Ancaman Tanah Bergerak di Bruno Meluas

ROBOH. Akibat musibah tanah bergerak bangunan rumah rata dengan tanah. 
ROBOH. Akibat musibah tanah bergerak bangunan rumah rata dengan tanah. 

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Kasus bencana tanah bergerak di wilayah Kecamatan Bruno Purworejo terpantau terus meluas dan terus mengancam pemukiman warga, terlebih jika terjadi hujan deras di kawasan tersebut. Sedikitnya ada tiga desa yang saat ini berada di bawah ancaman tanah bergerak yakni Desa Tegalsari, Somoleter, dan Desa Kaliwungu. Belasan rumah rusak, puluhan warga mengungsi.

Pemerintah dibantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri terus mengupayakan keselamatan warga dengan membuat posko siaga di tiga desa tersebut. Desa Tegalsari, merupakan desa terdampak paling parah akibat musibah tanah bergerak yang terjadi sejak Rabu malam (13/1). Akibat kejadian itu, sebanyak 13 rumah dan satu mushola mengalami kerusakan, dua rumah diantaranya roboh, rata dengan tanah.

“Sebanyak 13 kepala keluarga dengan total 42 jiwa masih kita ungsikan di rumah-rumah warga,” kata Kepala Desa Tegalsari, Urip Suyono, kemarin.

Suyono mengungkapkan, hingga saat ini tanah di Desa Tegalsari, khusunya di Dusun Krajan RT 07 RW 08 masih bergerak mengancam hunian warga. Warga setempat terus siaga mengantisipasi gerakan tanah.

Pemerintah Desa, ujar Suyuono terus berkordinasi dengan Pemerintah Kabupaten untuk mengusahakan adanya hunian sementara bagi warga terdampak. Pasalnya kondisi di Dusun Krajan tidak memumingkinkan untuk kembali dihuni oleh warga.

Meski demikian, pihaknya masih menunggu hasil mitigasi bencana geologi apakah nantinya lokasi tersebut masih dapat digunakan atau tidak.

Sementara itu, di Di Dusun Kalibang RT 3 RW 5 Desa Kaliwungu sebanyak 2 rumah mengalami rusak parah, sementara 16 rumah lainya mengalami retak-retak. Dua rumah yang mengalami rusak berat kini terpaksa tak lagi dihuni, mengingat keadaan tanah cukup labil.

“Dua kepala keluarga sudah mengungsi ke rumah lain, sementara yang lain masih menempati rumahnya tetapi kita terus pantau keadaan tanah. Jika hujan deras mereka siap kita ungsikan,” ungkap ketua RT setempat M Ahdori.

Artikel Menarik Lainnya :  Pandemi Tak Jadi Alasan bagi Ansor untuk Berkegiatan

Ahdori menyebut, tanah bergerak terjadi sejak Selasa (12/1), namun puncaknya terjadi pada Kamis (14/1). Sejak hari itu, katanya, dua warga sudah diungsikan dan seluruh warga untuk diminta siaga.

Baca Juga
DHC ‘45 Sayangkan Penggantian Lambang Garuda Jadi Patung Anak SD

Tanah bergerak juga terjadi di Desa Somoleter, terpantau sedikitnya 7 rumah terdampak bencana tersebut. Rumah-rumah warga mengalami keretakan. Tanah di lokasi tersebut tampak retak membuat rongga sebesar 5 cm. Warga terdampak terpaksa mengungsi jika malam hari, terlebih jika hujan deras terjadi.

Camat Bruno, Netra Asmara Sakti mengungkapkan, pihaknya hingga kini terus melakukan kordinasi dengan Pemerintah Kabupaten. Pihaknya juga menunggu hasil mitigasi bencana untuk memetakan wilayah keretakan tanah yang terjadi di beberapa desa di Kecamatan Bruno. Saat ini, kata Sakti, pihaknya terus mengupayakan hunian sementara, khususnya untuk pengungsian warga terdampak.

“Hari ini (Senin) kita akan rapat koordinasi untuk persiapan mitigasi dan kita akan sampaikan data valid tentang kebencanaan yang terjadi,” katanya. (luk)