sampah Daur Ulang Sampah, Bersihkan Lingkungan, juga Bantu Ekonomi Masyarakat

    MAGELANGEKSPRES.Pengelolaan sampah masih menjadi persoalan kompleks yang dihadapi kawasan perumahan di Indonesia hingga saat ini. Pengelolaan sampah masih bertumpu pada pendekatan sederhana, yaitu dikumpulkan, diangkut, dan bermuara di tempat pembuangan akhir (TPA). Hal ini diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi mengelola sampah. Namun, tidak semua masyarakat yang tidak peduli dengan pengelolaan sampah di lingkungannya. Di Kota Magelang yang memiliki lahan sempit nyatanya banyak masyarakatnya yang kreatif memanfaatkan sampah di sekitarnya untuk menambah sumber pendapatannya. Apa saja kreativitas masyarakat Kota Magelang?

    Prihatin dengan banyaknya sampah yang belum di dikelola masyarakat Kampung Jagoan 2 RW 4 Kelurahan Jurang Ombo Utara, Magelang Selatan, sepakat membentuk bank sampah yang dinamakan Bogenvile. Bank sampah yang dibentuk pada 2015 lalu ini ternyata konsisten melakukan pengelolaan sampah. Dengan jumlah 71 nasabah bank sampah ini telah memiliki toko sembako dengan modal usaha sampah.
    Ketua Bank Sampah Bogenvile, Enti Sri Hardani mengaku bersyukur masyarakatnya konsisten untuk mengelola sampah baik organik maupun anorganik. Meskipun hasil sampah yang dikumpulkan tidak banyak namun setidakanya dapat mengurangi pembuangan sampah. “Syukur Alhamdulilah anggota kami ada yang kreatif mengelola sampah anorganik dengan membuat berbagai kerajian. Meskipun tidak semua karena satu bulan sekali sampah anorganik disetorkan ke bank sampah induk milik Pemerintah Kota yang dikelola DLH,”tuturnya.
    Sampah-sampah plastik dari berbagai macam tersebut diolah menjadi kerajinan yang bernilai jual tinggi seperti tas, hiasan lampu, piring dan banyak lagi. “Piring snack ini misalnya memang hanya tidak semua anggota yang bisa, dengan kreatifitas ini kami sering mendapatkan pesanan dari berbagai daerah,”ujar Enti.
    Enti juga menuturkan tutup botol pun dibuat menjadi tas belanja yang unik. Apalagi tutup tas dari tutup botol ini tidak banyak bank sampah lain yang membuat. “Semua anggota yang menyetorkan sampah kami terima, mereka boleh menukar sampah mereka dengan beras, kerajinan dari sampah ataupun kebutuhan pokok lainnya,”ungkapnya.
    Toko yang dikelola bank sampah Bogenvile ini ternyata juga memberikan pemasukan lebih sehingga hasilnya dapat dipakai untuk membeli seragam, membayar listrik toko, memberi sembako saat mendekati hari raya.
    Enti juga mengungkapkan produk kompos yang dihasilkan oleh bank sampah Bogenvile juga banyak dipesan konsumen. Dipaparkannya jika masih banyak kekurangan bahan baku untuk membuat kompos. “Untuk kompos kami kadang ngambil sampah-sampah sayuran dari warung makan atau rumah makan untuk dibuat kompos, kebutuhan kompos masih kurang banyak peminat,”tambahnya.
    Enti pun mengaku menerima jika ada warga dari RTnya yang ikut menyetorkan sampahnya ke bank sampah Bogenvile. “Dari bank sampah terdekat juga terkadang nitip untuk menjualkan hasil komposnya kepada kami, karena kami masih kekurangan tentunya kami membantu menjualkan,”katanya.
    Selain di Jagoan 2, ada juga sekelompok masyarakat yang konsisten mengelola sampahnya di Kota Magelang, yaitu di Kampung Kebonsari RT 3 RW 1 Kelurahan Kedungsari, Magelang Utara dengan awal membentuk bank sampah Sari Makmur, kini warga terutama para ibu-ibunya lebih fokus dengan kampung organiknya yang diberi nama Aari Makmur. “Awalnya Sari Makmur memang nama bank sampah namun karena kami konsen dalam pengelolaan sampah organik dan memberdayaakan hasilnya ke tanaman maka lebih fokus ke kampung organik,”tutur Irma Nur Khalifah, Sekretaris Kampung Organik Sari Makmur saat ditemui disela-sela waktunya membuat kompos.
    Setiap harinya kampung organik ini konsisten secara terjadwal mengambil sampah-sampah di rumah warga untuk dijadikan kompos. “Ada 5 kelompok setiap kelompok ada 3-4 ibu-ibu yang bertugas mengambil, mencacah dan membuat kompos. Jadwal piket ditentukan berdasarkan kesepakatan semua anggota,”ungkap Irma.
    Kompos dari Sari Makmur sudah banyak dipesan hingga kualahan menghadapi pesanan. Hasilnya dibagikan kepada warga yang melakukan piket dan untuk kas bank sampah. “Beberapa kali bank Sampah Sari Makmur ini mewakili Kota Magelang untuk mengikuti lomba dan menang. Hasilnya dipergunakan untuk peningkatan bank sampah seperti pengadaan alat-alat dan renovasi tempat,”kata Irma.
    Irma mengaku bank sampahnya juga membuat inovasi pemanfaatan limbah minyak jelantah untuk dibuat sabun. Inovasi tersebut didapatkannya saat mengikuti pelatihan di Jogja. “Pemanfaatan limbah minyak ini sangat bagus, tapi untuk pembuatnnya belum setiap hari dilakukan,”imbuhnya.
    Sementara Plt Pengelolaan dan Penanganan Sampah, DLH Kota Magelang Widodo SP mengungkapan pihaknya pengelolaan sampah organik di Kota Magelang sebagian besar di Kompos. Pemanfaatan sampah yang dipilah baru 5,9% dari 8 ton yang masuk TPA setiap harinya. Rencana kedepan akan mendatangkan teknologi organik sehingga sampah mudah membusuk. “Kami sudah ada pembudidayaan maggot yaitu larva dengan nama latin Hermetia illucens
    Proses pengembangbiakan Hermetia illucens dan bagaimana lalat-lalat hitam itu mengurai sampah rumah tangga sudah dilakukan dibeberapa TPA di Kota Magelang seperti TPA Potrobangsan dan Cacaban. “Rencana anggaran perubahan kedepan kami akan memperbanyak pembusidayaan maggot untuk sampah organik, sementara sampah plastik akan dijual lagi untuk dijadikan bahan campuran aspal seperti hanya didaerah lain juga sudah melakukannya,”katanya.
    Widodo berharap semua pihak banyak mendukung pembudidayaan maggot ini untuk mengatasi banyaknya sampah di Kota Magelang karena ini adalah teknologi alami yang bermanfaat untuk mengurangi jumlah sampah di Kota Magelang. (*)