Pilkada Wonosobo, 65 Ribu Golput

DIWAWANCARAI. Ketua KPU Wonosobo Asma Khozin saat diwawancarai wartawan.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO- Sebanyak 65 ribu orang tidak gunakan hak suaranya alias golput dalam pilkada 2020 di Kabupaten Wonosobo. Jumlah tersebut cukup siginifikan, lantaran jumlah DPT mencapai 680.000. Dalam pilkada ini hanya ada satu pasangan calon tunggal Afif-Albar.

“Sebanyak 65 ribu C6 atau pemberitahuan memilih kita tarik dari temen-temen KPPS, supaya tidak disalahgunakan oleh para orang yang tidak bertanggungjawab,” kata Ketua KPU Wonosobo, Asma Khozin saat ditemui dikantornya, Kamis (10/12).

Menurutnya, ada beberapa kriteria yang menyebabkan C6 ditarik oleh penyelenggara pemilu. Diantaranya adalah ada pemilih yang sudah ditetapkan DPT tetapi meninggal dunia, pindah ke luar kabupaten, beralih status menjadi TNI-Polri dan ada pemilih yang tidak bisa ditemui karena menjadi buruh di luar kota, menjadi TKI serta pelajar di luar kota.

“Paling banyak C6 ditarik karena pemilih menjadi TKI, buruh dan pelajar diluar kota. Jumlahnya sekitar 40an ribu. Ada juga pemilih yang sudah bertransmigrasi sudah 10 tahun yang lalu tetapi data kependudukannya masih Wonosobo,” bebernya.

Menurutnya, penarikan C6 ini menggunakan aplikasi Sirika, sehingga pihaknya bisa mempunyai nama secara detail terkait siapa saja yang 65 ribu lebih ini yang tidak didistribusikan C6 atau pemberitahuan memilihnya.

“Namanya siapa, alamatnya dan TPS mana, kita ada detail di aplikasi Sirikap ini. Sehingga aplikasi ini sangat membantu kita dan cukup efektif karena bisa terselesaikan di angka 98 persen,” jelasnya.

Selain itu, dengan aplikasi ini, pihaknya bisa mengukur potensi partisipasi pemilih, juga bisa untuk mengukur kekurangan logistik di TPS mana dan bisa diambilkan dari TPS mana. Karena dari C6 yang dikembalikan itu, pihaknya ada gambaran ada sisa surat suara di TPS mana.

Artikel Menarik Lainnya :  Masuk Zona Merah, Satu Sekolah di Wonosobo Gagal Gelar PTM

“Aplikasi ini juga bisa untuk modal sosialisasi di Pemilu yang akan datang. Karena kita bisa mengetahui di TPS ini partisipasi berapa persen dan yang tidak nyoblos si A, B dan C. Sehingga dalam sosialisasi kedepan kita bisa lebih tajam menyasar daerah yang partisipasinya rendah,” tandasnya. (gus)