Jogo Tonggo di Desa Krandegan Tak Sekadar Slogan

    ANTAR MAKANAN. Satgas Jogo Tonggo di Desa Krandegan Kecamatan Bayan mengantarkan bantuan makanan kepada warga terdampak pandemi yang masuk dalam klaster merah,ANTAR MAKANAN. Satgas Jogo Tonggo di Desa Krandegan Kecamatan Bayan mengantarkan bantuan makanan kepada warga terdampak pandemi yang masuk dalam klaster merah,
    ANTAR MAKANAN. Satgas Jogo Tonggo di Desa Krandegan Kecamatan Bayan mengantarkan bantuan makanan kepada warga terdampak pandemi yang masuk dalam klaster merah,(ANTAR MAKANAN. Satgas Jogo Tonggo di Desa Krandegan Kecamatan Bayan mengantarkan bantuan makanan kepada warga terdampak pandemi yang masuk dalam klaster merah,( Eko Sutopo)

    MAGELANGEKSPRES.COM,Virus seram berjuluk Covid-19 yang muncul sejak awal tahun 2020 masih saja kerasan berkeliaran, menghantui masyarakat semua lapisan. Mengusirnya memang tak gampang, tapi harus dilawan. Cari cara jitu untuk bertahan. Agar korban tak berjatuhan, roda ekonomi tetap jalan, pendidikan tak stagnan, dan tatanan sosial aman. Seperti yang dilakukan Pemerintah Desa Krandegan Kecamatan Bayan.

    Matahari bergerak tepat di atas kepala, Rabu (4/11) siang. Purwanto (45) bergegas mendatangi dapur umum di samping belakang kantor desa. Dengan cekatan ia menata bungkusan berisi nasi, sayur, dan lauk-pauk hasil olahan tangan ibu-ibu PKK. Satu per satu dicangking lalu dimasukkan kerombong di sepeda motor matic yang siaga di tempat parkir kantor desa.

    Setelah jumlahnya komplit 55, segera ia tancap gas mengantarkan kepada warga penerima yang tersebar di berbagai RT. Rumah Mbah Amat Yatin (85) di RT 03 RW 01 menjadi tujuan pertama.

    “Assalamualaikum. Kula nuwun, Mbah. Monggo, daharan siangipun dinten niki (Silakan, makan siangnya hari ini),” ucap Purwanto sambil menyodorkan bungkusan kepada Amat Yatin yang sedang duduki di amben lawas di teras sederhana depan rumahnya.

    Bisikan terima kasih dan raut riang dari wajah keriput Mbah Yatin mengiringi pamitan Purwanto melanjutkan tugasnya.

    Itulah sekilas aktivitas menjelang jam makan siang di Desa Krandegan. Purwanto sebagi petugas logistik rutin mengantar bantuan makanan kepada warga setiap hari. Amat Yatin yang hanya tinggal bersama adiknya itu tidaklah sedang menjalani isolasi mandiri akibat terpapar Covid-19. Namun, pria renta yang sudah tak mampu bekerja itu memang masuk daftar penerima bantuan dari Satgas Jogo Tonggo Desa Krandegan.

    “Jadi warga kita bagi dalam 3 klaster, yakni hijau, kuning dan merah. Yang menerima bantuan seperti ini ada sekitar 55 orang dari klaster merah dengan berbagai latar belakang, seperti disabilitas, jompo, atau tunakarya yang memang secara ekonomi sudah sulit diberdayakan. Nah, yang klaster kuning kita berdayakan, seperti Pak Purwanto ini kita kasih insentif juga untuk rutin mengantar makanan,” kata Kepala Desa (Kades) Krandegan, Dwinanto SE (42).

    Desa Krandegan memiliki luas 161 hektar, terdiri atas 6 RW dan 13 RT dengan jumlah penduduk 2.956 jiwa. Keberadaannya cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Purworejo. Wilayah timur dan utara berbatasan dengan Desa Tanjungrejo Kecamatan Bayan, bagian barat dengan Desa Pringgowijayan Kecamatan Kutoarjo, dan sebelah selatan dengan Desa Pogung Kalangaan Kecamatan Bayan.

    Secara umum, kegiatan Jogo Tonggo terklasifikasi dalam 5 bidang, yakni Kesehatan, Ekonomi, Sosial dan Keamanan, Hiburan, serta Inovasi. Pemberian bantuan konsumsi diberi nama Dapur Umum dan masuk Bidang Ekonomi. Berasnya bersumber dari zakat dan infak petani, sedangkan sayur dan lauknya dari pengelolan zakat dan sedekah warga.

    Dapur Umum  melengkapi terobosan lain sejak awal pandemi, seperti Pasar Bergerak, Bantuan Cair Langsung (BCL), Padat Karya Tunai (PKT), Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat, Pembagian Bibit Sayuran, dan Pompanisasi Gratis bagi Petani.

    “Ini sudah lama jalan karena sehari pasca Pemkab menetapkan status Tanggap Darurat Covid-19 pada 28 Maret itu, kita langsung rapat dengan BPD, Karang Taruna, dan elemen masyarakat lain untuk membentuk tim dan merumuskan langkah penanganan. Waktu itu namanya tim penanganan Covid-19, setelah ada Program Jogo Tonggo dari Provinsi Jawa Tengah, langsung kita sesuaikan karena programnya ternyata sejalan,” ungkap Dwinanto.

    Pada Bidang Kesehatan ada 9 program, di antaranya Posko Siaga 24 jam, Penyediaan APD, Penyediaan Ruang Isolasi, Pendataan dan pengarahan bagi pendatang dan pemudik, Pembagian masker, tempat air, sabun cuci tangan gratis kepada warga. Kemudian Penyuluhan Kesehatan dan P3K dari Dinas Kesehatan kepada Kader Siaga Desa, Penyemprotan Disinfektan di lingkungan, rumah warga dan tempat umum, serta Penyediaan tempat cuci tangan.

    Program itu sangat berperan saat ada 2 warga terpapar Covd-19 pada pertengahan Juli lalu. Satgas bergerak cepat melakukan isolasi. Swab massal pun dilakukan.

    “Tidak ada kepanikan berlebih saat itu karena Satgas secara massif memberikan edukasi,” sambungnya.

    Kemudian untuk Bidang Sosial dan Keamanan juga ada 9 program. Mulai dari Posko Siaga 24 Jam beserta Petugas Piket Harian, Penugasan Linmas di Kecamatan, Pemasangan CCTV, Gardu Poskamling di tingkat RT maupun RW, hingga Pelayanan Administrasi dan keluhan masyarakat secara online. Lalu Meja Anti Lapar, Telu Nulung Siji (3N1), dan Baju untuk Si Kecil.

    “Untuk Bidang Hiburannya ada kesenian rebana yang ditayangkan secara streaming,” imbuhnya.

    Bidang ke-5, yakni Inovasi dan Kreativitas, paling menyedot perhatian banyak kalangan, termasuk media. Hingga saat ini masih aktif berjalan program Zakat dan Sedekah, Kerja sama dengan donatur dan swadaya warga, Penyebaran Himbauan dan Informasi lewat Website dan Aplikasi Berita Desa. Ada juga Kerja sama dengan UMKM, instansi dan Bumdes yang mengembangkan di bidang Informatika dan Digital.

    Wajar, jika Desa Krandegan dinobatkan jadi Juara 1 Kampung Siaga Candi kategori Bidang Inovasi dan Kreativitas Tingkat Polda Jawa Tengah 2020. Saat menjalani presentasi Lomba Krenova 2020 Tingkat Kabupaten Purworejo pada 7-8 September lalu, strategi penanganan pandemi Desa Krandegan mengagumkan para juri.

    Ketua Dewan Juri, Anggit Wahyu Nugroho SSi MAcc, menilai inovasi dan kreativitas yang dibuat untuk kemudahan Pemdes serta warga layak diterapkan dalam berbagai situasi kebencanaan atau penanganan masalah sosial lain. Sebut saja aplikasi Si Polgan yang memudahkan pengurusan administrasi, izin, informasi Dana Desa, dan laporan kejadian gawat darurat. Dengan itu, warga tak perlu mengantre di kantor desa. Dalam hitungan jam, semua urusan selesai.

    “Si Polgan ini bisa disesuaikan dengan nama Si Poldes dan nantinya bisa dipakai semua desa di Kabupaten Purworejo atau bahkan Jawa Tengah. Strategi penanganan sosial lain juga tidak hanya membantu warga saat pandemi, tapi bisa berlanjut,” kata Anggit kala itu.

    Dwinanto menyebut, Krandegan yang seluruh wilayahnya sudah terpasang Wifi gratis dengan total kecepatan total 250 Mbps memang sedang menuju Desa Digital. Karena itu, aplikasi terus dikembangkan. Yang terbaru yakni toko online bernama tokodesaku.id, pembayaran online Kamu Pay, dan ojek online NGOJOL.

    “Untuk toko desaku ini lebih ke sociopreneur. Jadi mewadahi UMKM, tapi tidak ambil keuntungan seperti marketplace lain. Sekarang sudah ada 44 mitra toko dari Krandegan dan sekitar. Lalu untuk Ngojol sudah jalan dan drivernya juga sudah banyak, pekan depan akan kita launching,” beber Dwinanto.

    Adanya aplikasi itu sedianya hanya untuk pemberdayaan masyarakat sekaligus pemulihan ekonomi warga akibat dampak pandemi. Namun, tak disangka, berbagai inovasi digital yang dikelola oleh Bumdes Karya Muda itu menarik perhatian desa-desa lain. Sedikitnya ada 20 desa di Purworejo telah memesan Si Polgan. Bahkan, pemesanan aplikasi NGOJOL datang dari sebuah perusahaan swasta asal Kabupaten Badung untuk dikembangkan di sebuah desa di Provinsi Bali.

    Pemdes Krandegan juga patut bersyukur karena beberapa hari lalu, dari 575 desa se-Indonesia, Kradegan dinyatakan lolos dalam seleksi Desa Brilian program kerja sama bumdes.id dan Bank BRI Pusat. Desa Brilian adalah desa yang tanggap, tangguh dan tetap melakukan inovasi selama pandemi. Kriterianya meliputi Keaktifan Bumdes, Digitalisasi Ekonomi Desa, Inovasi layanan publik atau peningkatan ekonomi, Kepemimpinan dan kekompakan warga, serta ketahanan dan keberlanjutan.

    “Alhamdulillah, pandemi ini justru memotivasi kami untuk memunculkan inovasi. Tawaran kerja sama atau pendampingan dari berbagai perguruan tinggi juga berdatangan,” pungkas Dwinanto.

    Aktualisasi Jogo Tonggo di desa berpenduduk mayoritas petani dan pedagang itu nyata tak sekadar slogan. Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar Pranowo SH MIP, telah melihatnya langsung pada Rabu (7/10). Secara mendadak, Ganjar berkunjung bersama Pjs Bupati Purworejo, Ir Yuni Astuti MA, Forkopimda, serta Forkopimcam. Sekitar satu jam, Ganjar menanyakan banyak hal. Khusus inovasi digital, apresiasi tinggi diberikan.

    “Ini salah satu terobosan yang luar biasa, sebuah desa mampu membuat beragam inovasi yang sangat menarik guna mendukung pemerintahan desa dan memenuhi kebutuhan warga. Bahkan, bisa membuka lapangan pekerjaan yang benar-benar baru,” terang Ganjar. ( Eko Sutopo)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here