Totalitas Pemdes Krandegan Majukan Pendidikan Bersinergi Kejar Merdeka Belajar, Berbagai Terobosan Diluncurkan

     KERJAKAN TUGAS. Sejumlah anak mengerjakan tugas sekolah di taman Kantor Desa Krandegan yang dilengkapi fasilitas internet gratis,
     KERJAKAN TUGAS. Sejumlah anak mengerjakan tugas sekolah di taman Kantor Desa Krandegan yang dilengkapi fasilitas internet gratis,

    MAGELANGEKSPRES.COM,Kemajuan pendidikan tidak hanya terbatas pada wilayah perkotaan yang sarat dengan sarana dan prasarana, termasuk akses teknologi informasi di era digital. Wilayah perdesaan pun dapat merasakan. Berbekal sinergitas antara pemerintah desa (Pemdes), masyarakat, serta lembaga pendidikan setempat, peningkatan sumber daya manusia (SDM) dapat terwujud. Seperti yang dilakukan Pemdes Krandegan Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah.

    Ada suasana berbeda saat Purworejo Ekspres memasuki kawasan Kantor Desa Krandegan, Kamis (27/8) pagi. Sejumlah anak memakai masker dan face shield duduk di taman depan sambil mengerjakan tugas dengan gadget di genggamannya.

    Di ruang bagian depan, tidak hanya para perangkat desa yang sibuk dengan aktivitas kerjanya. Dua anak tampak konsentrasi mengoperasikan komputer yang terhubung dengan mesin pencetak multifungsi. Keduanya bernama Daffa Izzuddin (14), siswa kelas 3 SMP Baitul Quran Kabupaten Sragen dan  Nurfida Rahila Afra (12), siswa kelas 6 SDIT Ulul Albab 2 Desa Krandegan.

    “Saya sedang browsing materi sekalian nge-print tugas sekolah. Karena di sini disediakan fasilitas komputer, internet, dan printer gratis,” kata Nurfida.

    Tak berbeda dengan Nurfida, Daffa juga sama. Bahkan, sejak awal masa pendemi Covid-19 sudah berkali-kali ia memanfaatkan fasilitas di kantor desa untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Baginya, akses internet cepat sangat penting.

    “Saya kan mondok di Sragen, jadi selama pandemi ini belajarnya daring terus. Ada fasilitas di desa sangat membantu, apalagi jaringannya cepat,” ujar Daffa.

    Layanan internet desa tidak hanya menolong anak, tetapi juga meringankan orang tua. Terlebih, dalam situasi pandemi yang memaksa anak belajar di rumah dan mengirimkan tugas secara daring.

    “Kemarin malam-malam anak saya yang masih TK ada tugas foto keluarga dan harus dikumpulkan besok paginya, padahal di rumah ga punya komputer dan printer. Alhamdulillah saya ke kantor desa sekitar pukul 20-an ada perangkat desa yang ngeprintkan,” ucap Tri Haryanti (27), warga setempat.

    Pemandangan seperti itu memang belum lama mewarnai kantor desa. Pemdes baru meluncurkan layanan komputer dan printer gratis sejak adanya pandemi beberapa bulan terakhir. Namun, sederetan inovasi dan layanan bidang pendidikan lain telah ada sejak lama di desa yang jadi pilot project Kampung Tangguh Nusantara Candi Provinsi Jawa Tengah tersebut.

    “Kantor desa buka jam 8 pagi sampai 10 malam dan ada perangkat yang jaga. Ini memang belum lama, tapi untuk layanan internet desa kita sudah mulai sejak 2015,” ungkap Kades Krandegan, Dwinanto SE (42).

    Desa Krandegan cukup jauh dari pusat kota Purworejo. Wilayah timur dan utara berbatasan dengan Desa Tanjungrejo Kecamatan Bayan, wilayah barat dengan Desa Pringgowijayan Kecamatan Kutoarjo, dan wilayah selatan dengan Desa Pogung Kalangaan Kecamatan Bayan.

    Ada 6 RW dan 13 RT di Desa Krandegan. Pada awal peluncuran tahun 2015, hanya ada beberapa titik pancar wifi dan saat ini berkembang menjadi 8 titik. Pemdes menargetkan bulan depan semua RT terjangkau.

    “Selain internet gratis dengan bandwith 200 Mbps, di kantor desa juga kami sediakan fasilitas taman yang nyaman, kamar mandi bersih, dan dapur jadi mereka bisa mengambil air minum,” sebutnya.

    Totalitas memajukan pendidikan memang sudah dimulai Dwinanto sejak periode pertamanya menjabat Kades. Hal itu mengingat banyaknya lembaga pendidikan di wilayahnya. Mulai dari KB, TK, SD N Krandegan, SD Nurul Wahid, SMPN 35, SMP Ulul Albab, hingga MA Nurul Wahid.

    Berbekal sinergitas dengan masyarakat, badan usaha, donatur, dan lembaga pendidikan setempat, Pemdes memberikan perhatian penuh dengan menggelontorkan anggaran yang cukup lumayan dari dana desa (DD).

    “Untuk pendidikan kami alokasikan lebih dari 20 persen dari total DD sekitar Rp750 juta tahun ini,” sambungnya.

    Alokasi itu bukan hanya untuk program internet desa. Banyak program lain, seperti pembangunan gedung PAUD, honor guru PAUD, pemberdayaan masyarakat, dan bantuan peralatan sekolah bagi siswa kurang mampu. Siswa berprestasi tingkat kecamatan atau di atasnya, diberi hadiah sepeda. Pada awal pendemi, Pemdes juga memfasilitasi para guru pelatihan e-learning serta pembuatan website sebagai wadah materi pembelajaran.

    “Kami memprogramkan tahun depan ada wahana edukasi berupa Kampung Dolanan Bocah. Sudah disiapkan dan disetujui pihak-pihak terkait,” ungkapnya.

    Dwinanto mengaku memang belum sepenuhnya paham konsep Merdeka Belajar yang digaungkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru-baru ini. Namun, setidaknya apa yang dilakukan sejalan dan akan mendukung konsep itu. Tidak hanya bagi  warga sekolah, melainkan juga masyarakat secara umum.

    Pihaknya pun terus menyelaraskan program bidang lain untuk mengejar terwujudnya pendidikan maju. Belum lama ini, toko online desa diluncurkan demi membantu pemasaran UMKM lokal sekaligus mengedukasi pentingnya teknologi.

    “Mayoritas warga adalah petani dan pedagang. Kami ingin masyarakat merdeka belajar dan memaksimalkan potensi desa dengan majunya pendidikan,” tandasnya.

    Terobosan Pemdes Krandegan banyak menuai apresiasi. Belum lama ini, seorang Guru Besar UNS datang ke Krandegan untuk memberikan motivasi.

    Lestari SPd SD, Guru Kelas 5 SDN Krandegan, menilai totalitas Pemdes sangat membantu proses pendidikan, baik bagi siswa maupun guru.

    “Apalagi selama pandemi ini. Sekarang pun meski sudah mulai ada kegiatan tatap muka terbatas atau konsultasi terprogram, para guru dan siswa masih merasakan manfaatnya,” terangnya.

    Apresiasi juga datang dari Kepala SMPN 35 Purworejo, Betty Indah Daluliyah SPd MPd.  Menurutnya, kemajuan lembaga pendidikan sangat butuh sinergitas dengan orang tua, masyarakat, serta lingkungan sekitar.

    “Hari ini kami koordinasi dengan Pemdes untuk rencana MoU terkait pemanfaatan TIK. Kebetulan Pak Dwinanto penasihat komite. Kami ingin bersinergi dengan desa dan masyarakat karena sekolah tidak bisa jalan sendiri,” katanya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here