Grebeg Notoyudan Digelar dengan Protokol Kesehatan Covid-19

    KIRAB BUDAYA. Warga Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo melakukan kirab budaya dengan berkeliling desa setempat,
    KIRAB BUDAYA. Warga Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo melakukan kirab budaya dengan berkeliling desa setempat,

    MAGELANGEKSPRES.COM,Harapan masyarakat Desa Legokasri Kecamatan Tlogomulyo untuk menggelar tradisi di bulan besar (dalam kalender jawa) akhirnya terkabul. Hanya saja pelaksanaan tradisi yang sering disebut dengan Grebeg Notoyudan ini harus dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.

    Pagi itu udara cukup dingin, termometer menunjukan angka 18 derajat celcius. Masyarakat di lereng Gunung Sumbing ini sudah mulai sibuk menyiapkan segala kebutuhan untuk menggelar tradisi yang sudah turun menurun sejak nenek buyutnya itu.

    Udara yang dingin menusuk tulang sepertinya sudah tidak menjadi penghalang bagi masyarakat yang tinggal di ketinggian kurang lebih 1.200 Mdpl ini. Dengan penuh semangat masyarakat bergotong royong dan bahu membahu mempertahankan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun ini.

    Matahari mulai meninggi, cuaca sudah mulai semakin hangat, segala kebutuhan untuk tradisi yang sudah dianggap sakral ini dipersiapkan di satu titik. Ada dua gunungan besar akan akan diarak dalam kirab budaya sebelum tradisi ini dilaksanakan di mata air yang berada di lereng Gunung Sumbing itu.

    “Ada dua gunungan, yang satu gunungan darat melambangkan hasil bumi dan satunya gunungan rombong melambangkan alam semesta,” terang Sutopo, salah satu tokoh masyarakat desa setempat, Minggu (2/8).

    Tidak hanya gunungan saja yang diarak dalam kirab budaya tersebut, sejumlah tumpeng, ingkung dan jajanan pasar, serta arak-arakan kesenian dari desa setempat pun ikut andil dalam tradisi.

    Setelah melakukan kirab budaya keliling desa, kemudian sesampainya di mata air yang berada di atas desa, para tokoh agama dan desa setempat kemudian melakukan doa bersama untuk meminta keselamatan dan keberkahan menjelang panen raya tembakau 2020 ini.

    “Tidak hanya untuk masyarakat desa kami saja, namun untuk semua masyarakat di Temanggung, Jawa Tengah dan Indonesia, semoga wabah corona ini segera berakhir,” harapnya.

    Ia menuturkan, gelaran tradisi ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini tradisi digelar dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Masyarakat yang terlibat dalam tradisi ini sebelumnya menjalani pengecekan kesehatan.

    Selain itu pihaknya juga membentuk tim gugus tugas pencegahan Covid-19 sebelum tradisi ini dilaksanakan. Dengan dibantu anggota Linmas, tim gugus tugas ini melaksanakan tenggungjawabnya melakukan penjagaan dengan mengecek suhu tubuh kepada masyarakat yang akan mengikuti tradisi ini.

    “Tempat cuci tangan, handsanitizer juga kami sediakan di setiap titik, masuk dan ikut dalam tradisi ini wajib memakai masker,” tegasnya.

    Sementara itu Mbah Gajul salah satu sesepuh desa setempat menuturkan, meskipun dengan protokol yang ketat namun tradisi Grebeg Notoyudan atau nyadran kali (mata air) ini tetap berlangsung dengan khidmat.

    “Alhamdulillah semua masyarakat bisa menaati semua aturan yang diberlakukan, sehingga tradisi ini bisa berjalan dengan baik, masyarakat juga tetap menjaga jarak saat ikut dalam grebeg ini,” terangnya.

    Ia berharap, ke depan kondisi ini bisa semakin membaik, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Apalagi saat ini petani tembakau sudah mulai memasuki panen raya.

    “Semoga saja cuacanya mendukung, kualitas tembakau menjadi baik dan pabrikan bisa membeli tembakau dari petani dengan harga yang sangat wajar,” harapnya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here