Dukung Penuh Vaksin Merah Putih

MAGELANGEKSPRES.COM, JAKARTA – DPR mendorong pemerintah untuk terus melakukan pengembangan vaksin merah putih. Indonesia nantinya tidak perlu ketergantungan vaksin impor. Karena mampu memproduksi vaksinnya sendiri.

Anggota Komisi IX DPR RI Alifuddin mengatakan, pemerintah harus lebih bersungguh-sungguh memberikan dukungan penuh. Hal ini terkait vaksin merah putih yang telah mencapai 60 persen dari skala laboratorium.

“Saya memberikan apresiasi kepada semua tim dan pakar yang sedang menuntaskan pengembangan vaksin tersebut,” ujar Alifuddin, Senin (11/1).

Diketahui, untuk melakukan pengembangan vaksin, Indonesia membentuk konsorsium. Yang terdiri dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, LIPI, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga yang dipimpin oleh Prof. dr. Ali Ghufron untuk mempersiapkan Vaksin Merah Putih.

Vaksin Merah Putih dikembangkan dengan metode rekombinan. Artinya tidak seluruh virus digunakan, tetapi hanya bagian-bagian tertentu dari virus yang dianggap penting kemudian diperbanyak dan dijadikan antigen.

Alifuddin berharap Vaksin Merah Putih bisa diproduksi akhir 2021. Hal ini demi memastikan keamanan vaksin Covid-19 dan efektivitasnya karena dinilai menjadi vaksin jangka panjang.

Selain itu, politisi Fraksi PKS ini juga meminta rencana vaksinasi yang akan segera dilakukan oleh pemerintah harus memenuhi semua tahapan proses uji kehalalan dan uji klinis secara tuntas dengan pendekatan berbasis ilmiah.

Kemudian menurutnya, vaksin harus lulus uji klinis guna melihat efikasinya dan memenuhi kriteria aman, berkhasiat, serta bermutu untuk masyarakat yang divaksin.

“Selain itu juga vaksin juga telah harus mendapat standar emergency use authorization (EUA) dari BPOM yang bekerja sama secara independen, transparan, dan penuh tanggung jawab dunia dan akhirat. Vaksin yang digunakan di Indonesia harus memenuhi semua tahapan proses uji kehalalan dan uji klinis secara tuntas dengan pendekatan berbasis ilmiah,” bebernya.

Artikel Menarik Lainnya :  Kemajuan IPTEK untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Inovasi

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, produksi vaksin merah putih bisa menjadi pengubah situasi penanganan pandemi. Produksi vaksin anak bangsa yang hingga kini masih dalam proses pengembangan tersebut diyakini bisa mengurangi ketergantungan kepada vaksin impor.

” Menkes sudah datang ke Bio Farma dan kami laporkan kami tidak mau tergantung terus vaksin impor. Jadi, vaksin Merah Putih pun kami adakan dan masih perlu waktu. Kami akan memantau vaksin Merah Putih bersama agar menjadi game changer. Bangsa kita tidak tergantung vaksin luar negeri saja,” kata Erick.

Sementara itu, Badan Pengawasan Obat dan Makan (BPOM) telah memberikan sertifikat per izinan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) atau izin untuk memulai produksi obat dan vaksin Covid-19 kepada PT Bio Farma (Persero).

Selain itu, Indonesia akan menerima vaksin Sinovac dalam bentuk bahan baku sebanyak 15 juta dosis yang selanjutnya ba han baku ini akan diproduk si oleh Bio Farma.

“Bahan baku akan datang pertengahan Januari ini. Presiden pun sudah menugaskan Januari ini untuk mendistribusikan 5,8 juta dosis, Februari sebanyak 10,4 juta, dan Maret 13,3 juta,” ungkap Erick. (khf/fin)