70 Persen Sumur di Kota Magelang Tercemar Bakteri e-Coli

KUALITAS AIR. DLH Kota Magelang saat memeriksa kualitas air di beberapa sungai untuk mengetahui kandungan bakteri di dalamnya.
KUALITAS AIR. DLH Kota Magelang saat memeriksa kualitas air di beberapa sungai untuk mengetahui kandungan bakteri di dalamnya.

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Kota Magelang belum terbebas dari masalah buang air besar (BAB) sembarangan dan pencemaran bakteri e-coli. Berdasarkan analisa Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, sekitar 70 persen kualitas sumur tercemari bakteri berbahaya itu.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Disperkim) Kota Magelang, Handini Rahayu mengatakan, hasil 70 persen ini sudah berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Terkurangi dengan adanya Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPAL-DS). Tahun ini saja kita selesai membuat 48 titik SPAL-DS. Tiap satu tempat bisa difungsikan 4-5 rumah,” kata perempuan yang akrab disapa Dini itu, kemarin.

Menurutnya, pembuatan SPAL-DS tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemkot Magelang. Masyarakat mampu, lanjutnya, punya tanggung jawab sendiri untuk membangun septic tank higienis.

“Septic tank itu harus yang kedap. Di tahun 2021 mendatang kita targetkan tidak ada masyarakat yang BAB sembarangan, sehingga kualitas air sumur kita semakin baik,” ujarnya.

Menurut Dini, BAB sembarangan tidak hanya dilakukan masyarakat berpenghasilan rendah saja. Bahkan, orang berpendidikan dan punya penghasilan tinggi pun bisa saja melakukan BAB sembarangan.

Baca Juga
Ratusan Rumah di Wironatan Terendam Banjir

“Masih ada 1.074 rumah yang melakukan BAB sembarangan di Kota Magelang. Itu tidak hanya masyarakat kurang mampu, yang sudah mampu bahkan bisa dikatakan mewah pun tak menjamin dia tidak BAB sembarangan,” katanya.

BAB sembarangan tidak memandang kualitas kamar mandi setiap rumah. Namun, lebih pada pengelolaan limbah itu sendiri, dilakukan secara higienis atau tidak.”Misalnya kamar mandinya pakai closed duduk, tapi BAB-nya dibuang ke sungai, atau pakai septic tank yang tidak kedap air. Sama saja itu namanya BAB sembarangan. Nah, kami mendorong agar masyarakat berpenghasilan tinggi ini secara sadar menggantinya dengan SPAL-DS. Untuk masyarakat kurang mampu kita bantu,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Kota Magelang Raih UHC Tertinggi, Aziz : Bukan Karena Walikotanya

Dia juga berharap ada peran dari CSR, untuk membantu mengurangi masalah sanitasi dan kualitas air bersih ini. Sebab, air menjadi investasi terpenting masyarakat untuk hidup sehat.

“Air yang kita konsumsi harus yang berkualitas sehingga kesehatan kita akan selalu terjaga. Kemudian, dengan membiasakan hidup sehat, bisa terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya. Upaya ini jadi investasi penting jangka panjang untuk anak cucu kita,” pungkasnya. (wid)