Melihat Lebih Dekat Budaya Thrifting di Purworejo

    Foto lukman BELANJA. Bazar pakaian bekas impor Purworejo Thrift Market (PTM) yang digelar dengan protokol kesehatan yang ketat.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Peluang bisnis pakaian bekas impor cukup menggiurkan. Anak-anak milenial di Purworejo banyak melirik bisnis tersebut. Mereka bernaung di bawah bendera Purworejo Thrift Market (PTM). Pekan lalu, mereka membuat bazar yang digelar dengan protokol kesehatan yang ketat. Seperti apa?

    Istilah trifting kini tak lagi asing bagi generasi muda, milenial di Purworejo. Thrifting sendiri kegiatan jual beli barang bekas yang kualitasnya masih bagus. Yang lazim dijadikan obyek adalah pakaian bekas.

    Ditemui di sela-sela event Purworejo x Kebumen Thrift Market akhir pekan laku, pentolan PTM, Dicky Setiawan mengungkapkan jika sejak beberapa tahun terakhir, bisnis pakaian bekas dari brand ternama dunia yang kualitasnya masih sangat layak pakai cukup banyak diminati.

    “Anak-anak muda sekarang sudah banyak yang melek brand. Kalau pakai yang kw malu. Jadi mending beli yang bekas tapi jelas original,” kata anak muda yang telah menggeluti dunia thrift market sejak empat tahun terakhir ini.

    Mindset tersebut menjadi trend di kalangan anak-anak muda yang berbanding lurus dengan terbangunnya pasar thrift market di Purworejo. Mereka tidak lagi malu membeli pakaian bekas, yang penting original.

    “Bahkan mending bekas tapi asli daripada baru tapi kw,” imbuhnya.

    Dicky menambahkan, dalam event bazar thrift market yang digelar untuk pertama kalinya di Purworejo tersebut respon pasar cukup menggembirakan. Dengan situasi pandemi covid-19 dan promosi hanya via media saja, tidak kurang dari 500 transaksi terjadi dengan nilai puluhan juta rupiah. Bahkan banyak juga pengunjung dar luar kota seperti Jogja, Temanggung, Kebumen, Magelang hingga Salatiga.

    “Bagi kami, sudah cukup baguslah nilai transaksinya. Namun karena memang baru pertama kali digelar sehingga masih perlu evaluasi dan perbaikan-perbaikan untuk penyelenggaraan yang akan datang,” terang Dicky.

    Dalam bazar yang digelar gabungan oleh pemain thrift market dari Purworejo dan Kebumen tersebut sebanyak 22 stand terisi dengan beragam dagangan seperti hoodie, crewneck, ziphoodie, kemeja, kaos, celana, sepatu, topi hingga kacamata. Brand yang ditawarkan juga bervariasi seperti GAP, Dickies, Nike, Adidas, Uniqlo, Thraiser, Pancoat dan masih banyak lagi.

    “Bazar ini bukan semata-semata bagaimana agar dagangan laku, tapi juga bagian dari kampanye memperkuat branding thrift market agar semakin dikenal dan disukai oleh masyarakat khususnya anak-anak muda,” katanya.

    Kedepan, event ini akan digelar secara berkala karena dampaknya terhadap kegiatan bisnis pakaian bekas ini cukup bagus.

    “Terlebih saat ini kami sudah bergabung dalam paguyuban PTM sehingga satu sama lain dapat saling membantu. Selama ini kami banyak bermain di wilayah online, kami mencoba untuk mengimbanginya dengan usaha-usaha secara offline,” katanya.

    Salah satu pembeli, Alfa warga Loano memandang bahwa berbusana modis tidak hanya berasal dari barang-barang mewah dan mahal. Namun, barang-barang branded juga bisa didapatkan ketika thrifting. Tidak hanya tampilan keren dari hasil perpaduan si pemakai, namun barang-barang hasil thrifting tersebut kerap terlihat menarik, unik, dan tidak pasaran.

    “Bahkan jika beruntung, pembeli bisa menemukan barang-barang branded dengan harga yang sangat terjangkau,” katanya.

    Keuntungan lainnya dari thrifting adalah busana yang lebih awet dan tidak mudah rusak dikarenakan sudah terbukti oleh pemilik sebelumnya. Pembeli juga dapat menemukan barang-barang langka yang jarang dijumpai.

    “Bahkan pembeli mungkin saja mendapatkan barang limited edition yang sudah tidak diproduksi,” tandasnya. (*)