Gerilya TMMD Mengakselerasi Pembangunan di Perbukitan Menoreh

    GERILYA. TNI dan warga saat bergerilya membangun jalan desa dalam program TMMD Reguler ke-109 di Desa Sedayu Kecamatan Loano. 
    GERILYA. TNI dan warga saat bergerilya membangun jalan desa dalam program TMMD Reguler ke-109 di Desa Sedayu Kecamatan Loano. 

    MAGELANGEKSPRES.COM,Kerja keras Kodim 0708/Purworejo bersama Polri, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-109 Tahun 2020, tak sia-sia. Pembangunan fisik dan nonfisik rampung 100 persen lebih cepat dari target. Hasilnya, TMMD ternyata tak hanya mampu membuka akses pariwisata dan ekonomi di Desa Sedayu Kecamatan Loano. Ada multiplier efek bagi masyarakat sekitarnya.

    Bagai gerilya menghadapi musuh yang tangguh. Itulah perumpamaan yang layak disematkan untuk pelaksanaan TMMD selama sebulan lalu, sejak 22 September hingga 21 Oktober 2020.

    Efrida Nofiyanto (30), Ketua Karang Taruna Tunas Muda Desa Sedayu, menjadi salah satu saksinya. Bagaimana TNI harus berjibaku atur siasat untuk menakhlukan berbagai tantangan saat menggarap jalan desa sepanjang 1.665 meter di wilayah Perbukitan Menoreh. Medannya terjal, banyak kemiringan curam. Di tambah lagi dalam kondisi pandemi Covid-19 yang penuh keterbatasan.

    Semangat prajurit sejak awal pun mengundang semua elemen masyarakat untuk terjun dan menyatu dengan Satgas TMMD. Bahkan, hampir tiap malam pemuda Karang Taruna kompak lembur membantu pengerjaan jalan. Mulai dari angkut material, perataan tanah, hingga pengecoran.

    “Sejak awal kita memang sangat semangat untuk membantu karena jalan ini kan seperti jantung desa kita, sangat vital,” katanya, Senin (26/10).

    Kini, sudah sepekan TMMD terealisasi. Jalan yang dulu sempit, berbatu-batu, licin dan rawan kecelakaan, berubah jadi mulus dan lebar.  Tak hanya Efrida dan warga Sedayu lain yang merasakan manfaatnya. Masyarakat luar daerah pun tak lagi was-was melintasi.

    Mobilitas makin nyaman karena renovasi jalan juga meminimalkan terjadinya bencana longsor di kanan-kirinya yang memang sebagian besar merupakan lereng dan jurang.

    “Dulu ngeri jalannya, orang luar kalau mau kesini pasti pikir-pikir. Apalagi kalau musim penghujan seperti ini, sering pengendara jatuh,” sebutnya.

    Renovasi jalan membuka akses langsung dari Desa Sedayu ke Glamping de Loano, salah satu destinasi super prioritas Kementerian Pariwisata yang dikelola Badan Otorita Borobudur (BOB).  Wisatawan yang sebelumnya hanya bisa masuk Glamping lewat Kecamatan Samigaluh Kulonprogo Jogjakarta, kini punya alternatif dari sisi barat Kabupaten Purworejo.

    Bagi Karang Taruna, itu jadi peluang baru untuk terlibat menjaring rupiah. Misalnya dengan menjadi pemandu wisata. Apalagi, ada Pasar Menoreh di gerbang Desa Sedayu.

    “Sekarang juga sudah terlibat di Pasar Menoreh untuk pengelolaan parkir dan mengisi tampilan di panggung kesenian. Dengan banyaknya peluang kerja di desa ini mudah-mudahan akan menjadikan para pemuda yang baru lulus sekolah tidak mudah ke luar kota untuk mencari pekerjaan,” ujar Efrida.

    Tuntasnya TMMD membuat Pemerintah Desa Sedayu sumringah. Mereka pun tancap gas memaksimalkan potensi. Target utamanya yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    “Kita sudah susun program-program, misalnya untuk pengembangan Pasar Menoreh yang kemarin sudah diaktivasi bersamaan program TMMD dengan bantuan sekitar Rp60 juta dari BOB,” kata Kades Sedayu, Ahmad Said SPd.

    Desa Sedayu berpenduduk 1.818 jiwa. Sebagian besar menggeluti sektor pertanian padi, peternakan kambing, dan perkebunan cengkih. Perbaikan jalan sangat memudahkan distribusi hasil panen.

    “Misalnya, warga yang sebelumnya menjual kambing dengan didatangi langsung tengkulak, akan lebih mudah memasarkan sendiri ke pasar Banyuasin. Petani pun gitu, bisa jual langsung komoditasnya sehingga harganya lebih tinggi,” sebutnya.

    Menurut Said, ada beberapa lembaga pendidikan di wilayahnya, seperti MA Riyadlul Muta’allimin, SD Sedayu, TK Hardi Siwi, dan 2 Pos PAUD. Akses jalan yang memadai juga sangat mendukung upaya peningkatan pendidikan.

    “Jadi memang dampak positif TMMD ini bisa dirasakan semua kalangan masyarakat. Sebelumnya kami tidak menyangka, mimpi mempunyai akses jalan bagus ini bisa terwujud, apalagi jadi selebar ini,” ungkapnya.

    Program TMMD di Desa Sedayu sukses memperbaiki jalan sepanjang 1.665 meter dengan lebar 4 meter dan ketebalan 12 Cm. Alokasi dananya bersumber dari TNI, APBD provinsi, kabupaten, ditambah dengan swadaya masyarakat yang sebagian besar diwujudkan material.

    Selain itu, ada beberapa proyek fisik lain, seperti renovasi 1 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Siskamling, dan pembuatan tempat wudhu Masjid Tiban. Sementara untuk kegiatan nonfisiknya antara lain penyuluhan yang melibatkan berbagi dinas/OPD di Kabupaten Purworejo. Mulai dari bidang kepemudaan, pendidikan, ekonomi, Kamtibmas, hingga kesehatan.

    “Ada beberapa CSR juga. misalnya untuk pemberian santunan, perlengkapan ibadah, serta sembako. Sejak awak awal hingga akhir tercatat ada sekitar 200 paket bantuan sembako,” kata kata Letkol Inf Lukman Hakim, Dandim 0708/Purworejo selaku Dansatgas TMMD.

    Pihaknya berharap, segala hasil pembangunan atau pengembangan sarana dan prasarana fisik yang telah dicapai, dapat dimanfaatkan serta dipelihara dengan baik oleh untuk kepentingan rakyat banyak.

    “Kesuksesan TMMD ini bukan hanya milik TNI, tapi semua pihak yang telah bekerja sama, berpartisipasi, dan memberikan dukungan, khususnya masyarakat Desa Sedayu,” tegasnya.

    Secara simbolis, hasil TMMD telah diserahkan oleh Dandim kepada Pemerintah Kabupaten yang diwakili Pjs Bupati Purworejo, Ir Yuni Astuti MA, di Pendopo Kabupaten pada Rabu (21/10). Dalam kesempatan itu, Yuni Astuti menegaskan penyampaian Dandim bahwa fokus utama dari TMMD adalah ketahanan negara serta kemanunggalan TNI dan rakyat.

    “Untuk selanjutnya, tugas dari pemerintah daerah adalah memanfaatkan dan memelihara apa yang sudah dihasilkan dari TMMD ini,” ungkap Yuni.

    Sejal awal hingga akhir TMMD, apresiasi bermunculan karena dapat terealisasi di tengah pandemi dengan aman. Salah satunya dari Asisten Personel (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Mayjen TNI Mulyo Aji MA, saat mengunjungi lokasi TMMD pada pertengahan Oktober lalu.

    Menurutnya, TMMD Reguler ke-109 dilaksanakan 47 lokasi seluruh Indonesia dengan mengedepankan protokol kesehatan. Khusus di Desa Sedayu, pihaknya meyakini hasil TMMD akan mengakselerasi pembangunan, menggeliatkan ekonomi, dan memunculkan multiplier efek. Tidak hanya di Desa Sedayu, melainkan juga sekitarnya.

    “Kita melihat multliplier efeknya banyak. Antara lain komunikasi orang atas (wilayah atas,red) dengan bawah lebih bagus. Secara ekonomi ini jelas mendukung,” terangnya.

    Efek positif itu antara lain menambah semangat dan harapan para perajin batik ciprat di Desa Banyuasin Kembaran yang merupakan tetangga Desa Sedayu.

    Darminah (58), pengelola Batik Ciprat Disabilitas Intelektual Restu Ibu (DIRI), mengaku senang dengan terbangunnya akses menuju Glamping.

    “Dengan dibukanya akses menuju Glamping oleh TNI, kami berharap wisatawan banyak yang melintas dari jalur arah Purworejo dan bisa mampir membeli hasil produksi kami,” ujar Darminah. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here