Kondisi Geografis Temanggung Rawan Bencana Longsor

TINJAU. petugas BPBD Temanggung meninjau lokasi bencana tanah longsor di salah satu desa di Kecamatan Kranggan 
TINJAU. petugas BPBD Temanggung meninjau lokasi bencana tanah longsor di salah satu desa di Kecamatan Kranggan 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Tingginya curah hujan yang terjadi selama bulan Januari ini, berpotensi besar menimbulkan bencana alam. Oleh karena itu masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam untuk semakin meningkatkan kewaspadaanya.

“Januari ini merupakan puncak musim penghujan, sehingga intensitas akan terjadinya hujan sangat tinggi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung, Dwi Sukar Mei, Senin (18/1).

Apalagi katanya, tempat-tempat tinggal yang berada di pegunungan dan perbukitan, meskipun di daerah lain juga tidak menutup kemungkinan akan terjadi bencana.

“Terkhusus bencana tanah longsor dan angin puting beliung, daerah-daerah di lereng gunung memang lebih berpotensi terjadi bencana alam,” ujarnya.

Dwi menyebutkan, selama bulan Januari ini dalam satu hari bencana alam rata-rata ada 5-6 kejadian. Dari sejumlah kejadian tersebut, bencana tanah longsor menjadi yang paling banyak.

“Memasuki bulan Januari ini kejadian bencana tanah longsor cenderung meningkat. Hampir setiap hari ada kejadian tanah longsor, bahkan bisa mencapai 5-6 kejadian dalam satu hari,” katanya.

Hingga pertengahan Januari 2021 ini kejadian longsor di Kabupaten Temanggung sudah mencapai sekitar 70-80 kejadian. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor untuk lebih waspada, terutama saat terjadi hujan deras dalam durasi cukup lama.

Baca Juga
DPRKPLH Temanggung Masih Awasi Pencemaran Kali Elo

Menurut dia kejadian tanah longsor di wilayah Temanggung bukan hanya karena jenis tanahnya saja tetapi memang kondisi geografis yang berbukit-bukit.

“Kondisi ini yang menyebabkan Temanggung memang rawan terjadi tanah longsor,” terangnya.

Terkait bencana tanah longsor ini BPBD sudah mengajukan bantuan sarana prasarana ke BPNB dalam penanggulangan longsor, baik berupa kawat bronjong, karung goni maupun pembangunan talud.

Artikel Menarik Lainnya :  BPBD Temanggung: Sejumlah Desa Mulai Kekurangan Air Bersih

Selain bencana tanah longsor, katanya pada musim hujan ini masyarakat juga perlu mewaspadai terhadap bencana angin ribut.

“Tidak hanya tanah longsor saja yang bisa terjadi, pada musim hujan seperti ini juga sangat berpotensi terjadinya bencana angin puting beliung, banjir dan bencana alam lainnya,” katanya.

Berdasarkan catatan tahun 2020 di Kabupaten Temanggung terjadi 117 bencana longsor. Kecamatan paling tinggi mengalami bencana tanah longsor di Kaloran ada 17 kejadian, kemudian di Kecamatan Pringsurat 14 kejadian, sedangkan kecamatan yang lain rata-rata 3-5 kejadian.

Bencana nomor dua yang terjadi di Temanggung tahun 2020, yakni bencana angin ribut ada 59 kejadian. Paling tinggi terjadi di Kecamatan Tembarak ada 9 kejadian, kemudian Kecamatan Parakan dan Pringsurat masing-masing 8 kejadian.

“Semoga saja di tahun ini bencana alam yang terjadi bisa lebih berkurang,” harapnya. (set)