135 Wisudawan STAIAN Diminta Jadi Duta Islam Toleran

Ketua Dewan Senat STAI An-Nawawi Purworejo, KH Achmad Chalwani MH saat mewisuda mahasiswa
WISUDA. Ketua Dewan Senat STAI An-Nawawi Purworejo, KH Achmad Chalwani MH saat mewisuda mahasiswa STAI An-Nawawi, 

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO- Para sarjana yang dicetak oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di bawah Kementerian Agama banyak memiliki keunggulan sehingga diharapkan dapat menjadi Duta PTKI yang mampu menyikapi menjamurnya gerakan keagamaan intoleran dan radikal di Indonesia. Selain itu, para sarjana juga harus aktif berpartisipasi dalam mewujudkan Indonesia sebagai kiblat pendidikan Islam dunia.

Hal itu disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama, Nuruzzaman, saat menghadiri Wisuda Sarjana Angkatan VII Tahun Akademik 2020/2021 Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Purworejo, Sabtu (27/3). Prosesi wisuda berlangsung secara Luring (luar jaringan,red) di auditorium kampus setempat dan secara Daring (dalam jaringan,red) melalui aplikasi Zoom dan Youtube. Hadir langsung antara lain KH Achmad Chalwani MH (Ketua Dewan Senat/Yayasan PP An-Nawawi), KHR Maulana Alwi SH (Ketua Yayasan An-Nawawi), Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA (Menteri Pendidikan Tahun 2009 – 2014 yang juga Ketua PBNU Periode 2015-2020), dan Dr Ruswan MA (Sekretaris Kopertis Wilayah X Jawa Tengah).

“Saya berharap sekembalinya saudara-saudara ke tengah masyarakat dapat menjadi duta PTKI, duta untuk mengabarkan kebaikan, keunggulan, kekhasan, dan keunikan PTKI di masyarakat,” kata Nuruzzaman.

Pihaknya juga berpesan agar para wisudawan tidak puas dengan gelar sarjana, perlu meningkatkan studi lanjut S2 dan S3, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dengan demikian, mampu ambil bagian membangun Indonesia dengan menampilkan wajah Islam yang rahmatan lilalamin.

“Saudara semua dapat menjadi pemimpin agama, kader penggerak, pembimbing masyarakat, serta dai-dai transformatif, yang dicintai masyarakat. Negara memanggil saudara untuk aktif berpartisipasi, mewujudkan indonsia sebagai kibalt pendidikan Islam dunia,” tegasnya.

Ketua STAIAN Purworejo, Hj Ashfa Khoirunisa’ MSi, dalam pidatonya menyebut ada sebanyak 135 lulusan yang diwisuda kali ini. Mereka berasal dari 4 Program Studi, yakni Hukum Ekonomi Syariah (Mu’amalah) 98 orang, Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) 4 orang, Perbankan Syariah 29 orang, dan Studi Manajemen Pendidikan Islam 4 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 tercatat meraih predikat cumlaude.

Artikel Menarik Lainnya :  Pasang EWS, Debit Air Sungai Jali dan Sungai Dulang Bisa Dideteksi

“Acara wisuda merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kami kepada  orang tua dan wali serta instnasi yang ikut berkontribusi dalam proses pembelajaran mahasiswa selama berada di lingkungan kampus bahwa mereka kini sudah siap dilepas untuk pengabdian selanjutnya,” ungkapnya.

Diungkapkan, STAIAN di bawah naungan Yayasan An-Nawawi hadir untuk mengembangkan diri dalam rangka memenuhi ekspektasi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya warga Nahdhiyyin. Saat ini, STAIAN menjadi institusi pendidikan tinggi Islam yang tidak hanya memiliki competitive advantages dan comparative advantages dalam berbagai aspek, melainkan juga memiliki reputasi sebagai center of the knowledge production & excellent character constructions (Islam Kaffah) yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai akademik ilmiah dan agama (Pendidikan berbasis Pesantren).

Menurutnya, para mahasiswa yang sebelumnya biasa berpikir dalam lingkup kampus terbatas, pasca diwisuda harus membuka cakarawala berpikir lebih luas, progresif, dinamis, serta responsif.

“Artinya, mampu menangkap peluang dan kesempatan yang ada di depan mata dengan cermat dan semangat pantang putus asa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.

Dr Ruswan MA menjelaskan bahwa di Jawa Tengah terdapat 50 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Dari jumlah itu, 8 diantaranya merupakan Universitas, 3 merupakan Institut, dan 39 lainnya adalah sekolah tinggi.

“Dari 50 berbasis yang berbasis pesantren ada 9, Yang dipimpin perempuan ada 4 salah satunya adalah STAI An-nawawi,” jelasnya.

Lebih lanjut pihaknya sangat mengapresiasi semangat modernisme dalam aspek-aspek formalitas di STAIAN.

“Semoga STAI An-Nawawi menjadi Kampus Merdeka yang bisa menjadi contoh kurikulum yang terintegrasi dengan pesantren,” tandasnya. (luk)