Perbankan Bantu UMKM

Perbankan Bantu UMKM

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Pemerintah melalui perbankan selama ini telah berupaya untuk membantu para pelaku UMKM, terlebih di masa pandemi Covid-19. Namun, karena situasi sulit mereka sulit untuk mengakses permodalan.

Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara mengatakan, perbankan Indonesia saat ini memberikan akses pembiayaan kepada UMKM dengan porsi 30 persen dari total penyaluran kredit.

“Tidak tepat jika dikatakan bahwa bank tidak memberikan kredit UMKM. Total kredit di Indonesia sekitar 35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang mana sekitar 30 persen adalah untuk UMKM,” ujar Mirza kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (19/2).

Tenaga Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan juga menyebut dari sisi regulasi, sudah ada keberpihakan perbankan terhadap sektor UMKM.

“Bank Indonesia sudah mewajibkan minimum 20 persen kredit harus untuk UMKM. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah memberikan insentif keringanan permodalan bagi bank yang memberikan kredit UMKM dalam bentuk bobot Asset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) 40 persen,” tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, di masa pandemi pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah memberikan dua insentif kepada UMKM, yaitu subsidi bunga dan penjaminan kredit lewat Askrindo dan Jamkrindo.

“Tapi tentu saja karena total kredit di Indonesia memang masih kecil yaitu baru 35 persen PDB, dibandingkan negara lain yang total kredit nya bisa mencapai 70 persen – 100 persen PDB, maka sektor perbankan memang belum bisa menjangkau seluruh pengusaha UMKM,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut dia, diperlukan kolaborasi yang baik antara perbankan dengan instansi lain, seperti Kementerian Dalam Negeri hingga Kemenkop dan UKM, agar ke depannya penyaluran kredit UMKM bisa lebih baik lagi dan menjangkau lebih luas lagi.

Artikel Menarik Lainnya :  Dukung Penanganan Pandemi Covid-19, KPPN Magelang Cairkan Lebih dari Rp 365 Miliar

“Diperlukan infrastruktur informasi kredit yang lebih luas supaya bank mempunyai data-data yang lebih lengkap tentang debitur UMKM yang potensial, misalnya data dari Biro Kredit, informasi calon debitur lewat Dukcapil dan lain-lain,” sebut Mirza.

Sementara itu, Corporate Secretary Bank Rakyat Indonesia (BRI) Aestika Oryza Gunarto menyampaikan, bahwa Bank BRI tetap berkomitmen untuk mengedepankan sektor UMKM di dalam penyaluran kreditnya di 2021.

“Untuk tahun 2021 secara keseluruhan BRI menargetkan pertumbuhan kredit berada di kisaran 6 – 7 persen year on year. Hingga akhir Desember 2020,” ujarnya kepada FIN, kemarin.

Adapun, kata dia, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp938,37 triliun, di mana sebesar 82,13 persen atau sebesar Rp770,65 triliun merupakan kredit kepada UMKM.

Peneliti dari INDEF Media Wahyudi Askar mengatakan, pelaku UMKM setidaknya harus memahami lima hal, agar tidak mengalami kesulitan terhadap akses kredit perbankan.

Pertama, harus menghitung kebutuhan modal berdasarkan rencana usaha, kedua harus mengenal ragam akses permodalan, ketiga harus bisa menghitung aset dan nilai perusahaan untuk negosiasi dengan calon investor (Perbankan/pemberi model), keempat yaitu mendiskusikan detail perjanjian dengan calon investor, dan terakhir adalah melakukan evaluasi biaya modal.

“Jika bisa melakukan itu, maka UMKM pasti akan mudah mendapatkan akses permodalan. Modal di sini bukan hanya perbankan saja, tapi juga investor lain,” ujar Media kepada FIN, kemarin. (git/din/fin)