Kuasa Hukum Supriyanto Tepis Tudingan PMH

KLARIFIKASI. Kuasa hukum Supriyanto yang juga tergugat 2, Tjahjono, memberikan klarifikasi terkait tudingan perbuatan melawan hukum di kantornya,

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO- Warga Senepo Seleman Timur RT 002 RW 002 Kelurahan Kutoarjo Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo, Mad Jadid, mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH), terhadap Supriyanto dan kuasa hukumnya, Tjahjono SH dan Agus Iman Santoso SH. Gugatan tersebut menjadi buntut atas keberadaan bangunan rumah yang sampai saat ini masih dipersengketakan.

Pengajuan gugatan dilakukan oleh Mad Jadid di kantor Pengadilan Negeri Purworejo, pada Kamis (10/9) lalu. Dalam gugatannya, Mad Jadid menyatakan tidak terima atas pembongkaran paksa sebuah bangunan tanpa putusan pengadilan pada 7 Oktober 2017 dan 9 Oktober 2017 lalu.

Menanggapi gugatan dan tudingan telah melakukan PMH, Tjahjono SH, angkat bicara dan memberikan bantahan, Senin (14/9).  Kepada sejumlah awak media, Tjahjono memberikan klarifikasi terkait pernyataan pemberitaan dalam beberapa media online pada Jumat (11/9) kemarin yang menyebutkan telah terjadi pembongkaran paksa secara biadab, ada jeritan tangis dan sebagainya pada objek sengketa di Senepo Seleman Timur RT 002 RW 002, Kelurahan Kutarjo.

Menurutnya, tidak ada pembongkaran paksa.

Baca Juga
Terjaring Razia Masker, Warga Dua Kecamatan Kena Sanksi Sosial

“Sebelum pembongkaran kami sudah memberikan somasi pada yang menguasai tanah dan bangunan tersebut, Mad Jadid. Mohon segera dikosongkan karena rumah itu segera akan direnovasi. Namun hingga hari H tidak dikosongkan,” kata Tjahjono di kantornya,

Disebutkan, pembongkaran saat itu disaksikan anggota Koramil, Polsek, dan pihak kecamatan Kutoarjo. Para petugas yang ada di lokasi sifatnya pengamanan, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

“Dan selama pembongakaran tidak ada masalah,” sebutnya.

Tjahjono mengungkapkan bahwa tak ada istilah pembongkaran paksa secara biadab. Apalagi jeritan tangis anak kecil, dengan disaksikan para aparat. Sebaliknya, saat pembongkaran berlangsung sebagian, datang Sumakmun yang minta waktu sehari untuk pindah. Namun, hingga sehari kemudian, tak ada pergerakan apa-apa. Akhirnya, Senin diselesaikan pembongkaran.

“Sebulan kemudian, Mad Jadid mengajukan gugatan terkait kepemilikan hak. Sampai ke kasasi, sebagai tergugat kami menyampaikan rekonvensi, yang akhirnya dikabulkan. Hakim menyatakan rumah sengketa itu hak atas klien saya (Supriyanto). Hakim juga menghukum penggugat untuk mengosongkan tanah dan bangunannya. Sampai saat ini kami sedang berproses mengajukan eksekusi ke PN Purworejo,” ungkapnya.

Tjahjono melanjutkan, pada Kamis (10/9 kemarin, Sumakmun mengajukan gugatan tentang perbuatan melawan hukum yang dilakukannya. Menurut Tjahjono, antara gugatan yang sudah sampai tahap eksekusi dengan gugatan Sumakmun, berbeda.

“Yang digugat perbuatan melawan hukumnya, bukan objek sengketa. Eksekusi mudah-mudahan berjalan lancar,” lanjutnya.

Menurut Tjahjono, dalam hal ini, kliennya tak ada hubungan langsung secara hukum dengan Mad Jadid. Karena Supriyanto membeli tanah dan bangunan dari Agus Li si pemenang lelang. Saat itu, sertifikat dan rumah milik Mad Jadid dilelang oleh bank dan dimenangkan Agus Li. Lalu Agus Li sudah memproses untuk eksekusinya.

“Sempat ada perdamaian antara Agus Li dengan Mad Jadid. Namun, ternyata tidak ada realisasi. Akhirnya Agus Li menjual tanah dan bangunan tersebut kepada Supriyanto. Saya juga bingung, yang digugat itu siapa, karena klien saya beli dari Agus Li bukan Mad Jadid. Dan klien saya memiliki bukti kepemilikan tanah dan bangunan tersebut,” tandasnya. (top)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here