Diskusi Terapi Komplementer, Unimma Gandeng Universitas Taiwan

WEBINAR. UNIMMA bekerja sama dengan National Taipei University of Nursing and Health Sciences (NTUNHS) Taiwan menggelar webinar tentang terapi komplementer.
WEBINAR. UNIMMA bekerja sama dengan National Taipei University of Nursing and Health Sciences (NTUNHS) Taiwan menggelar webinar tentang terapi komplementer.

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG  – Saat ini, Complementary and Alternative Medicine (CAM) menjadi salah satu trend di antara fenomena terapi konvensional, herbal, akupuntur, maupun bekam. Di beberapa Rumah Sakit di Indonesia, terapi komplementer sudah mulai diterapkan sebagai terapi penunjang atau pengganti bagi pasien yang menolak pengobatan konvensional.

Oleh karena itu, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) yang salah satu visinya unggul di bidang terapi komplementer di tahun 2020 menyelenggarakan webinar internasional. Diskusi dengan tema “Keperawatan Terapi Komplementer” itu dihadiri sejumlah dosen, mahasiswa, alumni Keperawatan Unimma, dan mahasiswa National Taipei University of Nursing and Health Sciences (NTUNHS) Taiwan.

Ketua Panitia, Ns Sumarno Adi Subrata, MKep PhD mengatakan bahwa masyarakat luas saat ini mulai beralih dari pengobatan modern (medis) ke terapi komplementer. Meski, pengobatan modern juga sangat populer diperbincangkan di kalangan masyarakat.

“Webinar kali ini bertujuan untuk memahami pembaruan implementasi terapi komplementer dalam keperawatan,” kata Adi.

Dalam webinar tersebut dihadirkan tiga keynote speaker, antara lain Tsae-Jyy (Tiffany) Wang PhD RN APRN dari National Taipei University of Nursing and Health Science (NTUNSHS) Taiwan, Dr Heni Setyowati ER SKp MKes, Dekan Fikes Unimma, dan Ns Sodiq Kamal SKep MSc.

Prof Wang dalam materinya memaparkan tentang terapi komplementer yang populer di Taiwan. Terapi ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

“Disarankan bahwa CAM, curcumin, dan polyphenolic compound yang diekstraksi dari rempah-rempah dan kunyit sebagai pewarna makanan dapat meningkatkan respons antibodi meskipun dalam dosis rendah,” ujar Wang.

Ia melanjutkan bahwa Curcumin memiliki potensi tinggi untuk digunakan sebagai obat anti-influenza. Sebab, kandungannya dapat mengatur pertumbuhan dan respons sel kekebalan yang berbeda.

Artikel Menarik Lainnya :  Penerbitkan Izin Tambang di Eks Dusun Ngori Wilayah Merapi Tak Benar

Sementara itu, Dr Heni memaparkan tentang Chromopressure sebagai terapi komplementer mengatasi kelelahan kerja. Menurut dia, dalam keperawatan, terapi ini perlu mengacu kembali pada teori-teori yang mendasari praktik keperawatan.

“Terapi komplementer juga meningkatkan kemungkinan perawat untuk menunjukkan kepedulian kepada klien,” jelas Dr Heni. (wid)