Sukses di Ajang Muslim Fashion Festival 2021

MAGELANGEKSPRES.PURWOREJO – Desainer muda asal Berjan Desa Gintungan Kecamatang Gebang Purworejo, Hj Khoirun Nisa’ baru saja tampil di ajang Muslim Fashion Festival Indonesia (Muffest) 2021 yang digelar di Hartono Mall Jogjakarta. Dalam event bergengsi itu, ia bersanding dengan puluhan desainer busana muslim Indonesia.

Ditemui Purworejo Ekspres, Rabu (14/4) pemilik brand Li Boutique dan Li Scraft tersebut mengaku dalam Muffest 2021 dirinya mengusung karya desain seni terapan yakni beragam busana bermotif typography dari berbagai negara seperti Korea, Jepang, Arab, India maupun huruf Latin.

“Semua desain ini memiliki filosofi dan cerita yang melingkupinya. Huruf-huruf itu di tata sedemikian hingga menyerupai desain news paper dari berbagai negara di dunia,” tuturnya seraya menyebut nama Li itu diambil dari nama sang anak, Marsya Likhoirina.

Lebih lanjut dikatakannya, dirinya menggeluti dunia fashion sebenarnya sudah cukup lama. Hal itu berawal dari hobi coret-coret desain busana di kertas yang memang baru ia seriusi setahun belakangan dengan mengibarkan bendera Li Boutique dan Li Scraft. “Kebetulan saya suka mempelajari bahasa asing. Hal itu pulalah yang saya kira menginspirasi desain motif typography karya Li Scraft tahun ini,” katanya.

Ia mengaku cukup serius menggarap desain-desain tersebut agar menjadi karya yang memiliki karakter kuat sehingga dapat di terima pasar Indonesia bahkan dunia. Bentuk keseriusan itu salah satunya adalah dengan mendaftarkan seluruh karya ciptaannya ke Kementerian Hukum dan HAM RI guna memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan.

“Alhamdulillah seluruh karya Li Boutique dan Li Scraft telah terdaftar di Kemenkumham sehingga memiliki perlindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan seni dan sastra berdasarkan undang-undang nomer 28 tahun 2014 tentang hak cipta,” imbuhnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Dianggap Janggal, Proyek Jalan Desa Bragolan Diadukan ke Polisi

Langkah tersebut diambil setelah beberapa karyanya diplagiat oleh orang lain dan sempat terjual hingga ratusan pcs sehingga sangat merugikannya. “Kami sebagai brand lokal yang baru tumbuh dan berkembang tentu akan terbunuh jika tidak menempuh upaya hukum guna melindungi karya kami,” tandasnya.

Di singgung mengenai respon pasar, ia mengungkapkan bahwa meski masih dalam masa pandemi covid-19, responnya sangatlah bagus. Bahkan beberapa desain jilbabnya mampu menembus pasar Timur Tengah dan Asia. “Alhamdulillah pasar Indonesia juga memberikan respon yang luar biasa. Respon tersebut membuat kami semakin optimis untuk terus berinovasi menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Setelah sukses dengan desain motif typography, ia mengaku saat ini tengah mempersiapkan desain untuk tahun depan. Namun ia enggan mengupas detail konsep apa yang tengah ia persiapkan itu. “Takut dibajak orang idenya. Haha. Bocorannya, jika tahun ini temanya tentang dunia luar dan typography, tahun depan insya Allah akan lebih pada bagaimana mengeksploitasi khazanah budaya nusantara. Tunggu saja,” pungkasnya. (adv/luk)