Curah Hujan Tinggi, Produksi Padi di Temanggung Turun

PANEN. Salah seorang petani sedang memanen padi dilahannya, 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Tingginya curah hujan yang terjadi selama bulan Desember 2020 hingga Januari 2021, menyebabkan tanaman padi milik petani tidak bisa berproduksi maksimal. Sehingga panen raya padi diawal tahun 2021 ini menurun hingga 40 persen.

Jayadi salah satu petani padi di Desa Gambasan Kecamatan Selopampang menuturkan, panen raya diawal tahun ini sangat jauh dari harapan petani. Biasanya diawal panen seperti ini produksi gabah bisa lebih maksimal, namun ternyata panen raya menurun hingga 40 persen.

Ia menuturkan, produksi gabah kering panen tahun ini karena beberapa penyebab diantaranya, karena faktor cuaca dan tingginya curah hujan pada malam hari selama musim tanam hingga perkembangan tanaman padi.

“Cuaca memang sangat menentukan, semakin tinggi curah hujan terutama pada malam hari, maka akan sangat berpengaruh perkembangan tanaman padi,”tuturnya, Senin (1/2).

Biasanya kata Jayadi, untuk lahan dengan luas antara 2.000 hingga 2.500 meter,menghasilkan paling tidak antara1,2 ton hingga 1,4 ton gabah kering panen (GKP). Namun saat ini dalam luasan yang sama paling banyak hanya menghasilkan 7 sampai 8 kuintal GKP saja.

Baca Juga
342 Nakes di Temanggung Gagal Divaksin

Selain cuaca, turunnya produksi padi diawal tahun ini, karena disebabkan oleh hama yang menyerang. Seperti wereng coklat, tikus dan hama-hama lainnya, sehingga produksi padi diawal tahun ini menurun drastis.

“Kalau sudah terserang hama tikus, bisa-bisa petaninya yang tidak panen. Kalau hama lainnya masih bisa kira-kira,”ujarAmin Nuryanto petani lainnya.

Tidak hanya produksi saja, namun kualitas dari gabah yang dipanen juga mengalami penurunan. Biasanya beras yang diproduksi diawal tahun ini warna dan rasanya tidak seperti gabah yang dipanen pada saat bulan Mei dan Juni.

Artikel Menarik Lainnya :  Pinsar Bantu 20.000 Butir Telur untuk Nakes Temanggung

“Kan kalau sekarang ini hujan sering turun, kadang-kadang jam 11 siang saja sudah tidak panas, bahkan beberapa kali juga tidak ada sinar matahari, sehingga untuk mengeringkan gabah juga cukup sulit,”tuturnya.

Menurutnya, pengeringan gabah memang menjadi salah satu faktor penyebab dari naik atau turunnya kualitas gabah. Disisi lain benih yang ditanam juga menentukan hasil dari produksi serta kualitas dari gabah.

“Kalau faktor benih juga ada, tetapi tidak sebanyak faktor alam. Meskipun benihnya bagus namun jika pengeringannya tidak sempurna maka kualitasnya juga tidak akan bagus,”ujarnya.

Diakhir tahun 2020 lalu, Amin menanam padi dengan luas total lahan kurang lebih 7.500 meter. Lahan seluas itu ditanami tiga kali, sehingga saat ini baru satu lahan kurang lebih seluas 3.000 meter yang sudah panen.

“Panen sebelumnya kurang lebih menghasilkan 1,4 ton gabah, sekarang hanya 8 kuintal saja. Semoga saja dua lahan lainnya tidak seperti ini, hasilnya tetap bagus,”harapnya.(set)