Borobudur Menjadi Magnet, Sejumlah Seniman Pilih Hijrah ke Borobudur

SURYALIS. Seniman Borobudur Cipto Purnomo berdiri didepan lukisan aliran suryalis karyanya yang menggabungkan unsur teknologi mesin dan budaya tradisional.

MAGELANGEKSPRES.COM,BOROBUDUR – Borobudur sebagai pusat seni budaya dan wisata menjadi magnet tersendiri bagi seniman. Tidak sedikit seniman dari luar Kecamatan Borobudur untuk hijrah dan menetap di wilayah tersebut.

Salah satunya adalah seniman perupa, Cipto Purnomo (37), yang sebelumnya tercatat sebagai warga Tangkilan Kecamatan Mungkid, kini dirinya memilih menetap di area Candi Pawon Dusun Brojonalan Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur.

“Borobudur mempunyai daya pikat tersendiri bagi seniman dengan beragam latar belakang aliran seni. Mulai seni tari, seni lukis, perupa dan seni-seni lainnya.

Karena aura seni dan budaya di wilayah Kecamatan Borobudur sangat kental, ditunjang dengan daya tarik wisata yang utama yaitu Candi Borobudur,” ucap Cipto.

Cipto, yang merupakan jebolan Insitut Seni Indonesia (ISI), saat ini terus berkarya melalui lukisan dengan aliran suryalis, yang memadukan unsur budaya tradisional dan teknologi.

“Saya dulu sekolah di STM jurusan teknik otomotif, sebelum kuliah di ISI masuk tahun 2001. Hal itu mempengaruhi karya lukisan saya, yang mengandung unsur teknologi khususnya mesin. Kedua unsur budaya dan mesin saya kombinasikan melalui aliran lukisan suryalis,” terang Cipto.

Unsur teknologi mesin dan budaya dalam lukisan-lukisan karya Cipto, digambarkan secara apik. Salah satu lukisan karyanya menggambarkan sebuah kota modern dengan kendaraan bermesin yang terbang di atas jalan kota, dengan latar belakang Candi Borobudur.

Atau karya lukisan Cipto lainnya, terlukis patung wayang ditengah hiruk pikuk kota yang penuh dengan kendaraan bermotor.

Baca Juga
351 Personel Polisi Disiagakan Saat Pilkada

“Saya kira belum ada seniman di Borobudur yang konsep karyanya seperti itu,” papar Cipto.

Selain melukis Cipto juga berkarya sebagai perupa. Pada tahun 2009 dirinya pernah membuat karya rupa Patung Buddha terkecil. Patung Buddha dengan tinggi delapan milimeter, panjang lima milimeter, dan lebar empat milimeter. Patung tersebut berbahan dari emas seberat 1,13 gram itu tercatat dalam urutan ke-3.661 penghargaan MURI.

Artikel Menarik Lainnya :  Lebih dari 50 Ribu Media Olinne,Tak Sampai 1000 yang Tersertifikasi

Kedepan Cipto ingin menularkan ilmu perupanya, dengan membagikan ilmu seni pahat batu.

“Kawasan Magelang khususnya Borobudur terkenal kekayaan alam terutama batu. Hal ini membuat banyak Candi berdiri di Magelang. Maka dari itu saya bercita-cita kedepannya dapat berbagi ilmu pahat batu kepada masyarakat dan wisatawan, agar seni pahat batu dapat menjadi ikon di Magelang terutama di Borobudur,” ungkap Cipto.(cha).