Keterbatasan Lahan Bukan Hambatan untuk Produktif, Perum Pepabri Kelurahan Borokulon Digarap Jadi Kampung Cantik

    PETIK SAYURAN. Sejumlah pengunjung memetik sayuran segar di Kampung Cantik Bhineka Kelurahan Borokulon,
    PETIK SAYURAN. Sejumlah pengunjung memetik sayuran segar di Kampung Cantik Bhineka Kelurahan Borokulon,

    MAGELANGEKSPRES.COM,Permukiman sempit dengan lahan terbatas tidak selalu jadi alasan untuk produktif berbudidaya tanaman serta kreatif menciptakan suasana asri nan nyaman. Hal itu setidaknya dibuktikan oleh warga di kompleks Perumahan Pepabri RW 5 Kelurahan Borokulon Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo. Di kompleks itu, keterbatasan lahan justru digarap jadi potensi ekonomi dan wisata berjuluk Kampung Cantik Bhineka.

    Memasuki gerbang Perum Pepabri, mata seketika terasa segar. Ruas-ruas jalan, dinding pagar, serta lorong gang dicat warna-warni dengan sentuhan seni mural.

    Sepanjang kompleks, rumah-rumah warga dihiasi sayur-mayur dan buah-buahan. Sebagian besar tertata rapi dengan polybag di emperan. Sebagian lain tertanam di pekarangan sempit di sudut atau belakang rumah.

    Wajar saja, jika beberapa hari terakhir tampilannya yang cantik dan asri itu viral di dunia maya hingga menyedot perhatian warga desa sekitar. Beberapa mereka yang penasaran berdatangan naik sepeda untuk sekadar melihat, foto-foto, atau berburu aneka sayur dan buah segar.

    “Ini saya pas gowes, lihat kompleks perumahan ini kok beda, lalu mampir. Rupanya ada aneka sayuran segar dan buah jambu yang bisa petik sendiri. Nggak nyangka ya karena dulu waktu jalan-jalan di sini nggak seindah ini, masih kumuh, selokan-selokan juga banyak sampahnya. Sekarang Subhanallah, cantik sekali,” kata Yani Agus, warga Kampung Tuksongo Kecamatan Purworejo usai mengelilingi Perum Pepabri bersama sejumlah ibu-ibu dari Kecamatan Kaligesing, Minggu (25/10) pagi.

    Wilayah RW 5 terdiri atas 7 RT dengan jumlah penduduk sekitar 281 kepala keluarga (KK). Upaya menciptakan suasana asri telah berlangung cukup lama dan mulai intens sejak 8 bulan terakhir.

    Antusias warga menguat saat kompleks RW 5 dipercaya maju mewakili Kecamatan Banyuurip dalam Lomba Kampung Cantik Tahun 2020 Tingkat Kabupaten Purworejo, belum lama ini. Wilayah RW 5 yang memiliki inovasi penanganan Covid-19 juga ditunjuk jadi salah satu peserta Lomba Jogo Tonggo Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

    “Pekan kemarin kita sudah dinilai dalam Lomba Kampung Cantik. Harapannya karena sudah diajukan lomba ya ingin juara 1 sehingga warga lebih termotivasi untuk mengembangkan lagi dan menjadi jujugan wisatawan, minimal lokal Purworejo,” sebut Tri Budiyono SPd, Ketua RW 5.

    Ada 3 kawasan Kampung Cantik di sana, yakni 2 kawasan rintisan, 2 kawasan percobaan, dan 3 kawasan percontohan. Potensi unggulan yang telah digarap antara lain tanaman organik dan anorganik, budidaya ikan, serta bank sampah.

    Pelaksanaan program Kampung Cantik dikoordinatori oleh kepala RT dan didukung kaum ibu yang tergabung dalam PKK, Dasawisma, serta Kelompok Wanita Tani (KWT).

    “Antuasias warga luar biasa. Pembuatan Kampung Cantik ini menggunakan swadaya orang pribadi dan kas masing-masing RT. Tiap ketua RT jadi penggerak dan kami beri kewenangan terkait penggalian dana,” jelasnya.

    Menurut Ketua KWT Anggrek Asri, Choirunnisa, keterbatasan lahan tidak menjadi hambatan untuk produktif. KWT melalui kader-kadernya telah banyak memberi edukasi dan pendampingan sehingga hampir seluruh KK mampu memanfaatkan sudut pekarangan. Upaya itu pun kini berbuah manis dengan adanya efisiensi ekonomi, seperti belanja sayur-mayur yang makin hemat.

    “Kita benar-benar memanfaatkan lahan yang secuil untuk budidaya aneka sayuran, buah, atau tanaman obat keluarga. Dan ini sangat bermanfaat, khususnya saat pandemi seperti ini. Contohnya sayuran untuk yang jaga posko Covid kemarin dari kebun sendiri,” imbuhnya.

    Diungkapkan, kesadaran dan warga sinergitas menjadi kunci mewujudkan Kampung Cantik. Apalagi, di RW 5 telah berjalan sejumlah sistem pengelolaan lingkungan, antara lain Bank Sampah, pengolahan limbah plastik jadi produk kerajinan, kelompok pembudidaya ikan, dan kelompok pemasaran ikan.

    “Kita maksimalkan Balai RW untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan ekonomi. Bank Sampah di samping balai sampai sekarang juga masih aktif,” ungkapnya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here