Warga Muntilan Pranowo Singgihsandjojo Kembangkan Kloning Porang Bantu Ketersediaan Bibit Melalui Kultur Jaringan

    Pranowo saat menunjukan hasil kultur jaringan tanaman porang di Laboratorium miliknya
    KLONING. Pranowo saat menunjukan hasil kultur jaringan tanaman porang di Laboratorium miliknya.

    MAGELANGEKSPRES.Salah satu manfaat yang bisa didapatkan dari pengolahan porang yaitu sebagai bahan substitusi karbohidrat. Selain itu, porang memiliki kandungan glukomanan yang tinggi dengan pemanfaatan sangat beragam diberbagai industri seperti kosmetik, farmasi, pangan, hingga manufaktur. Saat ini tanaman porang baru booming sehingga bibit menjadi langka dan mahal, bagaimana solusinya?

    PORANG yang memiliki nama latin Ammorphophalus Muelleri Blume merupakan tanaman herba berumbi yang menyimpan potensi sangat besar apabila dimanfaatkan dengan baik.

    Masih kurangnya persedian bibit porang di Indonesia, salah satu staf ahli kultur jaringan di Mabelang Pranowo Singgihsandjojo sekaligus pemilik Laboratorium V&M Biotechnologi di Magelang ingin membantu ketersediaan bibit porang melalui kultur jaringan.

    “Saya ingin membantu dalam menyediakan bibit porang yang terjangkau, berkualitas, dan terjamin asal usul varietasnya. Selain itu, saya ingin mempromosikan kultur jaringan ke seluruh Indonesia sebagai solusi penyediaan bibit tanaman dalam jumlah besar dengan harga terjangkau, supaya petani kecil mampu membeli bibit yang berkualitas,” tutur Staf Ahli Kultur Jaringan di beberapa perusahaan tersebut.

    Menurut pria kelahiran Boyolali, 19 September 1966 persiapan yang dilakukan untuk mengkloning secara detailnya, persiapan bibit, resep, media, ruangan, suhu dan perlakuan.

    “Pertama, untuk bibit kami mengambil dari Klangon, Madiun, dimana Porang Varietas Madiun 1 ditemukan. Kebetulan saya menjadi pembahas sekaligus ikut merumuskan Kepmentan No 620 tahun 2020,” katanya.

    Kedua, untuk media menggunakan MS yang telah dimodifikasi disesuaikan dengan sifat tanaman porang. Ketiga, ruang inkubasi hasil kultur ditumbuhkan dalam botol cukup dengan suhu ruang, tidak memiliki ventilasi dan tidak menggunakan AC, dengan suhu rata rata 28-32°C pada siang hari dan 25-29°C pada malam hari. Sirkulasi udara hanya menggunakan exhaust fan 2 buah yang dipasang di atas pintu masuk.

    Ketiga, untuk perlakuan eksplan dengan cara dicuci bersih kemudian direndam di dalam larutan fungisida dan bakterisida.

    “Untuk ruang kultur jaringan kami tidak menggunakan AC seperti di kebanyalan laboratorium kultur lainnya namun hasilnya malah lebih cepat dan tidak banyak yang kontaminasi,”tuturnya.

    Proses atau tahapan mengkloning porang. Pertama, menyiapkan eksplan yang sehat untuk meminimalisir kontaminasi. Ia menggunakan umbi katak sebagai eksplan.

    Kedua, cuci bersih eksplan supaya kotoran yang terbawa luruh terlebih dahulu. Ketiga, lakukan inisiasi di dalam laboratorium.

    Keempat, pantau hasil inisiasi selama beberapa waktu. Kelima, jika inisiasi berhasil maka kita harus melakukan multiplikasi agar menghasilkan lebih banyak individu baru.

    “Kloning porang cukup mudah multiple ratenya tinggi. Saya meyakini bahwa seluruh petani, mahasiswa, ataupun orang awam mampu melakukan kultur jaringan tanaman porang dengan metode yang saya ajarkan,” jelasnya.

    Pranowo mengaku memulai kultur jaringan porang sejak tahun 2019, tepatnya 15 Desember 2019, setelah menjadi narasumber dan pembahas selama 3 hari sebelumnya di Madiun bersama DitJen Tanaman Pangan di Hotel Aston Madiun selama 3 hari.

    Hasil inisasi menimbulkan respon dan mulai tumbuh pada 22 Januari 2020. Rata rata patah dormansi sejak inisiasi membutuhkan waktu 2 – 4 bulan. Untuk mencapai tahap aklimatisasi dibutuhkan setidaknya waktu satu tahun untuk menghasilkan 10.000 bibit dari satu potongan umbi katak.

    Kesulitan yang dihadapi yaitu kurang baiknya kondisi pascapanen umbi katak. Petani kita masih menggunakan teknik yang tradisional dengan menghampar nya di tempat terbuka dan tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

    “Hal ini menyebabkan tingkat kontaminasi di dalam laboratorium sangat tinggi, sehingga membutuhkan ketelatenan serta ketekunan untuk berhasil,” tambahnya.

    Setelah mendapat hasil kloning porang ini dia berharap Indonesia tidak kekurangan bibit porang lagi. Hasil kloningnya ini dapat dipasarkan kepada para petani, pengusaha, ataupun orang orang yang menginginkan bibit dengan harga terjangkau.

    “Sebagai praktisi kultur jaringan, saya berharap kultur jaringan bisa diterapkan hingga ke tingkat kelompok tani dengan dukungan pemerintah supaya para kelompok tani dapat memproduksi bibit hasil kultur jaringan. Sesuai dengan Visi dan Misi V&M Biotechnology. Maju Pertanian Indonesia dengan Kultur Jaringan,” ungkapnya.

    Menurut Pranowo setiap Dinas Pertanian, Balai Besar, Sekolah Menengah Kejuruan, Politeknik, PTN/PTS yang mempunyai Laboratorium Kultur Jaringan dapat berjalan dan berproduksi secara kontinyu bibit porang.

    “Kultur jaringan mudah sederhana dan menyenangkan,” tandasnya. (*)