Pemkot Magelang Terapkan Program Padat Karya Tunai, Kurangi Beban Warga di Tengah Pandemi

Pemkot Magelang meluncurkan program Cash For Work (CFW) atau Padat Karya Tunai (PKT) di Pendopo Mantyasih, yang menjadi tempat sakral karena diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Magelang pada tahun 907 M.
PADAT KARYA. Pemkot Magelang meluncurkan program Cash For Work (CFW) atau Padat Karya Tunai (PKT) di Pendopo Mantyasih, yang menjadi tempat sakral karena diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Magelang pada tahun 907 M.

MAGELANGEKSPRES.MAGELANG – Pemkot Magelang menerapkan program Cash For Work (CFW) atau Padat Karya Tunai (PKT) yang diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun ini. CFW dimulai dilaksanakan di Kampung Meteseh, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Jumat (9/4).

CFW melibatkan setidaknya 500 pekerja yang merupakan warga terdampak pandemi Covid-19 dari 10 kelurahan di Kota Magelang. Antara lain Jurangombo Utara, Magersari, Tidar Selatan, Kedungsari, Wates, Panjang, Magelang, Kemirirejo, Cacaban, dan Gelangan.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Magelang Handini Rahayu menyebutkan, pemerintah menggelontorkan dana total sebanyak Rp3 miliar atau sebesar Rp300 juta per kelurahan untuk program tahun 2021 ini.

“Kegiatan ini berupa pekerjaan peningkatan infrastruktur pemukiman yang sudah mulai menurun kualitasnya. Program ini sekaligus mendukung mewujudkan Kota Magelang Tanpa Kumuh (KOTAKU) tahun 2024 sesuai dengan temanya CFW yakni Infrastruktur Terawat, Ekonomi Terangkat,” papar Handini, saat peluncuran CFW di Kampung Meteseh.

Hadir pada kegiatan peluncuran itu, Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz, Wakil Walikota Magelang KH Mansyur, Sekda Kota Magelang Joko Budiyono, pengurus lembaga kemasyarakatan di Kota Magelang dan lainnya

Dikatakan Handini, tema CFW ini berkaitan pula dengan upaya pemerintah untuk mitigasi pandemi Covid-19 dengan memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga berpenghasilan rendah, masyarakat terdampak pandemi seperti korban PHK, penghasilan menurun dan sebagainya.

“Jadi kegiatan ini dimaksudkan untuk percepatan pemulihan ekonomi masyarakat setelah terdampak pandemi Covid-19,” ucap perempuan yang akrab disapa Dini itu.

Sementara itu, pembukaan kegiatan sengaja digelar di Pendopo Mantyasih Kampung Meteseh, Kelurahan Magelang. Pasalnya, pada 11 April besok, Kota Magelang akan memperingati hari lahir ke-1115 tahun, di mana Kampung Meteseh atau Mantyasih adalah desa perdikan pertama di Magelang, sekaligus dijadikan acuan hari lahirnya Magelang pada tahun 907 M.

Artikel Menarik Lainnya :  10 Mahasiswa Fakultas Teknik Positif Covid-19, Untidar Larang Semua Kegiatan di Dalam dan Luar Kampus

“Di sisi lain, di kampung ini masih terdapat sekitar 10 hektar kawasan kumuh. Meski kawasan kumuh kategori ringan tapi perlu diperhatikan. Maka kita perlu dukungan semua pihak untuk mensukseskan program CFW ini,” imbuh Dini.

Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengatakan, CFW adalah kegiatan pemerintah guna merawat dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Khususnya mereka yang terdampak Covid-19.

“Program ini bagus, juga menjadi upaya pemerintah agar yang terdampak Covid-19 tidak semakin tertekan. CFW diharapkan juga bisa menuntaskan kekumuhan di Kota Magelang yang masih 10 persen, saya ingin di tahun 2021 ini selesai, tidak perlu menunggu sampai 2024,” tandasnya.

Pihaknya meminta semua unsur terlibat dan mendukung program pemerintah. Aziz meminta tidak ada pihak atau OPD yang berjalan sendiri-sendiri dalam bekerja, namun harus bersatu untuk kemajuan Kota Sejuta Bunga ini.

Lebih lanjut, padat karya juga memberikan keuntungan lain karena mampu menyerap tenaga kerja 500 orang di Kota Magelang. Mereka diberi upah Rp70.000 per orang per hari selama program berlangsung dua bulan ke depan. Menurutnya, program ini juga bisa membantu mengentaskan kemiskinan.

“Tapi program ini harus berkelanjutan, dan harus berkesinambungan dengan program yang lain. Agar para tenaga kerja ini bisa terus bekerja setelah program CFW selesai. Jangan sekadarnya saja, apalagi ini di tempat awal Kota Magelang terbangun, kita bangkitkan sejarah, kita harus berubah menuju lebih baik,” pungkasnya. (wid)