Pengelola Wisata Desa Didorong Kreatif Garap Promosi, BOB Fasilitasi Pelatihan Konten Digital

MOTIVASI. Peserta Pelatihan Konten Digital mendapat motivasi dari Kepala Dinporapar Jateng, Dirut BOB, dan Kepala Dinparbud Purworejo saat acara pembukaan di Glamping De Loano, 
MOTIVASI. Peserta Pelatihan Konten Digital mendapat motivasi dari Kepala Dinporapar Jateng, Dirut BOB, dan Kepala Dinparbud Purworejo saat acara pembukaan di Glamping De Loano, 

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Para pengelola wisata desa diajak untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dan didorong untuk menggarap promosi serta memasarkan destinasi wisatanya secara kreatif. Ajakan dan dorongan itu diwujudkan oleh Badan Otorita Borobudur (BOB) melalui Pelatihan dan Pendampingan Konten Digital SDM Parekraf di Jawa Tengah.

Pelatihan berlangsung di De Loano Glamping, Desa Sedayu Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo selama tiga hari, Selasa-Kamis (17-19 /11).  Peserta pelatihan sebanyak 15 orang dari 3 Desa di Kabupaten Purworejo yakni Pandanrejo, Benowo, dan Sedayu, serta  serta 1 desa di Kulon Progo yakni Nglinggo. Ada pula dari unsur Komblik BOB.

Pembukaan pelatihan dihadiri Direktur Utama BOB Indah Juanita, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Sinoeng Nugroho Rachmadi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Agung Wibowo, serta para kepala desa yang pengelola wisatanya menjadi peserta pelatihan, Selasa (17/11).

Selama 3 hari itu, peserta mendapatkan materi fotografi, videografi, narasi, desain grafis, serta sosial media manajemen dari sejumlah mentor profesional. Masing-masing yakni Ulet Ifansati sebagai mentor fotografi, Okie Kristyawan (mentor videografi), dan Aisyah Hilal (mentor narasi/teks). Berikutnya,  peserta juga akan mendapatkan pendampingan konten digital selama 3 kali pada bulan November hingga Desember mendatang.

Baca Juga
Dampak Pandemi, Komisi III DPRD Kunjungi Pasar Terlihat Sepi

“Hasil dari pelatihan ini kemungkinan juga akan kita pamerkan bersmaan dengan launching logo BOB yang baru,” kata Dirut BOB, Indah Juanita.

Menurutnya, BOB secara simultan terus memberikan motivasi kepada para pengelola destinasi wisata. Salah satunya dengan menggelar pelatihan konten digital yang kali ini menyasar pengelola wisata desa wisata.

“Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM pengelola di lokasi wisata tersebut. Pelatihan yang digelar merupakan wujud kepedulian BOB guna meningkatkan semangat optimisme kepada para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dalam rangka bangkit di tengah pandemi Covid-19,” jelasnya.

Pelatihan yang digelar juga diharapkan mampu memberi narasi positif bagi pelaku wisata maupun wisatawan dalam rangka menyambut Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Pelatihan ini semoga mampu memberi penawar bagi bangkitnya industri pariwisata. Dengan adanya program pelatihan dan pendampingan konten digital ini nantinya akan menggerakkan kepercayaan pelaku wisata maupun wisatawan untuk melakukan kegiatan wisata kembali dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai protokol kesehatan yang sudah diterapkan,” ungkapnya.

Saat memberikan motivasi kepada para pelaku wisata, Sinoeng Nugroho, menyampaikan pentingnya marketing atau pemasaran dalam mengelola destinasi wisata. Dalam melakukan pemasaran, terlebih dulu harus ditentukan segmen sasarannya sehingga narasi-narasi untuk promosi juga menggunakan bahasa yang sesuai dan lebih mengena. Pihaknya juga menekankan perlunya kreativitas yang berbeda dalam melakukan promosi destinasi wisata.

“Di beberapa akun sosial media terutama instagram, semuanya gitu-gitu aja, apa yang terjadi risikonya? pasar bosan karena dianggap sama saja. Ini gara-gara sikap yang tidak memberikan something diferent (sesuatu yang berbeda),” bebernya.

Sementara itu, Agung Wibowo menilai bahwa pandemi ini tidak hanya berdampak negatif bagi industri pariwisata. Sebaliknya, ada nilai positif bagi pelaku wisata, antara lain menjadi wahana untuk instrospeksi dan evaluasi apa yang telah dilaksanakan sebelumnya. Terjadinya pandemi dapat diambil hikmahnya, misal lebih memiliki waktu untuk membenahi destinasi wisata dan pengembangan, termasuk promosi.

“Kita banyak menggunakan media sosial, memang sudah menjadi habit (kebiasaan) sekarang, jadi mau tidak mau kita sedikit meninggalkan promosi konvensional dan kita ganti dengan digital. Promosi secara digital ini menguntungkan karena tidak perlu biaya besar seperti promosi konvensional, hanya bagaimana kita membuat konten yang menarik,” tandasnya. (top)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here