Pemkot Magelang Siap Hadapi Lonjakan Kasus, Pasca-Pengiriman Ratusan Spesimen Pekan ini

Dia menduga, selain proses tracing lonjakan yang terjadi sejak 20 November lalu disebabkan pula adanya cuti dan libur panjang. Hal itu terlihat karena saat ini, mereka yang terkena sedang mengalami inkubasi atau pasien Covid-19 aktif.
Dia menduga, selain proses tracing lonjakan yang terjadi sejak 20 November lalu disebabkan pula adanya cuti dan libur panjang. Hal itu terlihat karena saat ini, mereka yang terkena sedang mengalami inkubasi atau pasien Covid-19 aktif.

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Kota Magelang bersiap menghadapi lonjakan besar-besaran pasien terkonfirmasi positif Covid-19, dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, pada pekan ini, sebanyak 300-an spesimen tinggal menunggu hasil. Belum lagi, hasil tes swab yang dilakukan terhadap 150 anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) pemilihan walikota dan wakil walikota Magelang, yang ditemukan reaktif saat menjalani tes cepat (rapid test) pekan lalu.

“Dari proses tracing saja ada 300-400 spesimen yang sekarang tinggal menunggu hasil. Kalau ditambah dari KPU dan tes mandiri, kemungkinan minggu ini akan terjadi penambahan yang signifikan,” kata Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang, dr Majid Rohmawanto, Selasa (24/11).

Dia menduga, selain proses tracing lonjakan yang terjadi sejak 20 November lalu disebabkan pula adanya cuti dan libur panjang. Hal itu terlihat karena saat ini, mereka yang terkena sedang mengalami inkubasi atau pasien Covid-19 aktif.

“Virus ini sekarang sudah semakin menyebar. Kalau dulu pas di awal-awal, ketika orang berobat ke rumah sakit, dites negatif. Tapi kalau sekarang, mereka berobat dengan gejala apapun, dites swab hasilnya banyak yang positif,” ucapnya.

Ia menilai jika bulan November dan Desember adalah puncak penyebaran di Kota Magelang. Parahnya lagi, sebagian besar orang terkonfirmasi positif ini tidak menunjukkan gelaja sehingga tidak dapat dideteksi dari alat pengukur suhu tubuh.

“Kemungkinan akan turun setelah vaksinasi massal. Karena cara kerja vaksin ini adalah memberikan virus ringan kepada tubuh, lalu dengan kekebalan tubuh bisa menolak virus yang datang,” ujarnya.

Dia mencontohkan, jika dalam satu lingkungan ada 100 orang, dan 90 orang di antaranya sudah divaksin, maka 10 orang yang belum divaksin ini akan terlindungi oleh mereka yang telah divaksin.

Baca Juga
Angka Kematian Covid-19 di Wonosoo Capai 4 Persen Lebih

“Sederhananya, jika 90 orang sudah divaksin, kan dia punya kekebalan tubuh, sehingga kalau ada orang luar membawa virus, akan langsung ditolak oleh orang yang sudah divaksin,” papar dia.

Majid menjelaskan, vaksin yang telah dibuat diyakini mengandung antigen yang sama dengan antigen yang menyebabkan penyakit. Misalnya virus corona, maka antigen yang dibuat juga dari virus tersebut.

Namun demikian, antigen yang ada di dalam vaksin ini sudah dikendalikan (dilemahkan) sehingga pemberian vaksin tidak menyebabkan orang menderita penyakit. Sebaliknya, saat vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, justru sistem kekebalan tubuh akan melihatnya sebagai antigen atau musuh.

Sebagai respons adanya ancaman dari musuh maka tubuh akan memproduksi antibodi untuk melawan antigen tersebut. Namun, kekebalan yang didapat melalui vaksinasi, tidaklah bertahan seumur hidup terhadap infeksi penyakit berbahaya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here