Ada PSBB Corona Kian Menggila

PESANAN MAKIN RAMAI: Seorang pria menyelesaikan pesanan peti mati di samping pemakaman Pondok Kelapa di Jakarta pada 13 September 2020. Pesanan peti mati terus meningkat di tengah pandemi COVID-19 karena peti kayu diperlukan untuk menguburkan korban COVID-19.
PESANAN MAKIN RAMAI: Seorang pria menyelesaikan pesanan peti mati di samping pemakaman Pondok Kelapa di Jakarta pada 13 September 2020. Pesanan peti mati terus meningkat di tengah pandemi COVID-19 karena peti kayu diperlukan untuk menguburkan korban COVID-19.

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Indonesia melaporkan 3.507 kasus baru Covid-19. Sehingga total kasus seluruhnya mencapai 225.030 orang hingga Selasa (15/9). Kementerian Kesehatan mencatat kasus sembuh bertambah 2.660 orang, sedangkan kasus meninggal bertambah 124 orang dalam 24 jam terakhir.

Total kasus sembuh menjadi 161.065 orang dan kasus meninggal berjumlah 8.965 orang. Indonesia saat ini menangani 55 ribu kasus aktif dan 99.634 orang berstatus sebagai suspect. Sebanyak 42.636 sampel spesimen dari 22 ribu orang diperiksa dalam 24 jam terakhir, yang merupakan rekor pemeriksaan harian tertinggi sejauh ini.

Dan Jakarta di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), jumlahnya semakin tinggi yakni 1.076 orang, kemudian Jawa Timur melaporkan 378 orang, Jawa Barat melaporkan 347 orang, dan Sumatra Utara melaporkan 249 orang. Sementara itu, kasus kematian tertinggi dalam 24 jam terakhir dilaporkan oleh Jakarta (32 kasus) dan Jawa Timur (32 kasus).

PSBB diberlakukan setelah perkantoran diklaim sebagai biang keladi wabah Virus Corona yang tumbuh subur di DKI Jakarta. Sayangnya usaha ritel terutama restoran paling terimbas kebijakan PSBB. Sementara perkantoran masih juga longgar.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menyatakan, PSBB tahap pertama yang dilakukan di berbagai daerah menjadi pukulan berat bagi para pelaku retail. Ia memperkirakan, terdapat 5-6% anggota Aprindo yang tutup dan belum bisa kembali buka hingga kini. ”Jadi belum recovery, tetapi mulai membaik. Kalau sekarang masih 9%, tetapi sudah ada pertumbuhan,” terangnya, kemarin

Sementara Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono menambahkan, PSBB yang kini diperketat akan kembali menurunkan angka kunjungan masyarakat yang sudah meningkat tersebut. ”Dinamika kunjungan akan sangat bergantung dengan kebijakan PSBB. Pemberlakuan PSBB akan cenderung menurunkan angka kunjungan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (15/9).

Berkaca dari apa yang dipaparkan Roy dan Yudo, dalam riset tim Mandiri Institute dengan metode live menyebutkan, dari tracking dari 5.968 lokasi toko dan 7.531 restoran di 8 kota besar nampak jelas perbedaannya.

Periode pelacakan berlangsung dari minggu pertama bulan Juli hingga Agustus 2020. Per Agustus 2020, tingkat kunjungan ke tempat belanja sudah mencapai 57%. Data menunjukkan bahwa angka kunjungan tertinggi retail pada Agustus lalu adalah ke shopping mall (61%) diikuti oleh supermarket (56%), dan toko lainnya (55%).

Kunjungan ke mal naik cukup tinggi dari sebelumnya 44% pada Juli 2020. ”Adanya pekerja yang bekerja dari kantor berkontribusi pada kenaikan angka kunjungan ke shopping mall. Selain itu, keinginan konsumen untuk mencari hiburan juga membantu kenaikan angka kunjungan ke shopping mall,” tulis tim Mandiri Institute dalam laporan risetnya.

Dalam survei Mandiri Institute itu juga disebutkan, tingkat kunjungan pusat belanja tertinggi selama Agustus 2020 berada di kota Makassar (66%), Denpasar (59%), dan Jakarta (57%) Ketiganya berada di atas rata-rata kota besar di Indonesia, meskipun angkanya terpaut tipis dengan Bekasi (56%), Surabaya dan Medan (55%), dan Tangerang (53%).

Kunjungan di pusat perbelanjaan itu rupanya diikuti oleh meningkatnya tingkat makan di tempat (dine-in) restoran. Pada Agustus 2020, rerata dine in restoran telah mencapai 52,3%. Dalam riset ini, peneliti membagi dua kategori besar berdasarkan jenis restoran.

Pertama, adalah general restaurant yang merupakan restoran yang menawarkan menu makanan beragam dan banyak menarik konsumen, terutama masyarakat kelas menengah-bawah. Kedua, ada Specialty restaurant yang menjual makanan seperti Japanese food, steakhouse, dan western food.

Umumnya memiliki menu yang spesifik dan menargetkan sebagian masyarakat, terutama menengah atas. Dari kategori di atas, data menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah bawah tampaknya sudah mulai berani untuk makan di tempat, terlihat dari angka dine-in pada restoran General, Local dan Fast Food yang di atas 50%.

Sementara masyarakat kelas menengah atas sepertinya masih ragu-ragu untuk dine-in di restoran. Ini terlihat dari angka kunjungan restoran Specialty yang masih di bawah 50%. Ketua DPD Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat menyatakan, bisnisnya terdampak. ”Dengan tidak diijinkannya dine in untuk makan di tempat tentunya akan bisa mempengaruhi traffic yang sudah dicapai saat ini, apalagi perkantoran juga dibatasi,” pungkasnya. (fin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here