Merawat Pasar Rakyat di Tengah Situasi Abnormal Jaga Nuansa Tradisional, Transaksi Adaptif Era Digital

    Foto: GELIAT PASAR RAKYAT. Geliat pasar rakyat di tengah pandemi masih terlihat di Pasar Tiban Dalling Kledung Karangdalem Kabupaten Purworejo, 
    Foto: GELIAT PASAR RAKYAT. Geliat pasar rakyat di tengah pandemi masih terlihat di Pasar Tiban Dalling Kledung Karangdalem Kabupaten Purworejo, 

    MAGELANGEKSPRES.COM,Eksistensi pasar tradisional dari zaman ke zaman terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. Tak hanya dalam kondisi normal, saat situasi abnormal akibat pandemi Covid-19 seperti saat ini, pasar berbasis rakyat tetap bertahan. Wajar saja, warga di Kelurahan Kledung Karangdalem Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo antusias merintis dan menghidupkannya demi menjaga imunitas perekonomian.

    Suasana berseri menyelimuti persawahan yang mengelilingi Lingkungan Daleman RW 01 dan Gemuling RW 02 bagian barat, Minggu (27/12) pagi. Cahaya mentari perlahan menerangi ruas jalan rabat beton selebar 4 meteran yang membujur dari utara ke selatan serta timur ke barat dan bertemu di pertigaan.

    Lisa Riyana (33) bersama pedagang lain tampak bermasker dan sibuk menata meja beratap payung jumbo yang berfungsi sebagai lapak sederhana di bibir luar jalan. Sejumlah warga, mulai anak-anak hingga orang tua berseliweran. Ada yang jalan kaki, bersepeda, ada pula yang menggendong balitanya.

    Sejenak menghirup udara segar, mereka mendekati lapak-lapak yang berjarak. Makin siang makin ramai karena warga atau pesepeda dari desa-desa tetangga berdatangan cari sarapan sambil menikmati pemandangan berlatar puncak Gunung Sumbing di sisi utara.

    “Selepas Subuh kita para pedagang mulai angkut-angkut dan menata lapak. Biasanya sampai sekitar pukul 8.00 itu sudah banyak yang habis dagangannya,” kata Lisa, pedagang kuliner tradisional asal Lingkungan Daleman RW 01.

    Itulah sekilas suasana Minggu pagi atau hari libur lainnya di Pasar Tiban Dalling. Istilah Bahasa Jawa ‘tiban’ dipakai karena sebelumnya lokasi itu memang bukan pasar, tapi tiba-tiba ada aktivitas layaknya pasar. Sementara Dalling merupakan akronim dari Daleman- Gemuling.

    Keberadaannya belum lama, baru mulai pertengahan September 2020. Meski belum diresmikan, suda ada paguyuban lengkap dengan kepengurusan yang melibatkan pemangku wilayah setempat. Retno Waluyo (57), tokoh masyarakat yang juga membuka lapak bersama istrinya, dipercaya sebagai ketua.

    “Awalnya hanya ada 1 atau 2 lapak, tapi bertambah terus sampai sekarang ada sekitar 47 yang terdaftar. Ada yang pribadi, ada yang kelompok,” kata Retno Waluyo.

    Pasar Dalling muncul spontan atas inisiatif warga. Mereka yang memiliki naluri wirausaha melihat potensi berjualan saat ada event Ngunduh Layangan Bareng dalam rangka menyambut panen padi sekaligus mensyukuri rampungnya renovasi jalan.

    Lokasinya sangat strategis karena menjadi jalur olahraga dan mobilitas warga Doplang di sebelah utara, Perumahan KBN di sebelah timur, dan Kledung Kradenan dari arah barat.

    “Tidak ada penutupan agar tidak menggangu fungsi jalan. Karena ini jalur alternatif desa, jadi tidak banyak kendaraan besar, tapi kami tetap memberi rambu-rambu dan mengatur agar lapak tidak masuk ke jalan,” imbuhnya.

    Pasar Dalling memang sengaja dibuka dengan misi utama penyelamatan UMKM lokal dan pemulihan ekonomi. Namun, maraknya festival pasar rakyat di berbagai daerah akhir-akhir ini juga memotivasi paguyuban untuk mengembangkannya dengan berbagai aktivitas, mulai olahraga, seni, budaya, hingga jadi pariwisata.

    “Jadi destinasi wisata cukup potensial. Tapi untuk saat ini kita akan fokus dulu agar dagangan selalu laku dan warga mendapatkan tambahan pemasukan. Sambil menunggu pandemi berakhir,” sambungnya.

    Pasar rakyat ini terbilang adaptif. Urusan protokol kesehatan diterapkan ketat. Mengangkat semangat bangkit bersama sahabat, warga komitmen saling menjaga dan memberi manfaat.

    “Ini tempat terbuka yang pas untuk olahraga dan berjemur. Jadi ada nilai plusnya. Pedagang ikut mengajak warga senang olahraga agar imun tubuh meningkat, di sisi lain dengan berjualan ini imun ekonomi pedagang lebih terjaga,” bebernya.

    Pedagang tidak hanya sedia ragam menu kuliner tradisional, seperti kokrok ketela, pecel, tempe benguk, nasi bakar, dan makanan olahan berbahan lokal lainnya. Terus berkembang, kini ada kerajinan, pupuk, bibit tanaman, hingga tanaman hias. Pemasarannya tidak hanya konvensional. Di luar jadwal pasar, mereka mengandalkan digitalisasi.

    “Jadi sebenarnya pasar ini buka tidak hanya hari libur karena hari-hari biasa banyak pedagang juga melayani pesanan online, mulai dari warga rumahan hingga perkantoran. Meski nuansanya tradisional, kita tidak anti era digital,” ungkap Retno.

    “Bahkan, saat buka di pasar Dalling juga sambil meracik untuk order luar. Menu tiap harinya variatif,” imbuhnya.

    Antusias menghidupkan pasar cukup beralasan. Pasalnya, manfaatnya tidak hanya dirasakan warga yang sudah berpengalaman melapak. Salah satunya Tri Widiarto, pemilik usaha jasa konveksi rumahan di RW 02 yang turut terdampak pandemi. Ia mengaku memperoleh efek ganda dengan berjualan bersama istri dan 2 putrinya yang masih SD.

    “Selain menambah pemasukan, pasar ini juga menjadi wadah melatih anak-anak wirausaha. Mereka jadi bisa ikut praktik membuat inovasi kuliner hingga memasarkan,” ujar Tri. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here