Selama 2020, BPBD Catat 219 Bencana Alam di Temanggung

ASSESMENT. Petugas BPBD sedang melakukan assesment di salah satu lokasi bencana tanah longsor. 
ASSESMENT. Petugas BPBD sedang melakukan assesment di salah satu lokasi bencana tanah longsor. 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, selama kurun waktu 12 bulan di tahun 2020 lalu, terjadi bencana alam sebanyak 219 kejadian. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian bencana alam, namun kerugian total mencapai Rp2,5 miliar.

Kepala BPBD Temanggung Dwi Sukarmei mengatakan, sejak awal tahun 2020 bencana alam bertubi-tubi terjadi di wilayah Kabupaten Temanggung, mulai dari tanah longsor, puting beliung, kebakaran hingga banjir.

Dari semua jenis bencana alam yang terjadi, paling banyak yakni tanah longsor dengan jumlah kejadian 117 titik dengan kerugian mencapai Rp1,3 miliar. Lalu bencana kebakaran sebanyak 28 kejadian dengan kerugian sekitar Rp950 juta, bencana angin ribut 59 kejadian dengan kerugian Rp655 juta, dan bencana banjir 15 kejadian dengan total prakiraan kerugian mencapai Rp277 juta.

“Dari ratusan bencana alam itu, alhamdulillah tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Pihaknya sudah memaksimalkan dana penanggulangan bencana yang ada untuk membantu korban dampak bencana. Sejumlah bantuan tambahan dari provinsi dan BNPB turut dimaksimalkan untuk menangani kebencanaan yang ada.

“Dana kesiapsiagaan pada 2020 sebenarnya tidak mencukupi untuk menanganinya. Karena itu, kami mengajukan ke provinsi dan BNPB, hasilnya bisa digunakan untuk melengkapi penanganan bencana,” terangnya.

Baca Juga
Rumah Budaya, Wadahi Pegiat Seni di Kota Magelang

Kata Dwi, pihaknya juga telah melaksanakan kegiatan fisik akibat bencana tanah longsor sebanyak 15 titik. Meliputi rumah hingga saluran irigasi dari dana rehab rekon BPBD. Selain itu, ada juga bantuan korban bencana, pembangunan fisik bangunan rusak, hingga pelatihan kebencanaan kepada desa.

“Kami juga akan bekerjasama erat dengan tim Gunung Merapi agar bisa mandapatkan informasi sedini mungkin dan bisa ikut menanggulangi,” ujarnya.

Kata Dwi, pada 2021 ini, pihaknya sudah mengalokasikan beberapa dana untuk penanganan kebencanaan. Meliputi rehab rekon Rp1,3 miliar, air bersih menanggulangi kekeringan Rp113 juta, kesiapsiagaan Rp519 juta,  logistik bahan bangunan Rp150 juta, dan logistik kerja bakti Rp49 juta.

“Karena itu, kami mengajak masyarakat agar tetap waspada dan mengantisipasi datangnya bencana, agar tidak sebesar 2020,” tutupnya.

Ia menambahkan, bencana alam yang terjadi di Kabupaten Temanggung bukan hanya karena cuaca saja, melainkan juga karena faktor kondisi geografis yang sebagian besar wilayahnya berada di pegunungan dan perbukitan.

“Bencana tanah longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi di Temanggung, sedangkan bencana banjir paling sedikit terjadi,” tandasnya. (set)