Layang-layang Bawa Berkah di Masa Pandemi

RAMAI. Lomba layang-layang ramai peminat. 
RAMAI. Lomba layang-layang ramai peminat. 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Layang-layang saat ini bukan hanya menjadi mainan anak-anak saja, namun bisa dijadikan sebagai ajang perlombaan yang diikuti oleh orang dewasa. Bahkan layang-layang juga dijadikan media untuk bernostalgia.

“Kami sengaja mengelar lomba layang-layang, pesertanya tidak terbatas umurnya,” kata Ketua Panitia Kompetisi Layangan, Muhammad Danang, kemarin.

Ia menuturkan, layang-layang ini bukan menjadi mainan yang asing bagi kaum adam. Mulai dari anak-anak sampai dengan dewasa. Pada lomba ini sebanyak 256 layangan atau layang-layang bertarung di langit Temanggung, dalam kompetisi yang digelar di Desa Kerokan Kecamatan Tlogomulyo.

“Karena masih berada di masa pandemi Covid-19, maka kegiatan dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan,” ujarnya.

Kompetisi ini untuk kembali menghidupkan permainan tradisional yang dalam beberapa tahun terakhir sempat tenggelam lantaran digerus maraknya gadget. Selain itu, untuk mengisi waktu terutama bagi anak-anak yang saat ini belum melakukan pembelajaran tatap muka.

“Ini untuk memasyarakatkan kembali layang-layang, mengisi waktu di kala pandemi ini. Tapi pelaksanaannya tetap menerapkan protokol kesehatan karena setiap peserta berjarak sehingga tidak ada sentuhan,” ujarnya.

Baca Juga
Terjaring Razia Masker, Warga Dua Kecamatan Kena Sanksi Sosial

Panitia lain, Yayan Aditya Wijaya, menuturkan khusus untuk kompetisi kali ini diwajibkan menggunakan layangan khas Temanggung, yang berbentuk “teongan” atau disebut non shukoi. Hal ini untuk memasyarakatkan kembali layangan khas lereng Sumbing, serta untuk memberi ruang bagi perajin layang-layang lokal di kala pandemi, setidaknya bisa membantu perekonomian rakyat.

“Karena korona ini kan banyak yang nganggur, hasil pertanian kurang laku. Maka untuk hiburan kita gelar lomba layangan dan maraknya layang-layang ini mendatangkan berkah di kala korona, karena di desa kami banyak perajin layang-layang. Lumayan untuk bertahan hidup sekaligus menghibur hati, para perajin senang karena ada yang per hari bisa menjual sampai 50 layangang di mana harga satuannya Rp2.000,” katanya.

Freni Arma (20) didampingi Mifta (21) menuturkan, lomba ini digagas oleh pemuda Desa Kerokan. Untuk peserta tidak hanya dari Temanggung tapi ada yang datang dari Semarang, Boyolali, dan Wonosobo. Untuk pertandingan menggunakan sistem gugur, dan berlangsung selama tiga hari untuk kemudian masuk babak final. Dalam kompetisi ini diambil juara 1, 2, 3, dan 4.

Agus (35) salah satu peserta lomba menuturkan, sengaja mengikuti karena memang dari kecil hobi layang-layang. Dia meyakini bermain layang-layang aman karena jaga jarak antar satu pemain dengan yang lainnya.

“Menang atau kalah tidak menjadi tujuan saya, yang penting bisa nostalgia dan bisa senang-senang saja,” tuturnya. (set)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here