GMPK Bedah Pemberdayaan Ekonomi Masa Pandemi

TERBATAS. GMPK Wonosobo gelar diskusi terbatas membahas Pemberdayaan Ekonomi bersama 6 narasumber di ruang rapat DPRD, 
TERBATAS. GMPK Wonosobo gelar diskusi terbatas membahas Pemberdayaan Ekonomi bersama 6 narasumber di ruang rapat DPRD, 

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Kabupaten Wonosobo menggelar diskusi terbatas dengan mengangkat topik Pemberdayaan Ekonomi saat Pandemi, Minggu (06/12) di Ruang Rapat Kantor DPRD. Kesempatan ini mendatangkan enam orang narasumber mewakili praktisi, perwakilan organisasi, hingga akademisi.

Mereka adalah anggota DPRD Wonosobo Ika Sulistya Putra, akademisi pengamat ekonomi, Dr Elvan Kaukab, H. Aminuddin Khudlori dari Jayanusa, Ketua Kadin Wonosobo Bambang Larasnyoto, Fathul Qhorib mewakili GMPK, dan Choirul Anwar Ketua Hipmi Wonosobo).

Ketua Umum GMPK Wonosobo, Idham Cholid mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak beberapa bulan belakangan tidak hanya menyebabkan krisis kesehatan tetapi juga berimbas berat pada kondisi perekonomian. Dalam diskusi dicapai beberapa poin termasuk pemberdayaan ekonomi rakyat yang harus dilindungi kebijakan strategis daerah yang berkaitan dengan pertanian, pariwisata dan UMKM dan penataan PKL.

Dinilai penting untuk meninjau ulang Peraturan Daerah yang sudah tidak sesuai sehingga arah kebijakan jelas dan tegas bahwa BUMD dan BUMDeS harus dimaksimalkan untuk pemberdayaan potensi lokal lewat sektor pertanian dan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.

Baca Juga
Komisi A DPRD Akan Susun Road Map Kebijakan Pelayanan Publik

“Ini membutuhkan kerjasama semua pihak. Maka, kita menggelar diskusi pemberdayaan ekonomi saat pandemi ini dengan mengundang berbagai narasumber untuk mengurai permasalahan dan harapannya ada titik terang setelah diskusi ini,” tutur Idham.

Sementara itu, Ika Sulistya Putra menyebut bahwa berdasarkan data BPS pada tahun 2019 atau sebelum masa pandemi Covid-19, PDRB atau jumlah uang ataupun barang yang bernilai uang yang beredar di Kabupaten Wonosobo sebanyak Rp 18,85 Triliun. Sedangkan porsi terbesarnya merupakan konsumsi rumah tangga.

“Dari jumlah PDRB tersebut, untuk konsumsi rumah tangga mencapai 14,54 triliun rupiah atau sekitar 77 persen. Berbicara peluang ekonomi orang Wonosobo itu memang konsumtif. Artinya peluang usaha kuliner atau barang-barang konsumsi itu besar, karena orang Wonosobo suka belanja,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Lonjakan Covid-19 di Wonosobo Capai 1600 Kasus

Lebih lanjut, berdasarkan data BPS, salah satu belanja terbesar orang Wonosobo itu didominasi beras, diikuti konsumsi rokok, dan yang ketiga adalah kendaraan termasuk BBM. Sehingga sektor-sektor potensial tersebut diungkapkan Ika bisa menjadi peluang usaha di Wonosobo.

“Dengan keterbatasan anggaran daerah, kita harus membuat konsep uang yang masuk ke Wonosobo bisa bertahan lama di Wonosobo. Caranya bagaimana orang Wonosobo membeli produk dari Wonosobo. Kita membeli bahan makanan juga yang harus produk lokal dari Wonosobo agar ekonomi bisa berputar di Wonosobo,” katanya.  (win)