Jatmiko, Pengrajin Wayang Kulit di Kota Magelang yang Masih Eksis Belajar Otodidak, Sudah 15 Tahun Bergelut di Dunia Wayang

    TELATEN. Jatmiko, perajin wayang kulit asal Kota Magelang terlihat telaten memegang kuas cat dan peralatan membuat wayang kulit.
    TELATEN. Jatmiko, perajin wayang kulit asal Kota Magelang terlihat telaten memegang kuas cat dan peralatan membuat wayang kulit.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Usianya sudah 50 tahun, tapi tangannya tetap kukuh menatah lembaran kulit. Membentuknya menjadi anak wayang kulit. Kegiatan yang sudah dia geluti selama 15 tahun ini. Dia adalah Jatmiko, pengrajin wayang kulit yang tinggal di Jalan Jagoan 2 Kampung Jagoan, Kelurahan Jurangombo Utara, Kecamatan Magelang Selatan.

    PRIA paruh baya, dengan rambut sedikit gondrong itu terlihat semangat beraktivitas tepat di ruang tamu rumahnya. Bercelana jeans dan kaos lengan panjang, lelaki ini duduk lesehan. Kepalanya tertunduk. Tangan kanannya dengan hati-hati membuat goresan di sebuah permukaan kulit hewan yang telah mengeras.

    Dengan telaten, ia kemudian membuat tepi di setiap goresannya dengan pisau pemotong dan gunting. Setelah dirasa jadi, ia pun kemudian menggunakan kuas dan cat warna-warni kemudian melukisnya menjadi tokoh pewayangan.

    Proses pembuatan wayang ini, disebutnya bisa dibilang cukup rumit. Seluruh bahan wayang juga harus benar-benar berkualitas. Pertama dari pemilihan bahan kulit.

    Jatmiko menyebut, kulit yang jadi bahan dasar pembuatan wayang memang harus kulit yang masih bersih dari bahan kimia. Pemilik Maharani Art ini mengaku pertama-tama bahan dasar kulit dibersihkan dari bulu, hingga kemudian dicuci dan dikeringkan. Setelah itu barulah proses pembentukan wayang dilakukan.

    Jatmiko bercerita, memang sedari kecil dia menyukai wayang kulit. Setiap kali ada pementasan wayang kerap ditontonnya, hingga sering membuat gambar wayang di atas kertas.

    Rupanya, keahlian ini ia dapat secara otodidak. Ia merasa sempat ingin menyerah kala itu karena gambarnya yang selalu tidak pas.

    ”Saya asal bikin saja, lalu berguru ke dalang dan perajin wayang lain untuk menilai wayang yang saya buat. Dari situ, ada koreksi yang bisa saya perbaiki di pembuatan berikutnya,” kata Jatmiko.

    Artikel Menarik Lainnya :  Menilik Program Padat Karya Tunai Dana Desa di Tlogokotes Bagelen

    Jatmiko terus berkarya dengan beragam tokoh. Berbagai pesanan dari seniman, dalang, hingga peminat souvenir dibikin dengan cermat. Tak terhitung berapa wayang yang ia buat dan tersebar di berbagai tempat.

    ”Semula bikin wayang untuk pementasan sesuai pesanan dalang. Lama-lama bikin juga wayang untuk souvenir,” katanya.

    Ia mengaku jika proses pembuatan tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Proses dimulai dari penipisan kulit kerbau dan dibentangkan untuk dijemur. Berikutnya dibuat pola dan dipahat/diukir. Terakhir pewarnaan dan pemasangan tangkai.

    ”Paling cepat seminggu jadi. Kalau yang rumit, seperti gunungan bisa sampai sebulan. Ukuran gunungan 85 cm, sedangkan tokoh hanya 55 cm. Gunungan memang lebih rumit, karena detail baik ukiran maupun warnanya,” jelasnya.

    Jatmiko mengaku, wayang buatannya sudah banyak beredar di Magelang, Jawa Tengah, bahkan sampai luar Jawa. Pernah dibawa ke Singapura oleh temannya yang memesan wayang kulit sebagai oleh-oleh kerabatnya di Singapura.

    ”Pesanan paling banyak satuan, terutama tokoh Gatotkaca. Kalau yang satu paket paling banyak Punakawan (4 tokoh). Harga bervariasi, seperti gunungan Rp2 juta, Gatotkaca Rp1,5 juta, dan Punakawan Rp2 juta,” tuturnya.

    Bicara soal keuntungan, yang didapat Jatmiko memang tak seberapa, dibandingkan dengan pengorbanannya membuat satu buah wayang kulit dengan karakter kuat. Akan tetapi, karena perasaan senang dan bahagianya itu yang membuat dirinya tetap semangat, meski bisnis kerajinan wayang sekarang ini kian meredup.

    ”Kalau sudah senang ya berkarya saja. Tidak pandang, berapa lama membuatnya, yang terpenting bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup,” pungkasnya. (*)