Nasib Pembelajaran Daring di Sekolah Pinggiran, Terkendala Sinyal, Monitoring Guru Menjadi Pengganti

    MONITORING. Sulistyowati, SPd, guru kelas 2 SD Negeri Beseran, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang sedang mengajari 3 anak didiknya yang dikumpulkan di rumah salah satu orang tua siswa.
    MONITORING. Sulistyowati, SPd, guru kelas 2 SD Negeri Beseran, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang sedang mengajari 3 anak didiknya yang dikumpulkan di rumah salah satu orang tua siswa.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Pembelajaran secara daring yang terpaksa dilaksanakan selama Pandemi Covid-19 tak menyurutkan tekad anak-anak sekolah pinggiran di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Hanya saja keterbatasan sarana  prasarana serta kemampuan SDM orang tua siswa menjadikan pembalajaran online tidak bisa berjalan secara optimal. Untuk menyiasatinya, seluruh sekolah dasar (SD), khususnya di daerah pinggiran, seperti di Kecamatan Kaliangkrik melakukan terobosan, yakni memadukan pembelajaran online dengan monitoring atau kunjungan guru ke rumah anak didik. Cara tersebut ternyata cukup efektif mengatasi kendala pembelajaran online yang diberlakukan sejak Maret 2020.

    PAGI itu, Febrian, Amalia dan Kirania sudah berkumpul di rumah orang tua Amalia, di Dusun Bandisan, Desa Balekerto, Kecamatan Kaliangkrik. Ketiganya adalah siswa kelas 2 SD Negeri Beseran, Kaliangkrik, yang sedang menunggu Sulistyowati, SPd, guru kelas 2 yang hari itu dijadwalkan memonitoring kegiatan belajar mereka. Tak berapa lama, guru yang ditunggu pun tiba. Dia berjalan kaki dari sekolah yang jaraknya sekitar 300 meter. Setelah menanyakan kabar anak didiknya, ia pun mengawali pembelajaran dengan berdoa bersama.

    Hari itu merupakan kunjungan yang kedua di rumah tersebut. Dalam pertemuan tatap muka yang kedua tersebut, ia memberikan pelajaran tematik, yakni mengenalkan tokoh pandawa dalam dunia pewayangan. Anak-anak terlihat bersemangat menyimak penjelasan sang guru. Usai penyampaian materi pelajaran dilanjutkan dengan mengerjakan tugas di LKS yang dibawa. Pelajaran hari itu diakhiri dengan pemberian tugas yang wajib dikirim melalui Whatsapp (WA).

    Meski sudah bisa melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas, anak-anak tetap merasa lebih nyaman belajar di sekolah. Mereka berharap bisa segera masuk sekolah dan belajar bersama teman-teman seperti biasa. “Lebih enak belajar di sekolah, temannya banyak, bisa bermain-main dengan mereka,” ungkap Febrian polos.

    Hal tersebut juga diakui oleh Sulistyowati, selama mendampingi siswa belajar, baik anak didik maupun orang tuanya selalu menanyakan kapan sekolah masuk lagi. “Mereka sebenarnya sudah tak sabar lagi, terutama para orang tua tapi karena belum mendapat izin, sementara masih seperti ini,” katanya.

    Hari itu, Sulistyowati mempunyai jadwal kunjungan di dua tempat. Usai mendampingi tiga siswanya belajar di rumah orang tua Amalia, ia melanjutkan monitoring di tempat yang lain. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh para guru kelas yang lain maupun guru mata pelajaran.

    Kepala SD Negeri Beseran, Makruf Sodikin, SPd MMPd menjelaskan setiap guru mempunyai kewajiban  melakukan monitoring pembelajaran di dua tempat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Untuk memudahkan monitoring, siswa yang berdekatan dikumpulkan di satu tempat, yang mudah terjangkau, seperti rumah warga, musala atau masjid. Jadwal monitoring mulai pukul 8.00 WIB, khusus Jumat pukul 7.30 WIB. Setiap monitoring maksimal 2 jam. Sebelumnya, guru wajib datang ke sekolah untuk melakukan presensi, baru kemudian melakukan monitoring sesuai jadwal masing-masing. “Kalau ada siswa yang memang rumahnya jauh dan tidak bisa dikumpulkan dengan yang lain, guru tetap wajib mengunjunginya. Jarak terjauh rumah siswa dengan sekolah hanya sekitar 2 km. Ketentuannya, seminggu sekali siswa harus dapat kunjungan dari guru kelas maupun mapel,” ujarnya.

    Model pembelajaran dengan monitoring, yakni guru mengunjungi anak didiknya tersebut menjadi salah satu solusi mengingat tidak semuanya bisa mengikuti pembelajaran secara online. Tidak semua orang tua siswa mempunyai HP android yang bisa digunakan untuk pembelajaran. Jaringan internet atau sinyal handphone yang buruk juga menjadi persoalan serius. Tidak semua wilayah Kaliangkrik yang berada di lereng Gunung Sumbing bisa menangkap  jaringan internet atau sinyal handphone dengan baik. “Selain itu, ada beberapa orang tua yang mengaku tidak bisa membantu pembelajaran online karena mereka hanya lulusan SD,” ujarnya.

    Pembelajaran secara daring juga merepotkan orang tua siswa, terutama ibu-ibu. Setiap kali bertemu dengan para guru, mereka selalu mengeluhkan hal itu. “Pada waktu saya menghadirkan orang tua siswa kelas 1 sampai 6 secara bergiliran, terutama ibu-ibu mengluh karena tiap hari harus mendampingi anak-anaknya mengerjakan tugas. Ironisnya, ada sejumlah orang tua yang memang tidak membantu anaknya karena SD saja tak lulus,” ungkapnya.

    Untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan, semua siswa mempunyai kewajiban mengisi daftar presensi secara online melalui link yang telah disiapkan menggunakan google form. “Presensi bisa dilakukan pagi, siang, sore atau malam, menyesuaikan kondisi masing-masing, yang penting hari itu harus mengisi presensi sekaligus menjelaskan kegiatan yang dilakukan hari itu. Bagi yang terkendala sinyal atau paketan habis bisa meminjam handpone untuk mengisi presensi,” jelasnya.

    Menurut Makruf, Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang sudah mengusulkan kegiatan pembelajaran tatap muka di kelas dengan skala terbatas kepada Bupati Magelang. Sebab, anak-anak sudah merasa jenuh belajar di rumah. Selain itu, banyak orang tua yang meminta agar anak-anak bisa kembali masuk sekolah seperti biasa, karena merasa kerepotan dengan pembelajaran daring selama ini. “Namun hingga saat ini belum ada jawaban dari Bupati, mengingat wilayah Kabupaten Magelang masih zona merah. Dalam beberapa hari terakhir ini, angka positif Covid-19 cenderung naik.” (joko suroso)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here