Suku Bunga Acuan Turun Jadi 3,75 Persen

Ekonomi Kuartal IV/2020 Potensi Positif JAKARTA - Kegiatan ekonomi dan transaksi keuangan yang kembali pulih diperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2020 hingga tahun depan akan kembali positif.
Ekonomi Kuartal IV/2020 Potensi Positif JAKARTA - Kegiatan ekonomi dan transaksi keuangan yang kembali pulih diperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2020 hingga tahun depan akan kembali positif. "Kami memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan mulai positif dan akan sangat naik pada tahun depan,'' kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, kemarin (19/11). Selain itu, lanjut Perry, kuartal IV membaik karena juga ditpang oleh membaiknya keuangan digital di mana nilai transaksi pada Oktober tumbuh positif 14 persen, dan digital banking 10,5 persen pada september 2020. Oleh karena itu, Perry meyakini pertumbuhan ini akan terus berlanjut hinga akhir 2020 seiring perbaikan aktivitas ekonomi. "Kami juga berharap belanja musiman akhir tahun juga naik. Apalagi preferensi transaksi digital juga meningkat," ujarnya. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November ini, BI melihat pertumbuhan ekonomi domestik juga membaik sejalan meningkatnya realisasi stimulus fiskal dan mobilitas masyarakat, serta membaiknya permintaan global. Ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 membaik yang tercermin pada pertumbuhan sebesar 5,05 persen quarter to quarter (qtq) dari kontraksi 4,19 persen (qtq), atau berkurangnya kontraksi pertumbuhan menjadi 3,49 persen year on year (yoy) dari 5,32 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad memproyeksikan ekonomi nasional masih terkontraksi. "Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan empat sebesar minus 2 persen year on year," ujar Tauhid Ahmad. Prediksi itu, lanjut dia, dengan asumsi pandemi Covid-19 yang masih relatif tinggi dan penyerapan anggaran program pemulihan ekonomi di kuartal empat yang diperkirakan hanya sebesar maksimal 70 persen. Tauhid juga mendorong percepatan belanja pemerintah, baik belanja modal pemerintah maupun program pemulihan ekonomi nasional yang dirasakan masih belum optimal. Dia menyebut belanja pemerintah daerah pun perlu didorong lebih kencang lagi. "Paling tidak belanja ketiganya bisa mencapai 95 persen pada akhir triwulan empat tahun 2020 akan sangat membantu sekali perekonomian nasional," ujar dia Pun demikian, kata dia, konsumsi masyarakat terus digenjot, misalnya dengan memperbaiki skema bantuan sosial dan mengutamakan skema bantuan tunai. (din/fin)

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Bank Indonesia (BI) pada November ini memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen persen. Sejak awal 2020, Bank Sentral telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan menurunkan suku bunga acuan, suku bunga deposit facility dan lending facility setelah mempertimbangkan evaluasi serta perkiraan ekonomi domestik dan global.

“Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 November 2020, memutuskan untuk menurunkan BI-7DRR sebesar 25 basis poin jadi 3,75 persen. Suku bunga deposito facility sebesar 25 basis poin jadi 3 persen, dan suku bunga lending facility 25 basis poin menjadi 4,5 persen,” jelasnya, kemarin (19/11).

Lanjut Perry, keputusan ini konsisten dengan perlunya menjaga stabilitas eksternal di tengah inflasi yang diperkirakan akan tetap rendah.

“Keputusan ini mempertimbangkan perkiraan inflasi tetap rendah, dan langkah lanjutan untuk percepat pemulihan ekonomi nasional. Bank Indonesia tetap komitmen sediakan dukungan stabilitas dan dukung percepatan pemulihan ekonomi nasional,” ujar Perry.

Terpisah, Ekonomi Bhima Yudhistira memperkirakan, penurunan suku bunga ini akan berdampak pada berpindahnya dana deposan di perbankan ke investasi secara riil.

“Intermediasi perbankan diperkirakan akan membaik khususnya terkait kinerja pertumbuhan kredit,” kata Bhima.

Menurut Bhima, biaya pinjaman juga akan bisa lebih rendah. Sehingga, pelaku usaha bisa memanfaatkan kredit perbankan untuk meningkatkan ekspansi usaha pada tahun 2021. “Bunga acuan yang menurun merupakan insentif bagi sektor riil,” ucap Bhima.

ke depan, kata Bhima, akan ada peluang penurunan bunga acuan 25 bps lagi sehingga BI 7DDR diperkirakan menjadi 3.5 persen. (din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here