Mengubah Imej Jateng, dari Sarang Teroris Menjadi Duta Damai

    Kisah Yusuf, yang Mengabdikan Diri Membantu Mantan Napiter Kembali Hidup Normal

    Semangat untuk mendamping dan mengajak teman-teman sesama mantan narapidana teroris (napiter) kembali jalan yang benar tak pernah surut. Tudingan serta suara-suara miring yang ditujukan pada dirinya tak membuat Yusuf alias Machmudi Haryono, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) itu menyerah. Bahkan, Yusuf semakin konsisten mendampingi mantan napiter dan keluarganya agar bisa kembali hidup normal di tengah masyarakat melalui Yayasan Persaudaraan Anak Negeri (Persadani), yang didirikan bersama 6 temannya pada Mei 2020 lalu.
    Oleh : JOKO SUROSO

    “Terus terang saja, saya memang mempunyai beban moral, makanya sebagai mantan napiter yang telah menjalani hukuman di lapas, saya selalu mengajak teman-teman (sesama napiter) kembali ke jalan yang benar, bisa hidup normal di masyarakat. Juga menasehati keluarganya, terutama anak-anak mereka agar tidak mewarisi dendam terhadap pemerintah dan aparat. Kami akan mendampingi semampu kami, ” kata Yusuf mengawali obrolan di sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah awal November 2020.
    Yusuf begitu bersemangat menceritakan aktivitasnya membantu mereka setelah dirinya dinyatakan bebas bersyarat pada 2009 lalu. Masa lalunya memang tak mudah untuk dihapus, namun hal itu justru semakin menyadarkan dirinya untuk berbuat baik dengan sesama. “Saat baru saja keluar dari lapas, saya kunjungi teman-teman yang masih menjalani hukuman, saya kuatkan mental mereka. Saya minta mereka tetap sabar menjalani hukuman, bagaimana pun mereka tetap saudara, maka saya ajak kembali hidup normal meninggalkan masa lalu yang salah,” ujarnya penuh semangat.
    Pengalaman pahit yang pernah dialami Yusuf ketika baru saja bebas dari Lapas Kedungpane, Semarang menjadi juga salah satu alasan dirinya sehingga begitu bersemangat ingin membantu teman-teman sesama napiter, baik yang masih menjalani hukuman maupun yang sudah bebas. Waktu itu, dia kesulitan mendapatkan akses pekerjaan. Stempel sebagai mantan teroris tidak mudah untuk dihapus. Masyarakat masih trauma dan memberikan stigma negatif pada dirinya sehingga sulit mendapatkan pekerjaan yang layak.
    Beruntung ada pemiliknya rumah makan di Semarang yang bersedia menerimanya bekerja. Awalnya, dia merasa semang karena bisa menyuguhkan makanan enak bagi para pembeli, bahkan diantaranya ada yang memuji masakannya. Namun kebahagian itu tak berlangsung lama, Yusuf yang diketahui sebagai mantan teroris, akhirnya diberhentikan. “Saya tak ingin pengalaman pahit kala itu juga dialami teman-teman, makanya saya selalu mengajak mereka bergabung. O…oo ternyata tidak sendiri, masih ada teman-temannya yang siap membantu,” ujar pria kelahiran Jombang, Jawa Timur dengan logat Jawa Timuran yang masih kental.
    Kehilangan pekerjaan tak mebuat Yusuf menyerah. Dia mengajak teman-teman sesama napiter membuka usaha untuk menopang kehidupan sehari-hari. Awalnya membuka usaha kuliner Dapoer Bistik di Semarang atas bantuan Yayasan Prasasti Perdamaian. Usaha tersebut berkembang cukup pesat kemudian membuka cabang Dapoer Bistik di Solo. Kala itu, Yusuf juga berhasil membuka rental mobil dan catering.
    Seiring perjalanan waktu, Dapoer Bistik di Semarang hanya berjalan sekitar 3 tahun, yang di Solo pun terkena dampak pandemi.. “Pemasukan tidak pernah bisa menutup, bahkan satu mobil saya ‘kontal’ untuk menutup kerugian. Ini sedang kami benahi lagi, semoga bisa kembali pulih,” harapnya. Demikian pula rental mobil pun tidak bisa dilanjutkan karena beban kredit yang memberatkan. “Sudah tak kuat lagi membayar beban kredit,” tukasnya.
    Usaha kuliner dan rental mobil yang dirintis oleh Yusuf dan kawan-kawan memang sedang ‘ngedrop’ namun tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mengabdikan diri memndampingi para mantan napiter kembali ke jalan yang benar. Pada awal Mei 2020, Yusuf bersama 6 orang mantan napiter yang berdomisili di wilayah Semarang sepakat mendirikan Yayasan Persadani. Yusuf dipilih menjadi ketua yayasan dan Puji sebagai sekjenya. Untuk sementara kantor sekretariatnya masih nebeng di rumah Yusuf, Jalan Jatisari, No. 4, RT 4/ RW 13, Gisikdrono, Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah,
    Yayasan yang dimotori oleh tujuh mantan napiter dari kelompok yang berbeda. seperti JI, JAD, JAS, Neo JI, juga kelompok Noordin itu mempunyai visi mulia, yakni mendampingi para mantan napiter dan keluarganya kembali hidup normal di tengah masyarakat. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, mereka rela bekerja sosial tanpa mendapatkan bayaran. Pendampingan tidak hanya dilakukan pada mantan napiter yang sudah keluar penjara namun juga pada para napiter yang masih menjalani hukuman, termasuk anak-anak dan isteri mereka agar setelah bebas, tidak lagi bergabung dengan kelompoknya. Bisa kembali hidup normal di tengah masyarakat Indonesia yang mencintai perdamaian.
    Setiap tiga bulan sekali, Yusuf mempunyai program mengunjungi teman-teman yang masih menjalani hukuman di sejumlah lapas di Indonesia secara bergantian. Termasuk, menyambangi para mantan napiter yang sudah kembali ke masyarakat. “Saat kami kunjungi ke lapas, mereka sangat senang, mentalnya yang sempat ngedrop kembali terangkat. Meskipun hanya bawa makanan cemilan ringan tapi pertemuan itu cukup berarti bagi mereka. Mereka ingin segera bisa bebas bisa berkumpul dengan anak dan istrinya. Untuk teman-teman yang sudah keluar, kami juga sambangi mereka. Bagaimana kondisinya, kalau perlu bantuan, kami bantu semampunya. Pelan-pelan kita ajak bergabung dengan kami. Kalau nggak sempat, minimal kami kontak lewat handphone,” ujar Yusuf dengan penuh energik.
    Untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, memang tak mudah, perlu pendekatan khusus dan kesabaran, apalagi karakter mereka juga berbeda. Namun, bila yang datang dan mendekati sesama mantan napiter, mereka lebih terbuka, bahkan tak tersinggung bila diajak guyonan. “Rata-rata teman-teman yang kami dampingi memang ada beban mental dengan keluarga, karena sewaktu mereka ditangkap ada anak dan istri yang harus diberi nafkah, sementara mereka dipenjara sehingga tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu menafkahi mereka, bahkan ada yang terpaksa mengembalikan istrinya ke mertuanya. Kami datangi mereka, kami kuatkan mentalnya dan kami ajak kembali hidup normal. Yang mau bikin usaha, kami carikan sponsor agar mereka mempunyai kesibukan baru dan tidak lagi tergoda kembali ke jaringanya,” terang dia.
    Yayasan Persadani telah bermitra dengan pihak kampus (perguruan tinggi), BNPT, FKPT Jawa Tengah, Kepolisian, Kemensos, Kemenlu serta pihak-pihak lain yang peduli terhadap persoalan terorisme di Tanah Air. Kerjasama itu telah diwujudkan dalam bentuk kegiatan atau program kerja sesuai kebijakan di lembaga masing-masing. Seperti kegiatan workshop, pelatihan usaha, seminar, bantuan modal usaha serta kegiatan lainnya, yang muaranya agar para mantan napiter itu tidak kembali ke jalan yang salah, menyadari dan bertekad untuk kembali hidup normal di masyarakat.
    Yusuf sendiri sudah beberapa kali diundang untuk memberikan testimoni dalam kegiatan yang diselenggarakan BNPT, pihak kepolisian, kampus dan lainnya. Bahkan, dia pernah diajak oleh Kemenlu untuk menyampaikan testimoni di depan para TKI di Hongkong, yang waktu itu ada yang terpapar.
    Menurut Yusuf, ancaman terorisme di Indonesia saat ini memang lebih banyak banyak pada kader-kader baru yang direkrut melalui media sosial (medsos) dibanding orang-orang lama yang ingin kembali ke jaringannya. “Jadi kalau generasi yang sekarang itu instant, militasi terhadap kelompoknya juga tak begitu kuat karena rata-rata mereka mendapatkan dokrin-doktrin ajaran dari medsos. Kalau orang-orang dulu, literaturnya kuat, mereka banyak membaca buku-buku yang diberikan kelompoknya, jadi meskipun jumlahnya tidak banyak tapi mempunyai kekuatannya lebih dahsyat. Meskipun begitu, keduanya tetap harus diwaspadai,” harap dia.
    Agar upaya mencegah dan menangkal terorisme yang dilakukan oleh pemerintah lebih optimal, terutama di wilayah Jawa Tengah, Yusuf berharap ada sinergitas antara para Duta Damai yang ada, baik yang dibentuk oleh BNPT maupun kampus. Bila perlu, mereka difasilitasi bertemu satu meja dengan para mantan napiter, yang sudah kembali ke jalan yang benar, termasuk yayasan yang dipimpinnya untuk merumuskan konsep bersama, berjalan bersama untuk mengubah imej Jawa Tengah yang dikenal sebagai sarang teroris menjadi Duta Damai. “Kalau selama ini kan jalan sendiri-sendiri. Kalau bisa dirumuskan menjadi kebijakan bersama, saya kira lebih baik karena mempunyai semangat bareng untuk mewujudkan Jateng menjadi Duta Damai,” imbuhnya.
    Niat baik belum tentu diterima dengan baik. Begitu pula yang dilakukan Yusuf dan teman-teman, tak semuanya bisa menerimanya, bahkan ada yang mencurigai kalau dirinya telah menjadi antek pemerintah, hidupnya sudah ditanggung pemerintah, dengan berbagai fasilitas yang mewah. Namun, semuanya ditanggapi dengan candaan sehingga tak membuat mereka tersinggung atau marah. Hal seperti itu, dianggap sebagai dinamika. Dalam kondisi seperti itu memang wajar karena masih banyak yang trauma, baik pada aparat maupun selama menjalani hukuman di penjara. Maka, ketika Yusuf menjenguk mereka di lapas, selalu diajak guyonan. “Ayolahlah cak, kenapa harus lama-lama di lapas, lebih baik pro aktif sama pemerintah, biar bisa secepatnya bebas, nanti saya jemput. Apa nggak kasihan pada anak-anakmu yang harus jalan kaki ke sekolah sejauh 10 km. Memang kalau kami yang menyampaikan, tak tersinggung karena sama-sama mantan teroris. Akhirnya dia diam dan merenung,” ungkap Yusuf, menceritakan pengalamannya saat menjenguk seorang tetangganya yang sedang menjalani hukuman.
    Pendekatan melalui anak dan istri, menurut Yusuf, paling aktif menggugah kesadaran teman-temannya kembali menjalani kehidupan normal bersama keluarga. Kalau mereka memang sulit diberitahu, maka diingatkan kalau anak dan istrinya, membutuhkan perhatianya. “Lihat anak-anakmu itu, mereka bersekolah milik pemerintah dan belajar mengaji di masjid yang selama ini kamu anggap haram. Ternyata apa yang kami sampaikan itu cukup mengena dan menjadikannya sadar, ” tuturnya.
    Tentu tidak semua mantan napiter bersedia diajak kembali hidup normal di bawah naungn NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Bahkan, ada yang tetap ingin kembali bergabung dengan jaringan lama karena ditawari posisi yang lebih baik. “Jadi sewaktu menjenguk guru saya yang ditahan di lapas karena terlibat aksi teror bom. Beliau justu mengajak saya kembali bergabung dan ditawari untuk memegang wilayah Banyumas dan Purwokerto dengan sejumlah anak buah. Tapi saya tolak, bahkan anak buahnya terus kontak tapi saya tolak,” terang Yusuf dengan nada serius.
    Saat ini, sudah ada 25 mantan teroris yang sudah bergabung dengan Yayasan Persadani. Diharapkan, jumlahnya akan bertambah karena pihaknya terus mengajak para mantan teroris di Jawa Tengah untuk bergabung untuk saling membantu dan menguatkan. “Kami terus kontak dengan teman-teman di Pantura, seperti di Tegal, Banyumas, Pekalongan, respon mereka positif, dan kami minta teman-teman memantau teman-teman yang belum bergabung agar tidak kembali lagi ke jaringan lama,” katanya.
    Yusuf yang pernah nyantri di Ponpes Gontor Jawa Timur itu bergabung dengan Kelompok Jamaah Islamiyah kemudian mengikuti pelatihan militer di Kamp Hudaibiyah, Filipina Selatan selama kurang lebih 2 tahun. Selama di kamp, dia belajar strategi tempur di hutan dan meracik bom. Bahkan, dia pernah memenangkam lomba meracik bom yang diadakan di kamp. Selain piawai meracik bom, pria yang berperawakan kecil dan agak kurus itu, juga ahli menggunakan senjata seperti AK-47 dan M-16.
    Saat kembali ke Tanah Air, Yusuf sempat pulang ke rumah di Surabaya, bertemu dengan orang tua dan saudaranya. Namun, dia merasa berdosa karena harus berbohong menyembunyikan kepergiannya ke Filipina selama 2 tahun.”Waktu ditanya orang tua, saya terpaksa berbohong, mengaku bekerja di Malaysia, mengumpulkan Ringgit. Mereka tanya, kok pulang nggak bawa Ringgit ? Mana Ringgitnya ? Saya terpaksa bohong lagi, Ringgitnya dirampas kedutaan karena dianggap ilegal,” ujarnya.
    Merasa tidak nyaman tinggal di Surabaya, Yusuf bergabung dengan kelompok Semarang. “Beberapal hari tinggal di Semarang, Bom Bali 1 meletus, saya lihat berita ternyata pelakunya Amrozi cs. Saya kira bom sudah habis. Kemudian sekitar bulan Juni, bom satu ton dikirim ke rumah kontrakan saya. Waktu itu, sebenarnya saya tahu tapi tak bisa mengelak karena yang mengirim para seniornya dari jaringan Afganistan,” sebutnya.
    Yusuf bersama 3 rekannya, kemudian ditangkap Densus 88 di rumah kontrakannya di Jalan Raman Sri Rezeki Selatan Semarang karena kedapatan menyimpan amunisi dan 26 bom rakitan yang diperkirakan daya ledaknya dua kali lipat dari bom Bali. Bahan peledak tersebut ternyata dari titipan dari tersangka bom JW Mario 2003 Musthofa alias Abu Tholut yang sudah lebih dulu ditangkap dan divonis 7 tahun penjaga. “Waktu saya ditangkap dan ditanya petugas, saya katakan memang benda yang dititipkan di rumah kontrakan itu bom, tapi bukan saya yang membeli. Jadi saya ditangkap karena kedapatan bom dan saya pun telah mempertanggungjawabkan di depan hukum,” ujarnya.
    Yusuf sendiri divonis 10 tahun penjara. Setelah berulangkali mendapatkan remisi, Yusuf dinyatakan bebas bersyarat pada 2009 dan dikenakam wajib lapor selama 2 tahun. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here